Advertisement

Apa Itu Hipertensi: Memahami Jenis-Jenisnya dan Penyebabnya

16 January 2025 16:20 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi penderita hipertensi mengecek tekanan darah. (Foto: Freepik) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Hipertensi, juga dikenal sebagai tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara abnormal. Memahami penyakit ini adalah langkah penting untuk menangani dan mencegahnya.

Kendati jadi salah satu masalah kesehatan yang serius, namun hipertensi merupakan penyakit yang umum dialami oleh masyarakat Indonesia.

Menukil detikhealth, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Eva Susansi menuturkan jika beban biaya BPJS Kesehatan atas penyakit akibat hipertensi mencapai Rp22,8 triliun.

Penyakit akibat hipertensi juga menjadi jenis penyakit tak menular penyebab kematian nomor empat di Indonesia dengan 10,2 persen pada 2023.

Namun, hipertensi tak hanya berbahaya karena jadi faktor penyebab penyakit-penyakit seperti stroke dan jantung, tetapi juga karena kini penyakit ini mengintai anak muda.

Umumnya, hipertensi kerap dikaitkan dengan penyakit yang dialami orang tua, namun data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa anak muda tak luput dari risiko hipertensi.

Melansir laman Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, dalam SKI 2023 tersebut, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18-24 tahun telah mencapai 10,7% dan pada kelompok umur 25-34 tahun telah mencapai 17,4%.

Lantas, apa saja langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah hipertensi? Berikut penjelasannya.

Apa itu hipertensi

Mengutip Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah dalam sistem peredaran darah berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada normal, biasanya didefinisikan sebagai tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih.

Memahami hipertensi adalah penting karena dapat mengakibatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk kerusakan pada jantung, pembuluh darah, dan organ vital lainnya.

Banyak orang yang mengidap hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi ini, karena seringkali tidak ada gejala yang terlihat.

Hipertensi dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi, mengakibatkan kerusakan yang signifikan sebelum akhirnya terdiagnosis.

Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang hipertensi dan bagaimana ia dapat berkembang tanpa gejala sangat diperlukan untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.

Jenis-jenis hipertensi

Hipertensi dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan karakteristiknya sebagai berikut:

1. Hipertensi primer dan ciri-cirinya

Hipertensi primer, juga dikenal sebagai hipertensi esensial, adalah bentuk hipertensi yang paling umum.

Penyebab pasti dari hipertensi primer belum sepenuhnya dipahami, tetapi faktor-faktor seperti usia, genetika, dan gaya hidup dianggap berkontribusi.

Ciri-ciri dari hipertensi primer biasanya tidak muncul dengan jelas, sehingga sering kali orang tidak menyadari bahwa mereka mengalaminya.

2. Hipertensi sekunder dan penyebabnya

Hipertensi sekunder adalah bentuk hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti penyakit ginjal, gangguan hormonal, atau penggunaan obat tertentu.

Jika penyebab mendasar hipertensi sekunder dapat diobati atau diatasi, tekanan darah dapat kembali normal.

Oleh karena itu, identifikasi dan penanganan faktor penyebabnya sangat penting untuk pengelolaan hipertensi ini.

3. Hipertensi gestasional pada wanita hamil

Hipertensi gestasional adalah kondisi yang terjadi selama kehamilan dan ditandai dengan peningkatan tekanan darah.

Kondisi ini bisa menimbulkan risiko bagi ibu dan janin, termasuk preeklampsia, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik.

Oleh karenanya, pemantauan tekanan darah selama kehamilan menjadi sangat penting bagi kesehatan ibu dan anak.

Faktor risiko hipertensi

Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami hipertensi. Berikut beberapa di antaranya:

1. Usia sebagai faktor risiko penting

Usia merupakan faktor risiko yang signifikan dalam perkembangan hipertensi. Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang untuk mengembangkan hipertensi semakin meningkat.

2. Genetika dan riwayat keluarga

Riwayat keluarga juga memainkan peran penting dalam kemungkinan seseorang mengembangkan hipertensi.

Jika ada anggota keluarga yang menderita hipertensi, seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya.

3. Pengaruh gaya hidup

Gaya hidup yang tidak sehat, termasuk pola makan yang tinggi garam, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan kebiasaan merokok, berkontribusi besar terhadap hipertensi.

Mengadopsi gaya hidup sehat, seperti diet seimbang dan rutinitas olahraga, dapat membantu menurunkan risiko hipertensi dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.

Gejala dan deteksi hipertensi

Meskipun hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala, penting untuk mengenali tanda-tanda potensial dan mengetahui kapan harus melakukan pemeriksaan medis lanjutan.

Berikut beberapa gejala umum yang dialami oleh penderita hipertensi.

1. Gejala umum hipertensi yang jarang muncul

Banyak individu yang menderita hipertensi tidak mengalami gejala sama sekali, sehingga kondisi ini sering disebut sebagai "pembunuh diam-diam."

Namun, dalam beberapa kasus, gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, dan pusing dapat terjadi.

Gejala ini, meskipun jarang, bisa menjadi tanda bahwa tekanan darah telah meningkat menjadi berbahaya.

2. Pentingnya pemeriksaan rutin untuk deteksi dini

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting untuk mendeteksi hipertensi pada tahap awal.

Deteksi dini memungkinkan penanganan dan perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius. Penanganan yang tepat dapat meliputi perubahan diet, peningkatan aktivitas fisik, atau pengobatan jika diperlukan.

Apa yang bisa dilakukan jika hipertensi terdeteksi

Jika hipertensi terdeteksi, Anda dapat melakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Konsultasi dengan dokter. Penting untuk mendapatkan diagnosis dan rekomendasi perawatan dari profesional medis.

  2. Mengubah gaya hidup. Mengadopsi diet sehat, berolahraga secara teratur, dan mengelola stres.

  3. Pengobatan. Jika diperlukan, mengikuti rencana pengobatan yang ditetapkan dokter untuk mengontrol tekanan darah.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement