Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat mulia dalam Islam. Pada hari-hari tersebut, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amalan ibadah, termasuk puasa sunnah.
Lantas bagaimana bagi orang-orang yang masih mempunyai utang puasa Ramadhan, dan belum sempat mengqadhanya? bolehkah berpuasa membayar utang dengan juga berpuasa Dzulhijjah?
Seperti kita ketahui bersama qadha puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang tidak sempat memenuhi puasa Ramadhan karena uzur syar’i seperti haid, sakit, perjalanan jauh, atau sebab lain yang dibenarkan dalam agama Islam.
Puasa qadha wajib dilaksanakan sebagai pengganti puasa yang tertinggal saat Ramadhan agar kewajiban puasa dianggap sempurna. Waktu pelaksanaan qadha biasanya fleksibel, tetapi dianjurkan untuk segera dilaksanakan sebelum datang Ramadhan berikutnya.
Hukum Menggabungkan Niat Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan
Mengutip laman NU Online sebagian ulama mengizinkan menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Dzulhijjah. Menurut mereka, orang yang berpuasa dengan niat qadha Ramadhan pada hari-hari Dzulhijjah tetap mendapatkan pahala qadha dan juga pahala puasa sunnah Dzulhijjah. Hal ini didasarkan pada beberapa kitab fikih klasik seperti Asnal Mathalib dan I‘anatut Thalibin yang menyatakan
الصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمُتَأَكَّدِ صَوْمُهَا مُنْصَرِفٌ إِلَيهَا، بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَتْ إلخ: زَادَ فِي الْإِيْعَابِ وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِى بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيْهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا، نَوَاهُ مَعَهُ أَوْ لَا
Artinya: "Berpuasa pada hari-hari yang dianjurkan secara otomatis akan memperoleh keutamaan khusus pada hari-hari tersebut. Bahkan jika seseorang berniat untuk berpuasa dengan niat lainnya, pahala dari keduanya tetap bisa didapatkan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan baiknya mengqadha utang puasanya terlebih dahulu. Setelah itu mereka baru boleh mengamalkan puasa sunnah di bulan Dzulhijjah.
Namun jika utang puasa Ramadhan itu baru teringat pada bulan Dzulhijjah, maka ia dapat membayar utang puasa dan juga mendapat keutamaan dari puasa sunnahnya. Akan halnya keutamaan puasa di bulan Dzulhijjah, sebagai hadits Rasulullah:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هٰذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُو لَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
Artinya: Tidak ada hari di mana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Tidak juga dari jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.”
Niat Puasa Qadha Ramdhan dan Sunnah Dzulhijjah
Niat puasa wajib qadha Ramadhan
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa 1-7 Dzulhijjah
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُوالْحِجَّةٌ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahru dzulhijjah sunnatan lillaahi ta'aala.
Artinya: "Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta'ala."
