Advertisement

Apa Itu Rabu Wekasan? Sejarah, Tradisi dan Amalannya

19 August 2025 10:25 WIB

thumbnail-article

Rabu Wekasan Sumber: ANTARA.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Jika merujuk pada kalender Hijriah bulan Safar sudah memasuki minggu terakhirnya, salah satu hari penting yang ada dipenghujung bulan ini adalah Rabu Wekasan atau Rabu terakhir, oleh sebagian orang diyakini sebagai hari turunnya bala bencana. Karena itu, muncul tradisi tolak bala pada hari tersebut.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 terbitan Kementerian Agama (Kemenag) RI, bulan Safar 1447 H dimulai pada 1 Safar 1447 H yang bertepatan dengan Sabtu, 26 Juli 2025, dan berakhir pada 30 Safar 1447 H atau Minggu, 24 Agustus 2025.

Dengan perhitungan tersebut, Rabu terakhir di bulan Safar tahun 1447 H jatuh pada 26 Safar 1447 H, tepatnya pada Rabu, 20 Agustus 2025. Artinya, peringatan Rebo Wekasan di tahun 2025 akan berlangsung pada tanggal tersebut.

Lantas seperti apa sebenarnya sejarah dari tradisi Rebo Wekasan serta amalan yang perlu dikerjakan dihari etrsebut? Berikut penjelasan yang Narasi rangkum dari berbagai sumber.

Arti kata Rabu Wekasan

Rabu Wekasan merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa. Secara harfiah, "Rabu" berarti hari Rabu, sedangkan "Wekasan" berarti akhir atau terakhir. Oleh karena itu, Rabu Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Tradisi ini memiliki makna penting dalam konteks budaya dan spiritual masyarakat yang melaksanakan upacara tersebut.

Mengutip laman NU Online Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi (w.1151 H) dalam kitab Fathul Malik al-Majid al-Muallaf li Naf'il 'Abid wa Qam'i Kulli Jabbar 'Anid (biasa disebut Mujarrabat ad-Dairabi).

Dalam kitab ini disebutkan bahwa ada sekitar 300 ribu bala' dan bencana akan diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Safar, sebagaimana keterangan berikut:

“(Faedah), ‘Sebagian orang arif dari kalangan ahli kasyf (penyingkapan) dan tamkin (keteguhan rohani) menyebutkan bahwa setiap tahun turun 320 ribu bencana, dan semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Maka hari itu menjadi hari yang paling berat di sepanjang tahun".

Sementara itu tradisi Rabu Wekasan banyak diadopsi oleh berbagai kelompok etnis di Indonesia, khususnya oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura. Dalam setiap daerah, meskipun namanya serupa, terdapat variasi dalam cara pelaksanaan dan ritual yang dilakukan.

Di beberapa daerah, Rabu Wekasan dikenal dengan nama lain seperti Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan. Setiap daerah menyuntikkan nilai lokal yang unik ke dalam praktik Rabu Wekasan, menjadikannya lebih kaya dengan beragam kebudayaan.

Rabu Wekasan merupakan contoh nyata dari akulturasi budaya, di mana nilai-nilai Islam berpadu dengan tradisi lokal. Upacara yang diadakan cenderung menggabungkan elemen spiritual dari Islam, seperti doa dan salat, dengan budaya lokal yang memegang kepercayaan tradisional.

Tradisi ini menunjukkan keselarasan antara dua aspek yang sering dipandang berbeda, yaitu budaya dan agama, dalam satu perayaan yang harmonis.

Amalan pada Rabu Wekasan

Masih mengutip dari laman yang sama berikut adalah beberapa amalan yang bisa dikerjakan saat Rabu wekasan. Pertama berdoa pada Allah. Dalam hadits disebutkan bahwa dalam bulan Safar doa akan dikabulkan oleh Allah. Di antara doa yang bisa dibaca adalah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.  Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Mungkin, wahai Yang Maha Perkasa, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu. Cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Indah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mulia, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, berilah rahmat kepada ku dengan rahmat-Mu. Wahai Yang Maha Pemurah di antara yang pemurah. 

Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudara kandungnya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, cukupkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini. Wahai Yang Maha Cukup untuk mengatasi semua urusan, wahai Yang Maha Menjauhkan bencana. Allah akan cukupkan kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Kedua, membaca istighfar.  Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah swt atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan.

Ketiga, membaca Al-Qur’an.  Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman hidup.

Dengan demikian , Rebo Wekasan tidak hanya memiliki nilai religius, namun juga memegang peranan penting dalam melestarikan tradisi lokal.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement