DKI Jakarta
Pertama yang menjadi sorotan sejak penghitungan suara Rabu, 27 November 2024 ada pasangan Pramono Anung dan Rano Karno berhasil meraih kemenangan dalam Pilkada DKI Jakarta versi quick count.
Berdasarkan hasil akhir yang dikeluarkan oleh lembaga survei, Pramono-Rano mampu mengumpulkan suara sebesar 50,15 persen dari total suara yang masuk.
Perolehan ini menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan dengan pasangan Ridwan Kamil-Suswono yang hanya memperoleh 39,25 persen, serta pasangan Dharman Pongrekun-Kun Wardana yang meraih 10,6 persen.
Hasil hitung cepat dari lembaga survei seperti Charta Politik dan Indikator Politik mengindikasikan bahwa meskipun ada kompetisi ketat, pasangan yang diusung oleh PDIP ini tetap berada di posisi terdepan.
Margin of error yang relatif rendah menunjukkan bahwa hasil ini dapat dipercaya, dan pencapaian tersebut menjadi momentum penting bagi PDIP di ibu kota.
Bengkulu
Di Provinsi Bengkulu, pasangan Helmi Hasan-Mian juga menunjukkan performa yang sangat baik dalam quick count Pilgub 2024. Dengan perolehan suara sebesar 56,18 persen, Helmi-Mian berhasil mengalahkan pasangan Rohidin-Meriani yang mendapatkan 43,82 persen.
Kemenangan ini tidak lepas dari dukungan koalisi yang terdiri dari beberapa partai, termasuk PDIP, PAN, PKB, Gerindra, Demokrat, NasDem, dan Gelora.
Keberhasilan ini menegaskan kekuatan PDIP di Bengkulu sebagai salah satu wilayah kunci dalam peta politik nasional.
Dengan kemenangan tersebut, langkah strategis yang diambil oleh pasangan ini dan dukungan dari kolega politik lainnya menjadi faktor penentu dalam meraih suara mayoritas.
Jambi
Hasil quick count dari Pilgub Jambi menunjukkan bahwa pasangan Al Haris dan Abdullah Sani berhasil meraih kemenangan telak dengan perolehan suara sebesar 60,92 persen.
Hasil ini merupakan capaian yang sangat signifikan, mengingat persaingan yang ada. Pesaing mereka, Romi Hariyanto-Sudirman, hanya mendapatkan 39,08 persen.
Keberhasilan ini diakui oleh lembaga survei LSI Denny JA yang menyebutkan bahwa perolehan suara tersebut dihimpun dari total suara yang masuk.
Koalisi dari delapan partai, termasuk PDIP, PAN, PPP, Demokrat, PKB, PKS, Gerindra, dan Golkar, menunjukkan kekuatan kolaborasi politik yang solid dalam memenangkan pertandingan ini.
Hal ini menjadi tanda bahwa PDIP mampu membangun aliansi yang kuat dalam menghadapi pemilihan.
Bali
Provinsi Bali juga menunjukkan kecenderungan positif bagi PDIP, dengan pasangan petahana Wayan Koster-I Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri) yang mengklaim kemenangan berdasarkan hitungan real count internal mereka.
Hasil yang diklaim mencapai 61 persen menjadi indikasi keberhasilan mereka dalam menjaga kekuasaan di Bali. Pasangan rival, Made Muliawan Arya-Putu Agus Suradnyana, hanya mampu meraih 38,56 persen suara.
Klaim kemenangan ini didasarkan pada penghitungan dari 6.092 dari 6.795 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang sudah terisi, menunjukkan bahwa PDIP berkomitmen untuk transparan dalam proses pemilu.
Apresiasi dari pihak lawan juga menunjukkan profesionalisme dalam berpolitik, di mana Made Muliawan Arya memberikan ucapan selamat atas kemenangan
.Keberhasilan ini menandakan bahwa PDIP dapat mempertahankan basis suaranya, sekaligus menunjukkan kekuatan dan koneksi emosional yang dibangun selama ini dengan masyarakat Bali.
Kemenangan di berbagai daerah ini menyoroti pentingnya ketahanan dan strategi dalam menghadapi dinamika pemilihan.
