Politikus PKB, Maman Imanulhaq melihat belakangan ini FPI justru kehilangan roh dakwahnya karena terlibat oleh arus politik praktis. “Kalau politis, itu kan ujung-ujungnya mendapatkan sesuatu. Kasihan FPI sudah panas-panasan, tapi tidak mendapat apa-apa untuk membesarkan dakwah Islamnya. Lebih baik FPI berjuang secara politik, yakni jadi parpol daripada ditunggangi oleh kelompok politik pragmatis yang menggunakan politik identitas,” ujarnya.
Kepala Bidang Penegakan Khilafah FPI, Awit Masyhuri menegaskan FPI punya hak politik seperti organisasi yang lain. “Perlu ditegaskan, FPI dalam berpolitik tidak mencari jabatan atau kursi. Kami mengajukan konsep. Soal jadi partai, sejak awal pendiriannya tidak boleh menjadi partai. Selain itu, FPI bukan musuh NU dan Banser. Jadi jangan dihalangi saat membentuk cabang. Itu di Brebes kami ditolak Banser,” katanya.
Ketua PBNU Marsudi Syuhud menjelaskan, apabila di daerah-daerah ada yang menolak FPI saat ingin mendirikan cabang, artinya ada yang salah. “Jadi yang harus mencari akar masalahnya itu ya FPI, bukan Banser atau NU. FPI harus muhasabah, refleksi dan melihat diri sendiri, masalahnya ada di mana sehingga ditolak di mana-mana,” jelas Marsudi Syuhud.