Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "passenger princess" mulai populer di kalangan generasi muda, terutama di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Istilah tersebut ramai digunakan untuk merujuk pada timpangnya upaya para pelaku perjalanan, terutama ketika berkendara. Kata itu, terutama, digunakan untuk orang-orang yang tak bisa menyetir kendaraan.
Banyak unggahan terkait passenger princess yang dibagikan pengguna TikTok dan Instagram yang pada akhirnya memicu berbagai pendapat dan kontroversi.
Terlebih fenomena ini dapat dilihat dari kacamata gender, karena istilah passenger princess kerap disandingkan kepada perempuan dengan stigma bahwa perempuan tidak pandai dalam melakukan perjalanan, seperti menyetir atau memimpin navigasi.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ini? Mari kita telusuri lebih dalam mengenai fenomena yang menarik ini.
Definisi passenger princess
Secara sederhana, "passenger princess" merujuk pada seseorang yang duduk di kursi penumpang saat berkendara, menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan kemudi.
Istilah ini sering kali diiringi dengan kesan bahwa individu tersebut menikmati kenyamanan dan kemewahan perjalanan tanpa harus terlibat dalam tanggung jawab mengemudi, sedangkan ada orang lain yang bertugas memegang kemudi dan memimpin navigasi.
Kehadiran istilah ini sangat dipengaruhi oleh budaya media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram yang menjadi sarana penggunanya untuk memamerkan momen dalam hidupnya.
Banyak pengguna membagikan momen-momen mereka sebagai passenger princess, mengunggah foto dan video saat bersantai di kursi penumpang.
Unggahan tersebut umumnya menampilkan suasana indah, lengkap dengan musik, dan memamerkan bagaimana nyamannya duduk di kursi penumpang tanpa melakukan apa-apa.
Momen menyenangkan itu sering kali menjadi kontroversi karena pengunggah momen tersebut dianggap bersikap egois karena hanya menikmati momen perjalanan tanpa ikut bertanggung jawab dalam perjalanan.
Fenomena ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Di satu sisi, menjadi passenger princess mencerminkan kebebasan dan relaksasi, serta menekankan pentingnya menikmati hidup.
Namun, di sisi lain, istilah ini juga bisa menimbulkan stereotipe tentang peran gender, di mana perempuan dianggap lebih suka bersenang-senang ketimbang terlibat dalam aktivitas yang membutuhkan keterampilan.
Menguatkan norma gender tradisional
Walaupun banyak yang menikmati konsep ini, bahkan memamerkannya, beberapa kritikus berpendapat bahwa istilah passenger princess dapat memperkuat norma-norma gender tradisional.
Di era yang semakin mengedepankan kesetaraan, penting bagi setiap individu untuk memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk mengemudi.
Dalam unggahan seringkali passenger princess adalah perempuan dan bertingkah bak seorang putri dalam menikmati perjalanan. Stereotipe inilah yang akhirnya menjadi perdebatan di kolom komentar.
Passenger princess bukan hanya sebuah istilah; itu mencerminkan gaya hidup dan pandangan yang berkembang di kalangan generasi muda. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial, istilah ini mungkin akan terus berkembang dan tak terbatas pada sebuah perjalanan.
