Martha Panggabean, istri dari hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Mangapul, meluapkan kemarahan dan kesedihannya terhadap keputusan suaminya yang memvonis bebas Ronald Tannur.
Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat Selasa 7 Januari 2024, Marta menyatakan bahwa keputusan tersebut berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan keluarganya. Sejak Desember 2024, suaminya tidak lagi menerima gaji, yang merupakan sumber utama pendapatan untuk keluarga dan tiga anaknya yang masih kuliah.
"Tidak ada lagi (terima gaji). Sejak Desember tidak pernah lagi dapat gaji sampai sekarang. Padahal anak saya ada tiga mahasiswa. Ini yang bikin saya sedih dan satu lagi di swasta juga yang bungsu," ujar Marta.
Dia merasa terpukul ketika dua kali memeriksa saldo rekening banknya dan mendapati angka nol. Air mata bercucuran saat ia mengungkapkan.
“Saya sampai marah sama bapak, ‘Gara-gara kau jadi begini’.” Meski marah, ada rasa kasihan yang mendalam dalam hatinya, merenungkan kenapa mereka harus melalui situasi ini.
Permohonan Ringan dari Marta
Dalam sidang lanjutannya, Marta secara resmi menyampaikan permintaan kepada majelis hakim agar suaminya diberikan hukuman yang ringan.
"Tolong bapak berikan vonis yang seringan-ringannya untuk suami saya," pintanya dengan penuh harapan.
Ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang dampak jangka panjang bagi anak-anak mereka, yang saat ini masih menempuh pendidikan tinggi.
Marta menceritakan bahwa mereka memiliki empat anak, tiga di antaranya sedang kuliah, sementara anak bungsunya baru berusia 13 tahun. Dalam keadaan sulit ini, ia merasakan beban berat untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Ia berharap agar situasi ini tidak akan merusak masa depan anak-anaknya yang sedang berjuang di pendidikan.
Marta menceritakan pengalaman pahitnya saat pergi ke ATM untuk menarik uang. Setiap kali memeriksa, saldo yang tertera selalu nol. Kesedihan dan keputusasaan meliputi diri ketika ia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu keluarganya.
Dalam kondisi ini, Marta mengaku terpaksa meminta bantuan dari kakak dan kakak iparnya. Loading menyeimbangkan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk uang kuliah untuk anak-anak.
Untuk bertahan hidup, ia bahkan rela menjual perhiasan.
“Karena sekarang untuk membayar uang kuliah juga anak-anak,” ungkapnya.
Puncak Penyesalan di Tengah Keterpurukan
Di tengah semua permasalahan yang mereka hadapi, penemuan uang tunai dalam jumlah besar yang diduga merupakan suap sangat mempengaruhi emosi Marta.
Suaminya, Mangapul, menangis dan mengaku khilaf saat menerima uang sebesar 36.000 dollar Singapura, dan menegaskan bahwa ia tidak ingin uang itu karena tidak merasa berhak. Hal ini menjadi bagian dari kesalahannya yang harus mereka tanggung bersama sebagai keluarga.
Marta juga menjelaskan bahwa kuasa hukum dan berbagai dakwaan menghimpit mereka, menambah beban moral dan finansial keluarga. Meski begitu, ia tetap berharap dan berdoa untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Permohonan untuk diberikan hukuman ringan menjadi harapan tersisa atas perjuangan yang telah dihadapi. Kesedihan dan kecemasan yang melandanya tidak menyurutkan tekadnya untuk membantu suami dan anak-anaknya menjalani masa sulit ini.
