Advertisement

Cara Singapura Menyatukan Perbedaan: Dari Meja Makan hingga Peribadatan

26 June 2024 18:53 WIB

thumbnail-article

Mural Hawker di Harmony in Diversity Gallery. .

Penulis: Ajeng Rizka

Editor: Ajeng Rizka

Ketika bertandang ke Singapura, rasanya tidak pernah lengkap jika tak mengunjungi hawker. Sebetulnya hawker adalah sebuah sentra kuliner yang mengumpulkan banyak outlet dalam satu tempat. Ini layaknya pujasera atau kantin bersama yang menyatukan semua orang pada tempat yang sama untuk makan.

Namun, di balik sederhananya konsep ini, hawker culture adalah sebuah budaya tak benda yang tercatat dalam UNESCO dan memiliki pemaknaan begitu kuat untuk Singapura. Budaya inilah yang kemudian jadi sebuah kekuatan untuk menyatukan kemajemukan.

Pada awalnya hawker culture tercipta untuk mengumpulkan penjaja makanan keliling di Singapura. Demi penertiban dan kesehatan, pedagang kaki lima direlokasi dalam satu tempat yang menyediakan akses terhadap air bersih sehingga mengurangi kontaminasi. Di medio 1960-an, pemerintah turut mengintervensi aturan-aturan penertiban ini sebab masalah wabah jadi hal yang serius.

Namun, justru dari sinilah kemajemukan masyarakat menyatu dalam satu meja. Di tempat yang sama, makanan khas China, India, Melayu, sampai Timur Tengah bisa dinikmati oleh siapa saja. Relief kebersamaan ini jadi salah satu tonggak yang memperkuat Singapura untuk mencegah konflik ras dan agama. Rumitnya perbedaan terkadang justru mampu diuraikan dari suatu hal sederhana yang lekat dan kita lakukan dalam keseharian; makan.

Telok Ayer, Pusat Peribadatan Berbagai Pemeluk Agama

Sejumlah jurnalis dari Asia Tenggara di depan Masjid Al-Abrar

Mempelajari keberagaman di Singapura sebetulnya jadi hal yang menarik. Sebab dari sinilah mungkin kita bisa belajar mengurai benang-benang kusut permasalahan intoleransi yang masih sering terjadi di Indonesia. Meski sama dalam hal keberagaman dan tak serupa konfliknya, banyak insight baik yang bisa diadaptasi.

Narasi berkesempatan mengunjungi Singapura pada awal Juni 2024. Kami bertemu Imran Ahmed dari Harmony in Diversity Gallery. Galeri ini berlokasi tak jauh dari Telok Ayer. Imran, mengajak kami berjalan di sepanjang Telok Ayer untuk menunjukan bahwa pada masa lampau, sepanjang jalan di Telok Ayer adalah pusat peribadatan berbagai pemeluk agama.

Sejumlah jurnalis dari Asia Tenggara di depan kuil Tian Hock Kheng

Beberapa di antaranya adalah Chinese Methodist Church yang dibangun pada 1925, Masjid Al-Abrar yang sudah 1827 berdiri, Kuil Thian Hock Keng dari 1821, sampai The Nagore Dargah yang merupakan pusat warisan budaya dari Muslim-India. Seluruh bangunan ini berada dalam satu area sepanjang jalan Telok Ayer. Ini menunjukkan bahwa sejatinya sejak lampau juga, masyarakat yang berbeda keyakinan pun telah hidup berdampingan.

Pada saat ini, rumah-rumah ibadah tersebut masih difungsikan sebagaimana mestinya. Kami juga menyaksikan kuil Thian Hock Keng yang ramai pengunjung dan digunakan untuk sembahyang.

Bukan Tanpa Konflik, Kerusuhan Ras dan Agama Pernah Terjadi di Singapura

Instalasi Maria Hertogh Riots di Harmony in Diversity Gallery

Singapura mengakui adanya 10 agama resmi dan beberapa masyarakatnya juga bukanlah pemeluk agama. Berdasarkan Census of Population 2000, Imran Ahmed menyatakan bahwa 31,1% penduduk Singapura beragama Buddha, 20% bukan pemeluk agama, 18,9% beragama Kristen, 15,6% Muslim, 8,8% Taois, 5,0% memeluk Hindu, 0,35% pemeluk Sikh,dan 0,28% lainnya adalah Baha’i, Jains, Yahudi, Zoroaster, dll. Persentase ini juga terpasang jelas di Harmony in Diversity Gallery Singapore.

Meski begitu, menyatukan perbedaan yang terlampau berwarna ini bukannya tanpa aral. Singapura amat mengenal bagaimana Maria Hertogh Riots atau Kerusuhan Maria Hertogh terjadi. Nadra binte Ma'rof atau Maria Hertogh adalah seorang gadis yang lahir di Cimahi. Ayahnya merupakan seorang perwira KNIL yang ketika itu tengah diasingkan ke Burma.

Oleh karena permasalahan ekonomi pascakonflik, Maria kemudian secara resmi diadopsi oleh Aminah dari keluarga bangsawan Malaya dan berganti nama menjadi Nadra binte Ma’rof. Beberapa tahun setelahnya ketika sang ayah kembali dari pengasingan, ayahnya ingin mengambil kembali Maria dan membawanya ke Belanda. Kesalahpahaman pun banyak terjadi selama proses berlangsung. Maria tidak ingin kembali bersama ayah kandungnya. Jalur hukum ditempuh. Hingga Maria kemudian nikah gantung dengan seorang pria Kelantan, Mansoor Adabi.

Sayangnya, nikah gantung dianggap telah menyalahi hukum sebab Maria masih di bawah umur ketika itu. Padahal, bagi umat Muslim, budaya semacam ini sah dilakukan karena Mansoor dan Maria pun harus menunggu usia dewasa agar bisa tinggal satu rumah. Singkat cerita, Pengadilan Tinggi Singapura, berdasarkan permintaan ayah kandung Maria, memutuskan Maria Hertogh untuk dibawa pulang ke Belanda meski itu tak sesuai kemauannya.

Usai persidangan, kerusuhan terjadi. Masyarakat Singapura menjadi semakin sensitif dengan ras kulit putih. Beberapa wajah “bule” dari Belanda dihakimi massa akibat masalah ini. Korban meninggal dan luka-luka berjatuhan. Konflik keluarga berubah menjadi konflik ras dan agama.

Hingga dewasa, Maria Hertogh tinggal bersama ayah kandung dan tak bisa kembali bertemu dengan Aminah, ibu angkatnya. Cerita yang menyedihkan inilah yang juga menginspirasi kisah dalam novel penting Bumi Manusia atau Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Singapura meyakini ada 4 poin penting yang bisa dipelajari dari Maria Hertogh Riots. Yaitu, sensitifnya konflik agama yang perlu dipahami dengan baik, framing media sensasional terhadap suatu masalah dapat memicu konflik, mencampuri urusan politik dan agama adalah hal yang perlu dihindari, hingga kesalahan keputusan dan pemerintah kolonial yang seharusnya tak ada.

Bagi Singapura, peristiwa ini telah jadi catatan sejarah konflik ras dan agama yang tak perlu terulang. Untuk itulah saat ini, melalui Harmony in Diversity Gallery, edukasi tentang keberagaman banyak disebarkan dan dijadikan pembelajaran.

 

[Narasi Newsroom berkolaborasi dengan Golin dan Singapore International Foundation (SIF) dalam menyusun laporan ini. Kunjungan ke Singapura dilakukan pada 2-7 Juni 2024.]

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement