PSSI pada akhirnya memutuskan untuk memecat Shin Tae-yong dari kursi pelatih timnas Indonesia. Sebagai gantinya, Patrick Kluivert dipilih jadi pengganti. Bagaimana profil kepelatihan mantan pemain top Belanda itu?
Keputusan untuk memecat Shin Tae-yong disampaikan oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir pada Senin (6/1/2025) siang.
Menurut mantan presiden Inter Milan tersebut, hubungan pelatih dengan para pemain jadi bagian dari evaluasi yang dilakukan PSSI.
"Kita melihat perlunya ada pimpinan yang bisa lebih menerapkan strategi yang tentu disepakati oleh para pemian, komunikasi yang baik dan implementasi yang lebih baik," katanya.
Pasca pemecatan Shin Tae-yong diumumkan, nama pencetak gol kemenangan Ajax di final Liga Champions 1995, Patrick Kluivert, mengemuka jadi pengganti.
Munculnya nama Kluivert lalu menimbulkan pro-kontra. Sebagai pemain, rekam jejaknya mentereng, namun tak sedikit yang meragukan keahliannya dalam melatih. Berikut jejak karier kepelatihan Kluivert yang tak secemerlang perjalanannya sebagai pemain bola.
Karier sepak bola Patrick Kluivert
Patrick Kluivert memulai perjalanan sepak bolanya di akademi Ajax Amsterdam sejak usia tujuh tahun. Debutnya sebagai pemain profesional terjadi pada 21 Agustus 1994, saat ia baru berusia 18 tahun.
Selama waktu di Ajax, Kluivert menunjukkan bakatnya dengan mencetak 39 gol dalam 70 penampilan.
Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya sebagai pemain adalah ketika ia berhasil mencetak gol kemenangan di final Liga Champions UEFA 1995, menjadikannya sebagai pemain termuda yang melakukannya dalam sejarah turnamen tersebut.
Setelah masa singkat di AC Milan, Kluivert pindah ke Barcelona pada tahun 1998. Di sini, ia menemukan kesuksesan yang lebih besar dan mendapatkan perhatian dunia.
Selama enam tahun bermain di Camp Nou, ia mencetak 124 gol dalam 249 pertandingan dan membantu tim meraih berbagai gelar, termasuk La Liga.
Kluivert dikenal sebagai salah satu pemain kunci yang menopang kekuatan Barcelona pada masanya.
Di tingkat internasional, Kluivert juga berkontribusi besar bagi Timnas Belanda.
Ia mencatatkan 79 penampilan dan mencetak 40 gol dari tahun 1994 hingga 2004. Ia menjadi pencetak gol terbanyak di Euro 2000, meski Belanda tidak berhasil meraih gelar juara.
Prestasi Kluivert di timnas menambah bobot reputasinya sebagai salah satu penyerang terhebat dalam sejarah sepak bola Belanda.
Karier awal kepelatihan Kluivert
Setelah pensiun dari sepak bola pada tahun 2008, Kluivert segera memasuki dunia kepelatihan.
Pekerjaan pertamanya adalah sebagai pelatih penyerang di AZ Alkmaar pada tahun 2009.
Di sini, ia memulai proses pembelajaran dalam melatih dan mengelola pemain, sebuah transisi yang menjadi dasar bagi karier kepelatihannya selanjutnya.
Patrick Kluivert kemudian diberi kesempatan untuk bergabung dengan tim nasional Belanda sebagai asisten pelatih di bawah arahan Louis van Gaal. Peran baru Kluivert dalam timnas Belanda ini dimulai pada 2012.
Kluivert jadi asisten Louis van Gaal selama dua tahun hingga 2014. Namanya masih tercatat sebagai asisten Louis van Gaal ketika timnas Belanda berhasil mencapai peringkat ketiga Piala Dunia 2014.
Timbul tenggelam karier Kluivert di dunia kepelatihan
Keberhasilan Belanda mencapai peringkat ketiga Piala Dunia 2014 kemudian membuka kesempatan untuk Kluivert.
Pada 2015, Kluivert ditunjuk menjadi pelatih kepala Timnas Curacao dan menandai karier Kluivert jadi pelatih utama suatu tim sepak bola.
Di bawah kepemimpinannya, Curacao berhasil lolos ke berbagai turnamen regional, termasuk Piala Karibia.
Kebersamaan Kluivert dengan timnas Curacao tersebut hanya berlangsung satu tahun, yakni hanya sampai 2016.
Setelah mengakhiri kontraknya dengan Curacao, Kluivert kemudian kembali ke Eropa, namun bukan untuk jadi pelatih kepala, melainkan pelatih usia muda ketika menukangi Ajax U-19, hingga direktur olahraga usia muda untuk PSG dan Barcelona.
Kluivert kemudian ditarik Clerence Seedorf untuk menjadi asistennya ketika melatih Kamerun. Namun duet mantan pemain top ini di timnas Kamerun berakhir usai hasil mencewakan dalam Piala Afrika 2019.
Sempat kembali ke Curacao jadi pelatih sementara menggantikan Guus Hiddink yang terpapar Covid-19, Kluivert kembali mendapat kesempatan jadi pelatih kepala ketika diminta melatih klub Turki, Adana Demirspor, pada 2023.
Akan tetapi, usia karier Kluivert di Demirspor hanya seumur jagung. Belum setengah musim menangani klub tersebut, Kluivert dipecat pasca tren buruk beruntun jelang tengah musim.
