Di Balik PHK Massal Perusahaan Digital Dunia

18 November 2022 19:11 WIB

Narasi TV

Ilustrasi - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). (ANTARA)

Penulis: Rahma Arifa

Editor: Akbar Wijaya

Amazon umumkan PHK 10.000 karyawan. Kabar ini menambah daftar PHK massa di perusahaan teknologi seperti Meta, Twitter, Microsoft dan Snap.

Gelombang PHK juga terjadi di Asia. Di Indonesia, PHK menjadi strategi bertahan bagi plaform e-commerce JD.ID, Lummo, dan LinkAja. Sedangkan, Sea Ltd, perusahaan asal Singapura yang membawahi Shopee, melepaskan sebanyak 7,000 karyawan di tahun 2022. 

Tracker PHK TrueUp mencatat total jumlah PHK di bulan November 2022 saja telah mencapai lebih dari 48.000 karyawan.

Faktor Pemicu PHK Massal

Recovery ekonomi setelah pandemik COVID-19 disebut-sebut sebagai alasan. Dengan segala pembatasan kegiatan yang berlangsung sepanjang 2019-2021, perusahaan teknologi dan industri e-commerce diuntungkan oleh tumpahan aktivitas penggunaan sosial media.

Selain itu, belanja online menjadi satu-satunya pilihan yang pada akhirnya menaikkan penggunaan bagi perusahaan seperti Amazon dan Shopee.

Dengan demand yang begitu tinggi, banyak dari perusahaan yang mengira pertumbuhan tersebut sebagai sesuatu yang permanen. Oleh karena itu, perusahaan menaikkan jumlah karyawan untuk mengakomodasi tren yang begitu tinggi.

Meta, contohnya, menambah 15,000 pekerja tambahan hanya dalam 6 bulan pertama tahun 2022. Selain itu, Shopee mencatat rekor tertinggi yang mencapai 2 miliar item penjualan pada periode “11.11”.

“Saya membuat keputusan untuk menaikkan investasi secara signifikan. Namun, hal ini tidak berjalan sesuai ekspektasi saya” ujar Mark Zuckerberg, Chief Excecutive dari Meta, dikutip oleh dalam surat terbuka kepada karyawannya (9/11/22).

Hal yang sama juga dikatakan oleh mantan CEO Twitter, Jack Dorsey. Dorsey memohon maaf atas keputusan yang merugikan banyak karyawannya.

“Saya paham bahwa banyak yang marah terhadap saya. Saya bertanggung jawab atas alasan mengapa semua orang ada dalam situasi ini. Saya mengembangkan ukuran perusahaan terlalu cepat. Saya mohon maaf untuk itu.” Cuit Dorsey dalam akunnya @jack .

Meta melepaskan 11,000 pekerja atau sekitar 13% dari total jumlah pekerja mereka. Sedangkan Shopee memutuskan penutupan cabang di India dan Perancis, 5 bulan setelah launching di region tersebut.

Jatuhnya pemasukan bukan hanya disebabkan oleh berakhirnya tren pengguna masa pandemik. Pasalnya, banyak revenue iklan yang berkurang. Padahal, iklan menjadi sumber pemasukan terbesar bagi platform media sosial seperti Meta, Youtube, Instagram dan Twitter.

Microsoft, misalnya, mengalami pengurangan pemasukan dari iklan. Kerugian tersebut ditaksir lebih dari 100 juta USD dari perushaan anak Microsoft, LinkedIn. 

Terlebih, keamanan data tengah menjadi perdebatan bagi pengguna. Pihak pengiklan juga kerap mendapat perlawanan tentang praktik iklan yang terasa intrusif.

Efeknya, perusahaan perangkat seperti Apple mengenakan kebijakan yang berimbas pada berkurangnya iklan. Misalnya, Apple mempersulit pelacakan dan pengumpulan data aktivitas pengguna. Akibatnya, perusahaan lebih sulit untuk menjual data kepada pengiklan.

Penurunan pemasukan juga menjadi dampak langsung dari ketidakpastian kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu. Inflasi, penurunan belanja konsumen dan naiknya suku bunga berdampak pada turunnya harga saham perusahaan. 

“Seperti yang diketahui, kita sedang mengalami makro-ekonomi yang tidak biasa dan tidak stabil. Dengan ini, kami telah bekerja beberapa bulan lalu untukmemprioritaskan elemen perusahaan apa yang paling penting bagi konsumen dan bisnis.. Sebagai konsekuensi dari keputusa ini, terdapat beberapa posisi yang tidak lagi dibutuhkan.” tulis Dave Limp, Wakil Presiden Senior dari divisi Device and Services Amazon dalam team update yang diunggah ke website Amazon.

Kondisi ekonomi ini bukan hanya menjadi tekanan bagi perusahaan yang mengalami PHK. Apple, misalnya, memutuskan hiring freeze atau pemberhentikan pembukaan lowongan kerja sampai ekonomi dunia bisa terbilang lebih stabil. 

Kenaikan suku bunga meningkatkan pengeluaran perusahaan dalam modal dan operasi bisnis. Terlebih dengan ancaman resesi yang telah menjadi proyeksi dalam tahun mendatang. Efeknya, ekspektasi return atau ekspektasi keuntungan memburuk dan membuat investor enggan untuk menyuntik dana pada banyak perusahaan.

Topik:

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR