Advertisement

Bagaimana Warga dan Tentara Zionis Israel Berkolaborasi Mengusir Penduduk Terakhir Desa Palestina?

07 July 2025 15:17 WIB

thumbnail-article

Pemukim Israel yang dikenai sanksi oleh Inggris, Zohar Sabah, terlihat bersantai bersama tentara beberapa jam sebelum penyerbuan ke Al-Mu’arrajat Timur. Sumber: Aliya Mlihat/ Middleeasteye.

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

RINGKASAN

Orang-orang Israel dan dengan senjata api mengancam warga dan membakar masjid.

Setelah bertahun-tahun menghadapi serangan dan intimidasi, penduduk terakhir desa Palestina Al-Mu’arrajat Timur di Lembah Yordan, Tepi Barat yang diduduki Israel, akhirnya meninggalkan rumah mereka. Mereka dipaksa pergi setelah serangan brutal yang terjadi pada malam hari, dipimpin oleh sekelompok pemukim Israel bersenjata.

Desa ini sebelumnya dihuni oleh sekitar 50 keluarga Badui Palestina. Sebanyak 30 keluarga telah lebih dulu meninggalkan desa karena kekerasan yang terus meningkat. Dua puluh keluarga terakhir bertahan hingga Kamis malam, sebelum akhirnya dipaksa mengungsi.

Serangan dimulai ketika para pemukim Israel mendirikan tenda hanya beberapa meter dari rumah-rumah warga. Malam itu, mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lain sambil mengacungkan senjata dan memaksa warga keluar.

Aliya Mlihat, salah satu warga, segera menghubungi polisi. Namun aparat keamanan baru tiba setelah beberapa waktu dan tidak melakukan intervensi—bahkan disebut memfasilitasi penyerbuan rumah-rumah warga. Mlihat menyebut sekitar 50 pemukim hadir malam itu, semuanya berbicara bahasa Arab dengan lancar.

“Ekspresi para tentara menunjukkan rasa puas—bahkan kegembiraan—seolah mereka menyetujui tindakan para pemukim,” katanya.

Mlihat berusaha merekam kejadian dengan ponselnya, namun mendapat ancaman dan pelecehan dari para pemukim, termasuk anak remaja laki-laki. Ia menyebut pemimpin serangan adalah Zohar Sabah, seorang pemukim yang telah dikenai sanksi oleh pemerintah Inggris. Sabah disebut datang dengan senapan M16 dan berteriak kepada warga untuk “menyeberang ke Yordania”.

Ketika kelompok itu tiba di rumah Mlihat, mereka mulai menggeledah properti dan memaksa keluarganya keluar. “Kami tidak punya pilihan selain membawa sisa kenangan kami—peralatan dapur, buku sekolah, lembar ujian saudari saya—dan pergi,” ujarnya.

Keluarga Mlihat kini tinggal di pinggiran kamp pengungsi, tanpa tenda, air, maupun akses sanitasi. Suhu di wilayah itu melebihi 40 derajat Celsius. Ia mengungkapkan bahwa adik perempuannya yang masih bersekolah kini terguncang secara psikologis. “Ia dulunya siswa terbaik, tapi kini belajar sambil menangis di bawah terik matahari tanpa air. Tak satu pun pejabat dari Kementerian Pendidikan menjenguk.”

Sementara itu, ayah mereka yang sempat dipukul di bagian dada kini kesulitan bernapas, dan ibu mereka terus menangis sejak malam serangan.

Pola Kekerasan Sistematis

Mlihat lahir dan besar di Al-Mu’arrajat Timur. Ia menyebut kekerasan mulai meningkat sejak Oktober 2020, dimulai dari pencurian ternak, pembatasan wilayah penggembalaan, hingga meracuni domba milik warga.

Setelah perang Israel di Gaza dimulai, kekerasan di Tepi Barat meningkat tajam. Pemerintah sayap kanan Israel dinilai memberi ruang bagi pemukim untuk memperluas kendali mereka.

Pada Oktober lalu, kelompok pemukim—termasuk Sabah—menyerbu sekolah desa, memukul guru dan murid dengan pentungan, serta mengikat kepala sekolah yang kemudian dilarikan ke rumah sakit. Setelahnya, mereka menaruh boneka penuh cat merah menyerupai darah di gerbang sekolah, dan mengulang aksi simbolik ini pada Januari.

Pada Februari, masjid desa dibakar hingga rata dengan tanah.

Pelanggaran Hukum Humaniter Internasional

Menurut Aliya Mlihat, serangan yang terjadi bukan tindakan individu ekstremis, melainkan bagian dari kebijakan negara yang disengaja untuk mengambil alih wilayah Palestina. Organisasi Norwegian Refugee Council menyatakan bahwa pengusiran paksa ini bisa dikategorikan sebagai pemindahan paksa, yang dilarang dalam Pasal 49 Konvensi Jenewa IV dan termasuk kejahatan perang menurut hukum internasional.

“Ini bukan pengungsian sukarela. Mereka menghadapi pilihan yang mustahil,” kata Shaina Low dari organisasi tersebut.

Pola Serangan yang Diulang di Seluruh Area C

Pengusiran di Al-Mu’arrajat Timur mengikuti pola yang sama di desa Badui tetangga, Mughayir ad-Deir, pada akhir Mei lalu. Pemukim mendirikan tenda di tengah desa, menghubungkannya dengan sumber air dari pos pemukim terdekat, dan secara bertahap memaksa 125 penduduk pergi ke zona industri Beitunia—tanpa akses listrik maupun air.

Zohar Sabah terlibat juga dalam serangan itu bersama pemukim lain, Ben Pazi, yang juga masuk daftar sanksi Inggris.

Komunitas Ras Ein al-Auja, dengan 130 penduduk, diduga menjadi sasaran berikutnya setelah pemukim membangun pos baru di tengah desa pada Juni.

“Pola ini kini direplikasi: beberapa pemukim mendirikan pos, menggembala ternak di tanah penggembalaan warga, merebut akses air, mencuri domba, dan meneror warga,” kata Low.

“Lalu kekerasan meningkat di malam hari.”

Kehilangan Tanah dan Masa Depan Palestina

Menurut Low, dampak bagi komunitas sangat parah. Akses terhadap tanah dan air di Tepi Barat semakin langka. Banyak warga kini menjual ternaknya karena utang, kehilangan sumber penghidupan utama mereka.

“Kita menyaksikan proses penghapusan komunitas Palestina di Area C, dan kini bahkan di Area B dan Area A,” ujarnya.

Area A berada di bawah kendali administratif penuh Otoritas Palestina dan mencakup 21 persen Tepi Barat. Area B berada di bawah kendali sipil bersama, dan Area C—yang menjadi target utama para pemukim—adalah 60 persen wilayah dan berada di bawah kendali penuh Israel.

Jika komunitas Palestina terus diusir dari area ini, maka proyek permukiman Israel akan berkembang lebih luas dan saling terhubung, menghancurkan kemungkinan solusi dua negara.

Meski diplomat internasional sering berkunjung ke desa-desa Palestina yang terancam, Low menegaskan bahwa mereka tidak berbuat cukup untuk mencegah pengusiran ini terjadi.

“Mereka datang, berbicara, mengutuk, tapi tidak mencegah. Penghapusan komunitas ini terus terjadi di depan mata kita,” tegasnya.

Sumber: middleeasteye

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement