Pemerintah Australia berencana membatasi pendaftaran mahasiswa asing baru pada tahun 2025 mendatang. Dalam rencana yang diumumkan pada Selasa (27/8/2024) lalu ini, Australia hanya akan menerima mahasiswa asing sebanyak 270.000 orang.
Peraturan pembatasan ini diberi nama National Planning Level (NPL) dan telah disahkan oleh Parlemen Australia. Kebijakan ini akan diberlakukan secara merata, baik pada sektor pendidikan universitas maupun pendidikan dan pelatihan kejuruan (vocational education and training/ VET)
Nantinya, pembatasan akan dilakukan dengan rincian 145.000 mahasiswa untuk universitas yang didanai publik (negeri); 95.000 mahasiswa untuk sektor pendidikan dan pelatihan kejuruan (VET); serta 30.000 mahasiswa untuk sektor institusi pendidikan tinggi non-universitas.
Dikutip dari laman Study Australia, pemberlakuan pembatasan ini merupakan respons Pemerintah Australia atas meningkatnya jumlah mahasiswa internasional dalam beberapa tahun terakhir.
"Aturan pembatasan mahasiswa NPL akan membantu pelaksana pendidikan dan pelatihan Australia untuk menghadapi peningkatan ini. Kebijakan ini juga akan membantu pelaksana menjamin ketersediaan program berkualitas, memberikan dukungan yang komprehensif, dan menyiapkan pekerjaan masa depan untuk para mahasiswa," tulis laman web resmi milik Pemerintah Australia tersebut.
Dengan pembatasan tersebut, sektor pendidikan dan pelatihan kejuruan mengalami penurunan ketersediaan kursi bagi mahasiswa asing di Australia. Jumlah mahasiswa pada sektor ini diperkirakan turun sebanyak 20 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, untuk sektor universitas, jumlah mahasiswa asing yang diperkenankan oleh Pemerintah Australia tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Pemerintah Australia juga telah menerapkan kebijakan untuk membebankan lebih dari dua kali lipat biaya visa pelajar asing.
Disebut berdampak pada pertumbuhan pendidikan
Melansir Reuters, pemberlakuan kuota pelajar asing yang akan mulai dilakukan pada 2025 mendatang merupakan langkah Pemerintah Australia untuk mengendalikan jumlah migrasi di Negara Kanguru tersebut.
Per 30 September 2023, jumlah migran yang datang ke Australia disebut meningkat hingga 60 persen. Sebagian besar peningkatan tersebut disumbang oleh mahasiswa asing baru dari India, Tiongkok, dan Filipina.
Kendati kebijakan ini diberlakukan, salah satunya, untuk mengatasi melonjaknya harga sewa hunian imbas pelajar asing, namun sejumlah universitas di Australia menanggapinya secara beragam.
Universitas Melbourne, misalnya, yang menilai kebijakan ini akan berdampak buruk pada pertumbuhan pendidikan di negara tersebut.
"Pembatasan jumlah mahasiswa internasional akan berdampak buruk bagi universitas kami, sektor pendidikan tinggi secara umum, dan sektor pendidikan skala nasional di tahun-tahun mendatang," ujar Wakil Rektor Universitas Melbourne Profesor Duncan Maskell.
Sementara itu, Universities Australia, organisasi yang berfokus pada pendidikan tinggi di Negara Kanguru, menyoroti dampak pembatasan terhadap perkembangan sektor pendidikan di negara tersebut.
Menurut mereka, pendidikan internasional di Australia merupakan salah satu sumber ekspor terbesar setelah bijih besi, gas, dan batu bara.
