Survei terbaru Indikator Politik terkait Pemilihan Presiden (pilpres) 2024 menunjukkan belum ada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) yang menembus angka elektabilitas di atas 50%.
Survei terhadap 1.217 responden yang dipilih secara acak menyimpulkan elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran unggul sebesar 46,7 persen, diikuti pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud Md 24,5 persen, kemudian pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 21 persen. Sementara 7,8 persen responden tidak menjawab.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Buharnuddin Muhtadi menjelaskan sejumlah penyebab yang membentuk hasil survei tersebut. Ia mengatakan tingginya elektabilitas Ganjar berhasil ditelikung Prabowo usai batalnya penyelenggaraan Piala Dunia U-20 di Indonesia. Sedangkan Anies, meski elektabilitasnya sempat mendekati Ganjar namun trennya cenderung menurun.
"Sepanjang tahun 2022, bahkan sampai awal 2023, Pak Prabowo kedodoran elektabilitasnya. Baru Pak Prabowo menyalip Mas Ganjar pasca-insiden Piala U-20 yang gagal. Mas Ganjar awalnya peringkat pertama terus, tetapi trennya turun. Mas Anies sempat mendekati Mas Ganjar di pertengahan tahun lalu, tetapi trennya menurun," kata Burhan dalam rilis yang disampaikan secara daring di Jakarta, Selasa (26/12/2023).
Burhan menambahkan dengan margin of error sebesar 2,9 persen, belum bisa dipastikan siapa di antara Ganjar dan Anies yang akan berhadapan dengan Prabowo-Gibran pada putaran kedua.
"Saya ingatkan lagi, ada 2,9 persen margin of error kami. Jadi, kami tidak tahu siapa yang unggul antara pasangan Ganjar atau Anies," tambahnya.
Skenario Head to Head
Survei juga mensimulasikan potensi head to head ketiga pasangan capres-cawapres. Burhan mengatakan apabila Anies-Muhaimin lolos ke putaran kedua mereka akan kalah dengan elektabilitas 27,7 persen melawan Prabowo-Gibran yang meraih elektabilitas sebesar 58,9%.
Begitu pula apabila Anies-Muhaimin berhadapan dengan Ganjar-Mahfud di putaran kedua mereka kalah dengan elektabilitas 38,5 persen melawan 43 persen.
Sedangkan jika yang lolos putaran kedua pasangan Prabowo-Gibran melawan Ganjar-Mahfud, maka Prabowo Gibran menang dengan elektabilitas sebesar 58,2% sementara Ganjar-Mahfud merengkuh elektabilitas sebesar 28,4%.
"Ini simulasi head to head secara umum Pak Prabowo unggul melawan Anies. Bagaimana kalau Pak Prabowo tidak lolos putaran kedua, yang lolos putaran kedua Anies versus Ganjar selisihnya tipis. Ganjar-Mahfud sedikit unggul tapi tidak signifikan secara statistik," terang Burhan.
Faktor Debat
Burhan mengatakan ajang debat capres-cawapres juga menjadi penilaian responden survei. Dia membeberkan sekitar 42,3 persen responden menyaksikan debat pertama, di mana 32,6 persen di antaranya menilai Prabowo menjadi capres dengan program kerja paling bagus.
Hanya saja, kata Burhan, 35,5 persen responden menilai justru Anies adalah capres yang tampil paling baik dalam debat pertama capres Pemilu 2024 pada tanggal 12 Desember 2023 lalu.
"Data menunjukkan bahwa Mas Anies dianggap pemenang debat, Pak Prabowo penampilan kurang bagus di debat capres tanggal 12 Desember, Mas Ganjar average (rata-rata). Sementara cawapres, Mas Gibran dianggap bagus sekali, Cak Imin underperform, dan Pak Mahfud average," ucap dia.
Kemudian, 38,3 persen dari responden yang menyaksikan debat pertama capres Pemilu 2024 menilai Anies paling bagus dalam menyampaikan pendapat maupun gagasan saat menanggapi pertanyaan panelis dan capres lain.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan hasil survei terkait debat kedua cawapres Pemilu 2024 pada Jumat (22/12).
Dalam survei yang sama, dari sekitar 35,9 persen yang menyaksikan debat cawapres, 56,2 persen di antaranya menilai Gibran tampil paling baik selama debat cawapres berlangsung.
Sementara itu, sebanyak 42,9 persen juga mengakui Gibran sebagai cawapres yang paling bagus program kerjanya; sementara 45,8 persen menilai ia tampil paling bagus saat menyampaikan pendapat atau gagasannya.
"Mungkin karena ekspektasi pada Gibran sebelum debat itu terlalu rendah, ya. Jadi, ini kayak the beauty of being underdog. Kalau orang diposisikan sebagai underdog itu enak; karena kalau jelek, orang akan bilang wajar, jelek, anak ingusan; tetapi kalau bagus sedikit, langsung dianggap bagus," ujar Burhan.
