Advertisement

144 Daftar Penyakit yang Tidak Bisa Dirujuk ke FKRTL BPJS Kesehatan

02 January 2025 15:53 WIB

thumbnail-article

BPJS Kesehatan. (ANTARA/HO- BPJS Kesehatan Jayapura) .

Penulis: Nuha Khairunnisa

Editor: Nuha Khairunnisa

Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memiliki dua jenis fasilitas kesehatan yang diberikan kepada peserta, yakni Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).

FKTP berfungsi sebagai langkah awal bagi peserta BPJS untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Fasilitas kesehatan (faskes) ini meliputi puskesmas, klinik, serta dokter umum yang memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat.

Jika dibutuhkan penanganan lebih lanjut, faskes tingkat pertama dapat memberikan rujukan kepada pasien untuk berobat di rumah sakit yang dapat menangani kondisi medis lanjutan, yang disebut sebagai faskes tingkat kedua atau FKRTL.

Namun, tidak semua penyakit dapat dirujuk langsung ke FKRTL. Beberapa penyakit harus diperiksakan terlebih dahulu di FKTP yang tempat peserta BPJS Keanggotaan terdaftar sebagai anggota.

Penanganan penyakit yang ringan dan tidak memerlukan perawatan rumah sakit diharapkan dapat diselesaikan di FKTP. Sistem ini dirancang agar peserta memperoleh penanganan medis yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan penyakit.

Dengan mengoptimalkan diagnosa di tingkat pertama, diharapkan dapat mengurangi beban FKRTL dan memberikan akses yang lebih cepat bagi pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Kendati demikian, jika terjadi kondisi medis yang mengharuskan untuk ditangani di FKRTL seperti rumah sakit, maka rujukan akan tetap diberikan.

Untuk itu, peserta BPJS Kesehatan perlu memahami daftar penyakit yang tidak dapat dirujuk langsung ke FKRTL.

Daftar penyakit yang tidak bisa dirujuk ke FKRTL

  1. Aborsi spontan komplit

  2. Abses folikel rambut/kelenjar sebasea

  3. Acne vulgaris ringan

  4. Alergi makanan

  5. Anemia defisiensi besi

  6. Anemia defisiensi besi pada kehamilan

  7. Askariasis

  8. Asma bronkial

  9. Astigmatisme ringan

  10. Bell's Palsy

  11. Benda asing di hidung

  12. Benda asing di konjungtiva

  13. Blefaritis

  14. Bronkitis akut

  15. Buta senja

  16. Cutaneus larva migran

  17. Defisiensi mineral

  18. Defisiensi vitamin

  19. Demam dengue, DHF

  20. Demam tifoid

  21. Dermatitis atopik (kecuali recalcitrant)

  22. Dermatitis kontak iritan

  23. Dermatitis numularis

  24. Dermatitis perioral

  25. Dermatitis seboroik

  26. Diabetes mellitus tipe 1

  27. Diabetes mellitus tipe 2

  28. Disentri basiler, disentri amuba

  29. Dislipidemia

  30. Eksantemapous drug eruption, fixed drug eruption

  31. Episkleritis

  32. Epistaksis

  33. Erisipelas

  34. Eritrasma

  35. Faringitis

  36. Filariasis

  37. Fimosis

  38. Folikulitis superfisialis

  39. Furunkel pada hidung

  40. Furunkel, karbunkel

  41. Gangguan somatoform

  42. Gastritis

  43. Gastroenteritis (termasuk kolera, giardiasis)

  44. Gonore

  45. Hemoroid grade 1/2

  46. Hepatitis A

  47. Herpes simpleks tanpa komplikasi

  48. Herpes zoster tanpa komplikasi

  49. Hidradenitis supuratif

  50. Hipermetropia ringan

  51. Hipertensi esensial

  52. Hiperurisemia

  53. Hipoglikemia ringan

  54. HIV/AIDS tanpa komplikasi

  55. Hordeolum

  56. Impetigo 105

  57. Infeksi pada umbilikus

  58. Infeksi saluran kemih

  59. Infeksi saluran kemih bagian bawah

  60. Influenza

  61. Insomnia

  62. Intoleransi makanan

  63. Kandidiasis mukokutan ringan

  64. Kandidiasis mulut

  65. Kehamilan normal

  66. Kejang demam

  67. Kekerasan tajam

  68. Kekerasan tumpul

  69. Keracunan makanan

  70. Konjungtivitis

  71. Laringitis

  72. Lepra

  73. Leptospirosis (tanpa komplikasi)

  74. Limfadenitis

  75. Lipoma

  76. Luka bakar derajat 1 dan 2

  77. Mabuk perjalanan

  78. Malaria

  79. Malnutrisi energi protein

  80. Mastitis

  81. Mata kering

  82. Migrain

  83. Miliaria

  84. Miopia ringan

  85. Moluskum kontagiosum

  86. Morbili tanpa komplikasi

  87. Napkin eczema

  88. Obesitas

  89. Otitis eksterna

  90. Otitis media akut

  91. Parafimosis

  92. Parotitis

  93. Pedikulosis kapitis

  94. Pedikulosis pubis

  95. Penyakit cacing tambang

  96. Perdarahan subkonjungtiva

  97. Pertusis

  98. Pielonefritis tanpa komplikasi

  99. Pitiriasis rosea

  100. Pitiriasis versikolor

  101. Pneumonia, bronkopneumonia

  102. Presbiopia

  103. Puting susu pecah-pecah (cracked nipple)

  104. Puting susu terbalik (inverted nipple)

  105. Reaksi anafilaktik

  106. Reaksi gigitan serangga

  107. Refluks gastroesofagus

  108. Rhinitis akut

  109. Rhinitis alergika

  110. Rhinitis vasomotor

  111. Ruptur perineum tingkat 1/2

  112. Sakit kepala tegang (tension headache)

  113. Salpingitis

  114. Serumen prop

  115. Sifilis stadium 1 dan 2

  116. Sindrom duh (discharge) genital (gonore dan non-gonore)

  117. Skabies

  118. Skistosomiasis

  119. Skrofuloderma

  120. Strongiloidiasis

  121. Taeniasis

  122. Tetanus

  123. Tinea barbe

  124. Tinea corporis

  125. Tinea cruris

  126. Tinea facialis

  127. Tinea kapitis

  128. Tinea manus

  129. Tinea pedis

  130. Tinea unguium

  131. Toeniasis

  132. Tonsilitis

  133. Trikiasis

  134. Tuberkulosis paru tanpa komplikasi

  135. Ulkus mulut (aftosa, herpes)

  136. Ulkus pada tungkai

  137. Urtikaria akut

  138. Vaginitis

  139. Vaginosis bakterialis

  140. Varicella tanpa komplikasi

  141. Vertigo posisi paroksismal jinak (Benign Paroxysmal Positional Vertigo)

  142. Veruka vulgaris

  143. Vulnus laceratum, punctum

  144. Vulvitis

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement