Film The Bell: Panggilan untuk Mati mengambil latar budaya lokal Belitung dengan menghadirkan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah lonceng keramat. Lonceng ini dipercaya sebagai penghalang atau segel yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan roh jahat. Tradisi menjaga lonceng ini diwariskan turun-temurun oleh keturunan dukun, yang meyakini bahwa lonceng tersebut mampu mengurung makhluk gaib berbahaya.
Salah satu mitos utama yang diangkat adalah tentang Penebok Ati, sosok makhluk mistis berkepala buntung yang telah menjadi cerita turun-temurun di kalangan masyarakat Belitung. Penebok Ati dikenal dengan citra menyeramkan, berupa hantu tanpa kepala yang mengenakan gaun merah dan memiliki sifat haus akan tumbal nyawa. Legenda Penebok Ati berfungsi sebagai peringatan agar anak-anak tidak bermain jauh dari rumah, sekaligus simbol kekuatan adat dan tradisi yang masih hidup.
Kisah dalam film ini merupakan perpaduan antara folklore lokal dengan elemen horor modern. Pengemasannya mengusung suasana gelap dan penuh ketegangan yang dibangun perlahan, menciptakan rasa takut melalui atmosfer dan teror psikologis, bukan sekadar jump scare yang berlebihan.
Alur Cerita dan Konflik Utama
Cerita dimulai ketika sekelompok anak muda nekat mencuri lonceng keramat demi membuat konten viral. Tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap adat yang selama ini menjaga segel antara dunia manusia dan dunia gaib. Akibat pencurian tersebut, Penebok yang telah terkurung selama ratusan tahun akhirnya bangkit kembali dan mulai meneror warga desa dengan serangan berdarah yang mengincar tumbal kepala korban.
Teror yang dibawa Penebok tak hanya menciptakan suasana ketakutan namun juga membuka tabir rahasia lama yang selama ini disembunyikan masyarakat. Danto, tokoh utama yang diperankan Bhisma Mulia, dipaksa kembali ke kampung halamannya setelah lama meninggalkannya. Bersama Airin (Ratu Sofya), mereka berusaha memahami legenda dan ritual yang masih terjaga untuk menghentikan teror tersebut.
Dalam perjuangan melawan Penebok, Danto dan Airin menemukan aturan adat kuno yang menjadi kunci untuk menangkal kekuatan jahat. Konflik ini memperlihatkan benturan antara dunia modern dan tradisi lama di tengah lingkungan Pulau Belitung yang berkembang, menggambarkan bagaimana kepercayaan mistis masih kuat berdampingan dengan kehidupan sehari-hari.
Kru Produksi dan Pemain
Film ini dibintangi oleh Bhisma Mulia sebagai Danto, pria yang kembali ke kampung halamannya untuk menghadapi teror supranatural. Ratu Sofya memerankan Airin, rekan yang turut berjuang melawan kekuatan jahat. Peran mereka didukung oleh aktor lainnya seperti Mathias Muchus yang berperan sebagai Datuk Baharun, figur tokoh adat, serta Givina Lukita sebagai Saidah dan Shalom Razade sebagai Isabela.
Sutradara Jay Sukmo memimpin proses produksi dengan visi menghadirkan horor yang membaurkan cerita mistis lokal dengan nuansa suspense yang intens. Naskah ditulis oleh Priesnanda Dwi Satria, yang ini merupakan proyek debutnya di genre horor, berhasil mengangkat folklore menjadi cerita yang menarik dan relevan.
Keberhasilan film juga ditunjang oleh tim produksi dari Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions, yang berkolaborasi untuk melahirkan karya horor dengan memperhatikan aspek budaya dan estetika yang tepat.
Rencana Rilis dan Eksposur Internasional
The Bell: Panggilan untuk Mati dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Film ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru dalam perfilman horor Indonesia dengan mengangkat kisah lokal yang unik dan menegangkan.
Selain rencana distribusi dalam negeri, film ini juga akan memperluas jangkauannya dengan mengikuti Cannes Film Market pada 12-20 Mei 2026. Partisipasi dalam ajang internasional tersebut dimaksudkan untuk membuka peluang pemasaran secara global dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui genre horor.
Baca Juga:Sinopsis Drama Korea Born Guilty, Adaptasi Webtoon tentang Kisah Kriminal Aksi Noir Tahun 1980-an
