Advertisement

Apa Itu Tren 'Manusia Tikus' yang Makin Populer di Kalangan Gen Z China?

10 June 2025 14:53 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi 'manusia tikus', tren gaya hidup yang tengah populer di kalangan Gen Z di China. Sumber: Freepik.

Penulis: Nuha Khairunnisa

Editor: Nuha Khairunnisa

Istilah 'manusia tikus' atau 'lao shu ren' dalam bahasa Mandarin belakangan tengah menjadi tren di dunia maya Negeri Tirai Bambu. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan 'manusia tikus', dan mengapa istilah ini menjadi tren?

Apa itu 'manusia tikus'?

'Manusia tikus' merujuk pada generasi muda di China, terutama Gen Z, yang menjauhi kehidupan yang kompetitif dan sangat mengutamakan produktivitas. Fenomena ini muncul sebagai reaksi terhadap budaya kerja keras tanpa henti yang telah lama mengakar dalam masyarakat.

Masyarakat mengidentifikasi diri mereka sebagai 'manusia tikus' sebagai simbol dari kehidupan yang lebih sederhana dan tidak terjebak dalam perlombaan sosial yang tak ada ujungnya.

Gaya hidup 'manusia tikus' ditandai oleh kebiasaan yang cenderung nokturnal atau lebih aktif saat malam hari, serta menghabiskan waktu yang lebih banyak di rumah. Mereka sering kali menggambarkan rutinitas harian yang mencakup bangun siang hari, menghabiskan waktu berjam-jam di ranjang, berinteraksi dengan media sosial, dan mengandalkan makanan pesan-antar.

Mereka yang mengidentifikasi sebagai 'manusia tikus' menghabiskan sebagian besar hari dalam keadaan terasing, seperti tikus yang bersembunyi dalam kegelapan.

Popularitas tren ini tidak hanya terbatas di China, tetapi juga menjalar ke mahasiswa China yang berada di luar negeri. Video dan unggahan yang mendokumentasikan kehidupan 'manusia tikus' mendapatkan perhatian luas di platform-platform media sosial seperti Xiaohongshu.

Pengaruh tekanan sosial dan ekonomi

Persaingan di bidang pendidikan, terutama dengan adanya gaokao (ujian masuk universitas), memunculkan tekanan yang signifikan pada anak-anak muda. Setelah lulus, mereka dihadapkan dengan tingkat pengangguran pemuda yang mencapai 15,8 persen, dan sekitar 12 juta lulusan baru setiap tahun. Kondisi ini menciptakan pasar kerja yang sesak dan ketidakpastian bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja.

Tekanan sosial yang terus meningkat berkontribusi pada masalah kesehatan mental di kalangan anak muda. Banyak yang merasa kehilangan harapan dan terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Sebagai bentuk perlawanan pasif terhadap kondisi ini, banyak yang memilih untuk mengadopsi identitas 'manusia tikus', yang memberi mereka kesempatan untuk rehat dari ekspektasi masyarakat.

Fenomena 'manusia tikus' dapat dianggap sebagai evolusi dari tren sebelumnya, yakni 'tang ping', yang merupakan penggambaran keinginan untuk berbaring dan menjauh dari perlombaan sosial. Keduanya mencerminkan pilihan untuk tidak terjerat dalam keharusan produktif yang berlebihan.

Humor dalam identitas 'manusia tikus'

Humor menjadi elemen penting dalam tren 'manusia tikus'. Banyak yang menggunakan istilah ini untuk merendahkan diri dalam menghadapi situasi sulit. Istilah 'zi hei' atau self-mockery menciptakan ruang bagi individu untuk mengekspresikan kerentanan diri tanpa menciptakan kesan lemah.

Self-mockery ini menekankan pada sisi humoris dari situasi yang sulit. Hal ini rupanya membantu meringankan beban dan menyatukan individu dalam pengalaman yang serupa. Konten di media sosial yang menggambarkan kehidupan 'manusia tikus' sering kali menciptakan rasa kebersamaan dalam menghadapi tekanan hidup yang sama.

Banyak anak muda berbagi pengalaman mereka sebagai 'manusia tikus' melalui vlog dan postingan di media sosial. Mereka mendokumentasikan rutinitas harian yang menggambarkan kehidupan low-energy ini, menciptakan komunitas virtual di mana mereka dapat saling mendukung dan menghibur.

Perubahan generasi dan gaya hidup

Kondisi ekonomi yang tidak menentu menjadikan gaya hidup 'manusia tikus' sebagai pilihan yang lebih terlihat. Generasi muda yang berada di posisi yang lebih sulit dalam hal finansial dibandingkan dengan orang tua mereka, cenderung merasa lelah berjuang dalam sistem yang tidak mendukung mereka.

Perbedaan nilai antara generasi muda sekarang dan sebelumnya terlihat pada cara pandang mereka terhadap kerja dan kesuksesan. Mereka lebih memilih untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih bebas dan tidak terikat, daripada terpaku pada norma-norma yang mengharuskan mereka bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang sering kali tampak jauh dari jangkauan.

Fenomena 'manusia tikus' telah membuka jalan bagi eksplorasi identitas alternatif di kalangan anak muda. Dengan menciptakan ruang untuk hidup di luar norma-norma sosial yang kaku, mereka menemukan kebebasan dalam menerima kenyataan baru, di mana tidak semua orang harus berjuang keras untuk dianggap sukses. Identitas ini menjadi simbol keberadaan mereka di masyarakat yang penuh tekanan.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement