Bayar Pakai Paylater dan Pinjol Ternyata Lebih Disukai Anak Muda, Kenapa Ya?

17 Mei 2024 20:05 WIB

Narasi TV

Penulis: Tasya Salsabilla Dirgantari

Editor: Indra Dwi Sugiyanto

Era digital telah berhasil membawa banyak dampak perubahan yang signifikan dalam kehidupan, salah satunya yaitu cara bertransaksi yang kian mudah dan bervariasi. Hal ini tentu sangat cocok untuk anak muda yang cenderung suka dengan hal yang praktis dan instan. Terlebih lagi, kini ada opsi pembayaran seperti pinjaman online (pinjol), paylater, dan kartu kredit yang memperbolehkan masyarakat untuk melakukan pinjaman tunai dan atau “beli sekarang, bayar nanti”. 

Ketiga opsi pembayaran tersebut kini jadi cara alternatif yang digunakan oleh masyarakat, terutama anak muda saat berbelanja online. Beberapa alasan mereka lebih suka opsi pembayaran tersebut diantaranya karena mereka bisa membeli barang tanpa harus membayarnya saat itu juga. Jadi, pembayaran itu nantinya dapat dilakukan di bulan berikutnya beserta dengan bunga saat jatuh tempo pembayaran. Selain itu, syarat penggunaanya juga sangat mudah dan limitnya besar. Jika dilihat, opsi pembayaran ini memang sangat praktis digunakan, terutama saat ada kebutuhan yang mendesak. 

Melalui aplikasi SurV, Nara x Data (Narasi x Lokadata) telah berhasil mengumpulkan 1.166 data responden untuk mengetahui opsi pembayaran yang pembeli lakukan saat berbelanja online. Pengumpulan data ini dilakukan sejak tanggal 28-29 Agustus 2023, dengan rentang usia responden 18-35 tahun. Survei ini dilakukan di 12 provinsi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Hasil inti survei menunjukkan bahwa sebanyak 62% orang menggunakan opsi pembayaran paylater, lalu diikuti dengan 31% orang menggunakan dana instan (uang tunai), dan beberapa orang lainnya menggunakan kartu kredit. 

Berikut merupakan hasil survei terkait beberapa kelebihan opsi pembayaran paylater dan pinjol dari responden saat berbelanja online, dua diantaranya memilih dengan alasan karena prosesnya lebih cepat dan aksesnya mudah.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dari masyarakat Indonesia yang cukup konsumtif,  paylater  dan pinjol sebenarnya tidak hanya bisa digunakan untuk memfasilitasi keuangan dengan cepat dan mudah saja, namun juga memiliki peran dalam mengelola keuangan jangka panjang. Hal ini dapat dibuktikan dengan sebanyak 27% orang memilih alasan tersebut dalam hasil survei.

Sedangkan, sajian data di bawah ini merupakan alasan mereka menggunakan opsi pembayaran paylater dan pinjol dalam proses transaksinya. Dari hasil survei, terlihat bahwa sebanyak 53% orang menggunakan opsi pembayaran tersebut untuk memenuhi kebutuhan darurat. Selanjutnya, 27% orang menggunakannya untuk membeli kebutuhan pribadi, lalu 23% orang lainnya untuk membayar tagihan rutin. Memang keadaan darurat dan gaya hidup yang konsumtif dari masyarakat masih mendominasi alasan mereka untuk menggunakan paylater dan pinjol. Namun selain itu, ternyata ada juga orang yang menggunakan opsi pembayaran tersebut untuk modal usaha dan investasi. 

Dibalik beberapa kelebihan dan alasan mereka yang menggunakan paylater dan pinjol, ternyata ada kekurangan hingga dampak buruk yang bisa menghantui para penggunanya. Beberapa orang dari mereka diantaranya dalam hasil survei menjawab bahwa mereka takut terlena dengan kenikmatan opsi pembayaran tersebut yang dikhawatirkan dapat membuatnya semakin boros atau bahkan kecanduan. Selain itu, mereka juga takut akan utang yang semakin bertambah apabila dikemudian hari mengalami kesulitan saat membayar tagihan. 

Berikut merupakan data responden dari hasil survei yang menunjukkan berbagai alasan kekhawatiran mereka terkait penggunaan opsi pembayaran paylater dan pinjol. Sebanyak 54% orang pernah menggunakan opsi pembayaran tersebut, dan 47% orang lainnya belum pernah menggunakan. Dua hal yang paling mereka takutkan diantaranya adalah terkait keamanan data pribadi dan kemungkinan terjebak dalam utang.

Dari beberapa orang yang masih khawatir dengan opsi pembayaran paylater dan pinjol, berikut ada sajian data terkait nominal aman peminjaman apabila ingin menggunakannya. Beberapa orang diantaranya menjawab, sebanyak 32% orang berani meminjam uang sebanyak Rp1.000.000,00 hingga kurang dari Rp500.000,00 saat transaksi belanja online. Lalu, sisanya menjawab dengan pilihan nominal lain yang bervariatif.


Kata paylater dan pinjol memang selalu mendapat stigma buruk di mata masyarakat. Padahal, jika dilihat dari data hasil survei diatas, tidak semua orang menggunakan opsi pembayaran tersebut untuk hal-hal yang buruk atau kurang bermanfaat. Beberapa orang dari mereka diantaranya juga masih memiliki rasa takut akan utang yang menumpuk dan kesadaran untuk membayar tagihan tepat waktu. Melalui survei ini, Nara X Data ingin memberikan sudut pandang berbeda mengenai paylater dan pinjol yang selalu mendapatkan stigma buruk, namun banyak juga digunakan oleh masyarakat untuk berbelanja online, terutama anak muda saat ini.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR