Jika muda-mudi masa kini tengah merawat seni dengan tren “museum date”, saya kira kita telah berada di jalur yang benar. Seni, sering kali sulit dirayakan di negara-negara berkembang seperti Indonesia sebab–mungkin, seni dianggap terlalu eksklusif. Tapi, tentu dengan membangun kesadaran bahwa mengunjungi museum adalah salah satu alternatif kegiatan bermanfaat, seni sedikit demi sedikit bisa dikembangkan.
Mustahil bicara seni tanpa mengintip bagaimana negara tetangga, Singapura, telah merayakannya sedemikian rupa. Instalasi tergelar di berbagai sudut kota. Pameran dan apresiasi juga rutin diadakan. Beberapa warganya menjadikan National Gallery Singapore sebagai tempat nongkrong populer untuk melakukan berbagai kegiatan. Baik untuk bekerja, wisata, jalan-jalan iseng, sampai lamaran romantis.
Karya Raden Saleh Selalu Punya Tempat Istimewa
![]()
National Gallery Singapore adalah salah satu museum seni terbesar di Singapura. Ragam kegiatan edukasi dan ekshibisi digelar berkala. Yang tak kalah menarik bagi kita sebagai orang Indonesia, adalah dipajangnya lukisan karya Sang Maestro, Raden Saleh.
Dalam kunjungan yang saya lakukan pada awal Juni 2024, Forest Fire atau Boschbrand (1849) berdiri dengan megah di sebuah dinding bercat merah di National Gallery Singapore. Lukisan ini adalah yang terbesar yang dibuat Sang Maestro.
Forest Fire dengan dramatis menggambarkan siklus hidup dan mati serta bagaimana alam menjadi latar dari binatang buas yang berada di dalamnya. Mustahil tak memandang lekat lukisan ini dalam waktu lama. Sebab aliran Romantisme dan goresan layer demi layer cat minyak begitu detail diletakkan dalam kanvas.
![]()
Tak kalah megah, Six Horsemen Chasing Deer atau Enam Pria Berburu Rusa (1860) dan Javanese Temple in Ruins atau Reruntuhan Candi Jawa (1860) juga tampil di sebelahnya. Bersama berbagai karya Maestro dari abad ke-19, lukisan-lukisan Raden Salah dipamerkan permanen di National Gallery Singapore.
Karya-karya Raden Saleh yang mendunia ini memang dihargai puluhan sampai ratusan miliar rupiah oleh para kolektor. Pada 2018, Berburu Banteng atau Wild Bull Hunt (1855) memecahkan rekor sebagai karya lukisan Indonesia termahal yang dilelang ke kolektor seharga 7,2 juta euro atau Rp119,9 miliar rupiah ketika itu.
Nama Raden Saleh begitu baik tersemat dari Eropa, Asia, hingga Indonesia. Tidak mengherankan jika sineas Angga Sasongko berusaha menghidupkan geliatnya melalui film Mencuri Raden Saleh (2022). Menceritakan tentang betapa pentingnya karya-karya Maestro dan betapa anak muda juga dekat dengan seni.
Next Level Galeri Tak Cuma soal Pameran Seni
![]()
Mendengar kata museum dan galeri, selalu identik dengan pameran-pameran seni. National Gallery Singapore, layaknya galeri pada umumnya, memang memiliki beberapa ruang instalasi untuk pameran permanen dan temporer. Tapi, lebih dari itu, National Gallery SIngapore punya kontribusi cukup serius menyoal sustainability atau keberlanjutan.
Galeri megah yang terletak di jantung Singapura itu punya visi untuk sesegera mungkin menjadi bangunan super low energy dan mencapai net zero 2045. Sebenarnya, komitmen ini juga sejalan dengan bagaimana negara-negara di Asia Tenggara merespons perubahan iklim dan isu lingkungan yang semakin serius belakangan.
Tak sekadar visi, tiga pilar penting diterapkan untuk mencapai tujuan di atas. Pertama, dari pilar lingkungan. National Gallery Singapore menargetkan bangunannya segera meraih BCA Super Low Energy. Salah satunya menginstal sistem sirkulasi udara dengan pemanfaatan kaca dan air hujan guna menciptakan kontrol kelembapan. Selain menghemat penggunaan pendingin elektronik, terapan ini juga membantu mengurangi penggunaan lampu sebagai penerangan dalam ruangan. Solar Photovoic (Solar PV), efektivitas penggunaan air, hingga Building Management System (BMS) diupayakan dengan matang dari waktu ke watu.
Kedua, dari pilar sosial. Barangkali kunjungan saya dalam program JVP (Journalist Visit Programme) yang diselenggarakan Singapore International Foundation (SIF) 2-7 Juni 2024 juga salah satu upaya sosial. Menularkan semangat keberlanjutan Singapura melalui kunjungan 13 jurnalis dari 7 negara jadi salah satu cara unik. Utamanya untuk menyadarkan lebih banyak orang bahwa upaya keberlanjutan alam ada bisa diterapkan di setiap instrumen kegiatan, termasuk seni. Meski tentu saja, upaya edukasi ini juga masif dilakukan melalui berbagai workshop dan praktik seni lain yang diselenggarakan National Gallery Singapore.
Ketiga, pilar finansial. Berkelindan dengan pilar lingkungan, pemanfaatan energi yang baik sejalan dengan bagaimana upaya penghematan secara finansial. Investasi hijau yang diterapkan dalam bangunan dan keseharian, juga bisa memegang poin penting dalam pilar pertanggungjawaban finansial.
Jadi perjalanan berjumpa Raden Saleh kali ini tak hanya memberikan makna pada perayaan seni, tapi juga bagaimana seni berkontribusi dalam keberlanjutan.
[Narasi Newsroom berkolaborasi dengan Golin dan Singapore International Foundation (SIF) dalam menyusun laporan ini. Kunjungan ke Singapura dilakukan pada 2-7 Juni 2024.]
