Advertisement

3 Rumus Ketenangan dan Kebahagiaan Hidup Menurut Islam

05 November 2024 22:53 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi kebahagiaan. (Sumber: Pexels/cottonbro studio) .

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Setiap orang pasti menginginkan hidup tenang dan bahagia, terlebih pada era penuh tantangan dan dinamika seperti sekarang yang membuat kita kerap kurang merasa bahagia.

Dalam Islam, hidup yang tenang dan bahagia juga merupakan suatu diskursus. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ini menawarkan sejumlah cara agar mendapatkan nikmat tersebut.

Lantas apa bagaimana rumus hidup tenang dan bahagia yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Cara agar hidup tenang dan bahagia

Dikutip dari NU Online, KH Baharuddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha mengatakan ada beberapa rumus hidup yang membuat hidup kita tenang dan bahagia.

Dalam hal ketenangan dan kebahagiaan hidup, ulama asal Rembang, Jawa Tengah tersebut mengatakan:

أسرار السعادة ثلاثة؛ الصبر والشكر والإخلاص

Artinya: Rahasia kebahagiaan itu ada tiga hal, yakni bersabar, bersyukur dan ikhlas.

Ketiga perkara yang menentukan kebahagiaan hidup tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Banyak bersabar

Bersabar sendiri adalah menahan diri dari emosi serta bertahan agar tidak mengeluh di tengah kesulitan atau musibah, untuk mencapai ini dibutuhkan hati yang lapang.

Dalam prosesnya, seseorang yang bersabar akan membentuk kepribadian yang kuat serta menjadi hamba yang kuat dalam melewati berbagai cobaan hidup.

Hal ini, sebagaimana juga dijelaskan dalam surah Ali Imran ayat 200 berikut:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Menurut Quraish Shihab, tafsir ayat di atas menyatakan jika hukum bersabar adalah wajib. Setiap hamba yang tertimpa musibah maka wajib bersabar dari awal ujian datang hingga mendapatkan jalan keluarnya. 

Sabar, menurutnya, merupakan tombak utama dalam iman. Semakin tinggi kesabaran kita maka semakin tinggi pula iman kita.

2. Bersyukur

Kunci hidup tenang dan bahagia selanjutnya adalah perbanyak bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat yang diberikan kepada kita.

“Syukur” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “rasa terima kasih kepada Allah”. 

Bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. bisa dikerjakan dalam tiga hal, yang pertama secara lisan, kedua secara batin atau hati, dan yang ketiga bersyukur dengan anggota badan.

Bersyukur dengan lisan adalah menyatakan bahwa nikmat itu berasal dari Allah Swt. dan tidak menyandarkan segala sesuatu kepada makhluk.

Bersyukur dengan hati adalah dengan keyakinan yang abadi, kuat, dan kokoh bahwa semua nikmat, manfaat, dan kelezatan yang ada padamu, baik lahir maupun batin, baik gerakmu maupun diammu adalah berasal dari Allah Swt., bukan dari selain-Nya. 

Sementara bersyukur dengan anggota badan adalah dengan menggerakkan dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah bukan untuk selain-Nya. 

Misalnya syukur dengan mata, yakni digunakan untuk melihat apa yang dihalalkan oleh Allah, dan menjaga mata dari apa yang Allah haramkan. 

Dengan begitu Allah akan memberikan kelezatan iman dalam hatinya.

3. Ikhlas

Dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani, disebutkan bahwa ikhlas adalah “engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah.” Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran.

Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd menjelaskan keikhlasan sebagai berikut:

فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58)

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement