Advertisement

Apa Itu Bunyi Pantul dan Bagaimana Proses Terjadinya? Berikut Jawaban Ringkasnya

12 August 2024 17:08 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi kuping dan gelombang suara. Sumber: Freepik. .

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Tahukah kalian, teknologi yang digunakan untuk mengukur kedalaman laut, mendeteksi keberadaan janin dalam rahim ternyata memanfaatkan bunyi pantul? Apakah yang dimaksud dengan bunyi pantul dan bagaimana proses terjadinya? Simak penjelasannya berikut ini!

Pada dasarnya, bunyi pantul adalah getaran bunyi yang menabrak sebuah bidang pantul dan memantul kembali. Namun, untuk memahami tentang bunyi pantul, kita harus memahami tentang definisi bunyi, gelombang bunyi, dan proses terjadinya bunyi pantul.

Bunyi adalah sesuatu yang ditangkap atau terdengar oleh telinga kita. Bunyi berasal dari getaran yang dibaca sebagai gelombang. Bunyi dapat dihasilkan baik oleh makhluk hidup maupun benda mati.

Gelombang bunyi akan merambat dari sumber bunyi menuju ke segala arah. Kita dapat mendengar bunyi apabila gelombang bunyi yang merambat mencapai telinga kita. Bunyi memerlukan medium untuk merambat seperti udara dan air.

Kecepatan rambat tersebut dikenal sebagai kecepatan suara. Sementara kekuatan gelombang suara dihitung menggunakan satuan bernama Hertz, kenyaringan bunyi dihitung dengan decibel.

Tidak semua bunyi dapat didengar oleh manusia. Telinga manusia hanya bisa mendengar bunyi dengan kekuatan tertentu yaitu 20Hz-20.000hz/detik atau disebut dengan audiosonik. Selain audiosonik terdapat pula gelomba infrasonic yang memiliki kekuatan getaran dibawah 20hz/detik dan ultrasonic yang memiliki getaran diatas 20.000hz/detik.

Apa itu bunyi pantul?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya getaran suara yang merambat bisa memantul jika terdapat bidang pantul. Hal ini menyebabkan beberapa fenomena seperti gema dan gaung. Apa perbedaan keduanya?

Gema adalah jenis bunyi pantul yang terjadi setelah bunyi asli. Artinya, bunyi pantul gema akan terdengar setelah terjadi jeda ketika bunyi asli diciptakan. Gema terjadi karena terdapat jarak yang cukup jauh antara sumber bunyi dengan dinding pantul.

Gema biasanya terdengar di lereng gunung atau bukit, tebing, gua, aula, atau stadion olahraga. Gema tercipta jika jarak sumber suara dan dinding pantul berjarak sekitar 20 meter. Jadi jika kita berteriak “hai”, sesaat kemudian akan terdengar bunyi pantul dari teriakan kita dengan jelas.

Berbeda dengan gema, gaung adalah bunyi pantul yang seakan terdengar dengan jelas karena bertumpuk atau bercampur dengan suara kita. Hal ini dikarenakan jarak sumber suara dengan bidang pantulan tidak terlalu jauh atau kurang dari 20 meter.

Gaung umumnya terjadi di dalam gedung atau ruangan yang tidak terlalu luas seperti gedung, bioskop, atau gua yang sempit. Bunyi gaung akan terdengar sebagian saja dari kata yang kita teriakkan. Misalnya ketika kita berteriak “haii”, maka yang terdengar hanya “ha..” saja.

Bentuk ketiga bunyi pantul adalah memperkuat suara. Ini terjadi jika bidang pantul sangat dekat dengan sumber suara. Yang terjadi adalah bunyi pantul justru memperkuat suara yang dihasilkan. 

Hal tersebut bisa dibuktikan dengan mengarahkan speaker ke sudut ruangan. Tentu suara yang dihasilkan akan lebih keras. Konsep ini digunakan dalam teknologi speaker untuk menghasilkan suara yang lebih kuat dengan meletakkan bidang pantul yang dekat dengan sumber suara.

Pemanfaatan bunyi pantul

Bunyi pantul dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Yang paling nyata adalah bagaimana speaker bekerja dengan memanfaatkan bunyi pantul untuk memperkuat suara. 

USG juga memanfaatkan bunyi ultra berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi keberadaan janin di dalam rahim. Bunyi pantul juga digunakan untuk mendeteksi kerusakan logam yang sangat penting dalam bidang konstruksi.

Pemanfaatan lain dari bunyi pantul adalah teknologi sonar yang digunakan oleh kapal nelayan hingga militer. Teknologi sonar menyebarkan gelombang suara khusus yang nantinya akan memantul jika terkena bidang pantul kembali ke sensor. Durasi kembalinya suara yang dipantulkan akan menentukan jarak dari objek.

Nelayan menggunakan teknologi ini untuk mendeteksi keberadaan kelompok ikan. Peneliti menggunakan teknologi ini untuk menentukan kedalaman laut dan pendataan muka dasar laut. Tim SAR menggunakan sonar untuk melakukan pencarian saat terjadi kecelakaan sedangkan militer menggunakan sonar mendeteksi kapal selam musuh atau ranjau laut.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement