Advertisement

80 Tahun Pengeboman Kota Hiroshima: Jepang Serukan Perlucutan Senjata Nuklir

06 August 2025 17:39 WIB

thumbnail-article

Sehari jelang upacara peringatan 80 tahun bom atom pertama di dunia, Kubah Bom Atom di kota Hiroshima, Prefektur Hiroshima ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah. Sumber: Richard A. Brooks/AFP..

Penulis: Margareth Ratih. F

Editor: Margareth Ratih. F

Pada tanggal 6 Agustus 2025, Jepang memperingati 80 tahun pengeboman kota Hiroshima, di mana ribuan orang berkumpul di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima untuk memberikan penghormatan kepada korban. Acara ini dimulai tepat pada pukul 08.15, waktu ketika bom atom dijatuhkan. Selama upacara, peserta melakukan hening cipta untuk mengenang mereka yang kehilangan nyawa akibat serangan tersebut. Upacara ini dihadiri oleh lebih dari 120 perwakilan negara, termasuk anggota dari negara yang jarang berpartisipasi dalam peringatan semacam ini.

Pesan Perdana Menteri Jepang

Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dalam pidatonya menekankan bahwa Jepang sebagai satu-satunya negara yang pernah diserang dengan senjata nuklir perlu terus menjadi suara dalam menyerukan perlucutan senjata nuklir global. Ia menyatakan, "Penderitaan dan kenangan tak tertahankan ini tidak boleh dilupakan dan harus diwariskan kepada generasi mendatang." Pesan tersebut mencerminkan komitmen Jepang untuk mendorong dunia agar tidak melupakan pelajaran penting dari sejarah.

Kehadiran perwakilan dari sekitar 120 negara dan wilayah menunjukkan bahwa peringatan ini bukan hanya penting bagi Jepang, tetapi juga untuk masyarakat dunia. Kehadiran perwakilan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, meskipun tidak pernah menyampaikan permintaan maaf resmi, menunjukkan ketertarikan untuk menghadiri dan belajar dari pengalaman pahit Hiroshima. Hanya saja, negara-negara seperti Rusia dan China memilih untuk tidak hadir dalam upacara ini.

Dampak pengeboman dan penderitaan manusia

Jumlah korban dan penyintas

Ledakan pada 6 Agustus 1945 mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Diperkirakan sekitar 140.000 orang tewas akibat ledakan, radiasi, dan dampak susulan di lingkungan. Dengan berjalannya waktu, jumlah penyintas atau hibakusha berkurang drastis, dan pada saat ini, jumlah mereka kurang dari 100.000 orang, dengan rata-rata usia yang semakin tua. Masyarakat menyadari bahwa melestarikan kisah para hibakusha dan mengenang mereka merupakan tanggung jawab yang penting.

Penyakit akibat radiasi

Selain kehilangan jiwa, banyak dari mereka yang selamat mengalami berbagai penyakit akibat radiasi. Penyakit seperti kanker dan gangguan kesehatan lainnya sering kali muncul bertahun-tahun setelah penyerangan. Para penyintas tidak hanya harus berjuang untuk kesejahteraan fisik mereka, tetapi juga menghadapi stigma sosial karena khawatir akan penularan penyakit kepada keturunan mereka. Kendati begitu, banyak dari mereka tetap bersikeras untuk menceritakan pengalaman mereka agar generasi mendatang tidak melupakan tragedi ini.

Kenangan dan praktik memperingati korban

Setiap tahun, masyarakat Jepang melakukan ritual untuk mengenang para korban. Upacara peringatan menjadi momen penting bagi keluarga korban untuk datang dan berdoa. Dengan menambahkan nama-nama terbaru korban di cenotaph taman tersebut, kehadiran alpukah ke masyarakat memastikan bahwa ingatan tentang tragedi ini terus hidup. Masyarakat memandang bahwa upacara ini adalah cara untuk menghormati dan memperingati mereka yang telah kehilangan nyawa serta menyebarkan pesan tentang damai.

Ancaman senjata nuklir di era modern

Peringatan kali ini diisi dengan kritik terhadap perlombaan senjata nuklir yang kian meningkat di seluruh dunia. Dalam situasi global saat ini, di mana geopolitik semakin terfragmentasi, tren ini menjadi sangat mengkhawatirkan. Wali Kota Hiroshima, Kazumi Matsui, mengingatkan bahwa banyak pemimpin dunia berpikir bahwa memiliki senjata nuklir adalah suatu keharusan untuk melindungi kedaulatan negara. Dia mencatat, "Situasi ini mengabaikan pelajaran berharga dari sejarah kelam."

Dalam pidatonya, Matsui juga menyoroti perlunya pengakuan terhadap dampak jangka panjang dari senjata nuklir. Penilaian bahwa senjata ini diperlukan untuk kekuatan militer dan politik merusak usaha-usaha global untuk menciptakan dunia yang lebih aman. Dia mengajak seluruh pemimpin dunia untuk datang ke Hiroshima dan melihat langsung dampak kehancuran yang ditimbulkan oleh senjata nuklir.

Dengan ancaman yang semakin meningkat, kerja sama internasional dalam perlucutan senjata nuklir menjadi semakin mendesak. Upaya untuk mencapai perjanjian dan kebijakan yang efektif memerlukan komitmen dari semua negara. Keberhasilan dalam mengatasi masalah ini hanya dapat dicapai jika negara-negara mau mengedepankan dialog dan menciptakan saling percaya di antara mereka.

Menyusul peringatan tragis ini, terdapat seruan jelas untuk membangun dialog dan kepercayaan antar bangsa. Dalam konteks ketegangan global saat ini, menyerukan perlucutan senjata nuklir memerlukan upaya diplomasi yang kuat dan engagement yang bermanfaat. Melalui keterlibatan yang aktif, Jepang mengajak negara-negara di seluruh dunia untuk bergandeng tangan menuju masa depan yang lebih damai dan bebas dari ancaman senjata pemusnah massal.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement