Hari Tua dan Kemerdekaan Buya

oleh Najwa Shihab, Pendiri Narasi

Karena latar belakang akademiknya bukan ilmu-ilmu keagamaan, Buya Syafi'i Ma'arif sering kali disangsikan kapasitasnya sebagai ulama. Pandangan dan pendiriannya dalam berbagai isu mutakhir membuat kesangsian atas keulamaan Buya Syafi'i tidak semata diimbuhi dengan kritik melainkan bahkan cacian.     

Ia memang seorang guru besar ilmu sejarah, sebuah cabang "ilmu sekuler", dan bukan -- misalnya-- tafsir Quran dan hadist atau fiqh. Namun, percayalah, bukan karena latar belakang akademiknya itu yang membuat kadar keulamaannya diragukan. 

Berkaca dari pengalaman yang dialami ayah saya, Abi Quraish Shihab, yang tak jarang menerima fitnah dan makian, hal itu bukan disebabkan latar belakang akademik atau kapasitas intelektual, tapi lebih disebabkan karena pandangan dan/atau pendirian yang berbeda, baik dalam isu aktual maupun topik yang lebih mendasar terkait keyakinan. Abi Quraish menghabiskan semua jenjang pendidikan, juga seluruh karier akademiknya di kemudian hari hingga pensiun, di bidang ilmu tafsir al-Quran. Portofolio akademik seperti itu, juga rekam jejak keilmuwan berupa ratusan artikel dan puluhan buku di bidang ilmu tafsir Qur'an, termasuk berjilid-jilid Tafsir al-Misbah, tetap tak membuat ayah saya kebal dari serangan dan fitnah.

Buya dan Abi berbagi pengalaman yang mirip selama Pilkada DKI Jakarta 2017. Pandangan Buya Syafi'i yang menganggap "Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tidak mengatakan al-Maidah itu bohong" dan pandangan atau tafsir Abi terkait kata "awliya" yang menjadi kata kunci Surat al-Maidah ayat 51 menjadi pemantik serangan personal berupa cercaan dan fitnah.

Kendati berbagi pengalaman yang mirip selama selama Pilkada DKI 2017, namun Buya memang lebih lincah dalam merespons perkembangan sosial politik tanah air. Jika pandangan-pandangan Abi yang menjadi obyek perdebatan kebanyakan muncul secara timeless, karena umumnya dipantik oleh kajian atas ayat-ayat suci al-Qur'an (pendapat Abi soal Al-Maidah ayat 51 sudah dikemukakan jauh-jauh hari, bertahun-tahun sebelum Pilkada DKI 2017), dan bukan karena ada peristiwa-peristiwa aktual tertentu, maka Buya memang lebih "trendi": mengikuti dengan cermat apa yang terjadi di tanah air, dan muncul secara berkala mengomentari sesuatu yang dianggapnya penting, genting atau mendesak. 

Bukan sekali dua Buya Syafi'i yang tadinya seperti hilang dari peredaran selama beberapa pekan tiba-tiba muncul dengan tajam, keras dan jelas dalam pendirian/sikap -- seperti yang bisa kita saksikan dari kemunculannya tiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang diganggu oleh kekuatan besar. Ia bisa mengutarakan komentar dan pendiriannya melalui kolom-kolom di surat kabar, misalnya Republika atau Kompas, namun bisa juga secara lisan melalui layar televisi, mimbar pengajian mau pun pernyataan melalui media sosial yang diamplifikasi oleh orang-orang terdekatnya. 

Dan, umumnya, pernyataan-pernyataan Buya selalu berhasil menarik perhatian khalayak, juga memantik diskusi dan perdebatan. Penyebabnya bukan karena ia selalu mengutarakan pernyataan-pernyataan yang kontroversial melainkan karena ia selalu terjun ke dalam topik-topik penting dengan sikap/pendirian yang lugas, jelas, dan terang benderang. Karena jelas dalam pendirian dan sikap itulah maka Buya Syafii mudah dimasukkan ke sisi yang mana dalam sebuah perdebatan, sehingga jelas pula dengan siapa saja ia berhadap-hadapan secara diametral.

Dalam soal relasi agama dan negara, khususnya Islam dan Indonesia, Buya hampir pasti selalu berseberangan dengan kelompok-kelompok puritan. Karier akademiknya sebagai pengajar sejarah, yang juga tercermin dari disertasinya tentang perdebatan dasar negara di Konstituante, membuatnya sangat berhati-hati dengan klaim-klaim keilahian yang dibawa ke dalam kehidupan politik yang sekular dan kadang jorok. Ilmu sejarah yang ia pelajari membuatnya mengerti betapa ide-ide, seagung dan semulia apa pun itu, mesti beradaptasi atau disesuaikan [kadang menyimpang] dengan kenyataan yang kompleks. Ia tidak menampik hal-hal transendental, karena ia adalah seorang muslim yang saleh lagi taat; yang ia tampik adalah sikap-sikap dogmatis dalam beragama yang bisa membahayakan kehidupan multikultural, apalagi jika hal itu dipraktikkan ke dalam ranah politik.

Dalam soal pemberantasan korupsi, sejak Cicak vs Buaya jilid 1 hingga revisi UU KPK, Buya hampir selalu bersikap membela KPK, sehingga nyaris pasti pula ia berhadapan/mengkritik pemerintah yang sedang berkuasa. Pengetahuannya yang luas terhadap sejarah Indonesia modern, termasuk hayat dan karya para pendiri bangsa dan tokoh-tokoh politik di awal lahirnya republik, membuat Buya khatam di luar kepala betapa masa depan Indonesia membutuhkan para pemimpin yang menghayati sikap asketik (zuhud) sebagai antitesis dari prilaku korupsi. Hatta, Natsir, Roem, hingga Tan Malaka adalah sekian nama yang fasih ia ceritakan kepada siapa pun ihwal Indonesia yang lahir dari para empu dalam seni berpikir dan para sahaja dalam seni gaya hidup. 

Aspek pertama menahbiskan Buya sebagai "idola" bagi kelompok moderat [yang dalam lanskap politik mutakhir cenderung pro-pemerintah], namun sikap kedua kadang membuatnya jadi berseberangan dengan kelompok moderat yang menjadi pendukung pemerintah. Di tengah iklim polarisasi politik yang gila-gilaan, sikap yang kedua -- atau bersikap kritis kepada pemerintah pada satu isu spesifik, misalnya saat menyurati Presiden Jokowi terkait tingginya kematian dokter di masa pandemi -- akhirnya membuat Buya juga merasakan pengalaman unik: oleh pendukung pemerintah dianggap sedang cari perhatian atau bahkan tidak paham masalah yang sedang dihadapi pemerintah, oleh anti pemerintah dituding "telat insyaf".

Pengalaman terakhir ini, dihujat oleh pendukung mau pun penentang pemerintah, memperlihatkan membabibutanya dukungan politik dalam budaya politik Indonesia mutakhir. Seorang pendukung A, misalnya, seperti haram untuk bersikap kritis kepada tokoh atau kelompok yang didukungnya. Sikap kritis sama-sama dianggap oleh semua kelompok sebagai inkonsistensi yang tercela. Jangan heran jika sekarang selembar foto yang memperlihatkan sosok X bertemu dengan sosok Y, padahal keduanya dikenal berseberangan secara politik, sangat mudah digoreng dan dibingkai sebagai bukti adanya transaksi politik.

Politik menjelma pertarungan jalanan yang tidak lagi mengandung keadaban, sarat dengan prasangka yang mematikan dan sama sekali tidak memuat kehangatan. Yang tampak seperti menang-menangan-hingga-akhir, namun itu sebenarnya hanya tampak di permukaannya saja -- persisnya hanya di level akar rumput belaka. Pada level elit, gelanggang politik yang sekilas tampak seperti duel sangat sengit itu sejatinya hanya kamuflase dari politik transaksional yang dengan gampang dan cepat bisa mengubah lawan menjadi kawan dan kawan menjadi lawan. 

Sebagai sejarawan, dan kerap mengampu mata kuliah Sejarah Indonesia Kontemporer, Buya Syafi'i sebenarnya tidak asing dengan pertarungan politik yang sengit. Disertasinya yang termasyhur, "Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante", kaya dengan rincian yang memperlihatkan jalan buntu kesengitan pertarungan ideologis itu. Bersama disertasinya Adnan Buyung Nasution, "Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante, 1956-1959", disertasi Buya Syafii itu menjadi salah satu dari dokumen akademik terbaik tentang pergumulan ideologis luar biasa sengit yang pernah terjadi dalam sejarah politik kita.            

Yang tidak dialami Buya Syafii hari ini adalah bagaimana (1) pertarungan politik yang sengit itu tidak menghilangkan sama sekali kualitas percakapan dan persahabatan para politikus itu dan (2) bagaimana persahabatan di antara mereka tidak melumerkan sama sekali keteguhan ideologis masing-masing. 

Sangat sering ia mengutip, baik dalam ceramah maupun dalam tulisan, kisah hubungan personal yang hangat antara politikus Islam seperti M. Natsir, Burhanuddin Harahap dan M. Roem (Partai Masyumi) dengan Johannes Leimena (Partai Kristen Indonesia), I.J. Kasimo (Partai Katolik) maupun Ida Agung Anak Agung yang Hindu. Sebagaimana ia juga kerap menegaskan bagaimana masing-masing dari mereka itu tetap ngotot dengan pendirian politik dan ideologisnya sampai titik akhir hidupnya.

Bukunya yang berjudul "Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah", misalnya, kaya dengan refleksi sejarah yang jernih tentang pertarungan politik di tengah kehangatan persahabatan dan/atau sebaliknya. Salah satu kalimat paling mengena dari buku yang terbit pada 2009 itu adalah: "Ketulusan sering terkontaminasi oleh godaan politik kekuasaan yang dahsyat.”

Kutipan itu sebenarnya berasal dari refleksi sejarah yang membandingkan laku politik para pendiri republik dan para politikus di masa Orde Baru. Namun, kalimat itu rasa-rasanya tetap relevan hingga masa sekarang.  Kutipan itu juga terasa berlaku tidak hanya dalam memotret laku para elite, tapi habit di level konstituen atau para pemilih. Jika di level elite politik demikian lentur, di level pemilih malah menjadi begitu kaku. Jika di level elite ketulusan berarti cair dan licinnya pendirian politik sehingga sangat mudah terjadi pertukaran posisi dan pendirian, di level akar rumput ketulusan dimaknai sebagai sikap yang tidak-mau-tahu terhadap apa yang terjadi di kubu lawan sehingga sangat sulit terjadinya kesalingpahaman satu sama lain, apalagi pertukaran posisi, bahkan walau dalam isu-isu sangat strategis bagi rakyat sekali pun.   

Yang terjadi sekarang, dan itu dialami sendiri oleh Buya, pertarungan politik yang sengit dan hangatnya persahabatan seperti dua hal yang terpisah; sama seperti terpisahnya kesengitan politik berusia panjang di level akar rumput dan ha-ha-hi-hi yang kondisional nan mesra di level elit politik.

Dalam situasi seperti ini, Buya Syafi'i memilih untuk tegak di atas batu pijak yang dipilihnya secara sadar dan mandiri. Apa pun yang ia ucapkan berasal dari olah rasionalitas yang dilakukan secara independen. Bahwa kadang ia terlihat melawan arus pada satu kesempatan, atau malah terkesan menjadi bagian dari suara kebanyakan pada momen yang lain, hanyalah dampak ikutan dari  kemerdekaan berpikir, bersuara dan bertindak yang tidak terkooptasi bujuk rayu ekonomi politik. 

Baginya, independensi adalah kata kunci yang membuatnya bisa menikmati umur panjang dengan bahagia. Dari posisi yang independen secara politik itulah ia tampak menikmati aktifitas berpikir, bersuara dan bertindak tanpa takut kehilangan apa pun -- entah itu jabatan, mau pun nama baik. Caci maki, fitnah bahkan doa-doa buruk yang disampaikan orang yang tidak senang kepadanya, rasa-rasanya, sejauh yang dapat kita amati, tidak membuatnya runduk dan bungkam hanya untuk mendapatkan kenyamanan di masa tua. Ia memilih mengambil risiko masuk ke tengah perdebatan politik yang sengit saat kebanyakan orang di usianya mungkin lebih memilih untuk pensiun dalam ketenangan.

*) Naskah ini pertama kali terbit dalam buku "Ibu Kemanusiaan: Catatan-catatan Perempuan untuk 86 tahun Buya Ahmad Syafii Maarif" (Penerbit Langgar, 2021)

KOMENTAR

SELANJUTNYA

TERPOPULER