Advertisement

Apa Itu Aplikasi Temu, e-Commerce Baru yang Ancam UMKM

27 June 2024 11:04 WIB

thumbnail-article

Aplikasi Temu. Sumber: Google Play Store. .

Penulis: Nuha Khairunnisa

Editor: Margareth Ratih. F

Aplikasi bernama Temu belakangan tengah banyak diperbincangkan. Belum lama ini, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki turut menyinggung aplikasi Temu dan menyebutnya sebagai ancaman bagi UMKM di tanah air. 

Lalu, apa sebenarnya aplikasi Temu yang keberadaannya membuat khawatir Menteri Teten?

e-Commerce asal China

Temu merupakan layanan e-commerce terbaru yang dioperasikan oleh perusahaan asal China PDD Holdings. 

Layanan ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada September 2022. Dalam hitungan bulan, Temu berekspansi ke Australia, Selandia Baru, dan sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Spanyol dan Inggris Raya. 

Pada perhelatan Super Bowl 2024, Temu memasang iklan di layar utama pertandingan yang membuat aplikasi ini semakin dikenal oleh publik AS dengan jumlah pengguna yang meningkat secara drastis. 

Sebagaimana e-commerce pada umumnya, Temu menawarkan hal yang tidak jauh berbeda dengan Amazon, eBay, dan layanan-layanan sejenis. Lantas, apa yang membuatnya sukses meraup ratusan juta pengguna hanya dalam waktu singkat?

Serba murah

Temu menawarkan apa yang menjadi pertimbangan terbesar banyak orang dalam membeli barang, yakni harga yang murah. 

Dengan mengusung tagline “Shop Like a Billionaire”, Temu menyediakan berbagai macam barang mulai dari pakaian, peralatan dapur, aksesoris, perangkat elektronik, hingga perabotan. Bayangkan sebuah toko serba ada, tetapi yang satu ini berada di dalam genggaman. Plus, semua barang dijual dengan harga sangat miring. 

Barang-barang di Temu bisa dibanderol murah lantaran model bisnis factory to consumer (F to C) yang diterapkannya. Artinya, barang langsung dijual dari pabrik ke konsumen tanpa melalui distributor. Karena tidak ada biaya distribusi yang perlu dikeluarkan, barang-barang tersebut bisa dijual dengan harga di bawah pasar. 

Ancaman bagi UMKM

Menkop UKM menyebut, jika aplikasi Temu yang menggunakan model bisnis F to C masuk ke Indonesia, hal itu bisa berdampak terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan lapangan pekerjaan di tanah air. 

“Ini yang saya khawatir, ada lagi satu aplikasi digital crossborder yang saya kira akan masuk ke Indonesia, dan ini lebih dahsyat dari TikTok, karena ini menghubungkan factory direct kepada konsumen. Jadi, akan ada berapa banyak lapangan kerja di (sektor) distribusi yang akan hilang?” ungkap Menteri Teten saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI pada Senin (17/6/2024).

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag) Isy Karim.menyebut model bisnis F to C tidak sesuai dengan kebijakan yang diterapkan di Indonesia.

“Itu kan bertentangan dengan PP 29 Tahun 2021. Jadi, kalau setiap kegiatan dari factory ke consumer harus ada perantaranya, harus ada distributor. Jadi tidak bisa dari pabrik langsung ke konsumen,” tegas Isy di Kantor Kemendag pada Rabu (19/6/2024).

Isy juga menyebut aplikasi Temu belum mendaftarkan diri ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement