Eksklusif Mata Najwa, Cerita Anies tentang Surat yang Meminta AHY Jadi Bacawapres

5 September 2023 09:09 WIB

Narasi TV

Wawancara ekslusif Mata Najwa dengan Bacapres dan Bacawapres Koalisi Perubahan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

Bakal calon presiden (bacapres) dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan Anies Rasyid Baswedan menjelaskan asal-muasal lahirnya surat bertanggal 25 Agustus 2023 yang kemudian dijadikan dalil oleh Partai Demokrat bahwa mereka dikhianati.

Saat wawancara ekslusif dengan Najwa Shihab untuk program Mata Najwa, Anies tidak memungkiri surat itu ia tulis langsung dan berisi permintaan agar AHY menjadi pendampingnya sebagai cawapres di pemilihan presiden (pilpres) 2024.

Surat itu, masih menurut Anies, lahir dari situasi politik di mana Partai Nasdem dan Partai Demokrat tidak menemui kata sepakat soal jadwal pengumuman bacawapres.

Partai Demokrat ingin agar pengumuman AHY sebagai bacawapres Anies dilakukan sesegera mungkin. Sedangkan Partai Nasdem memilih menunda pengumuman bacawapres hingga batas akhir pendaftaran KPU sambil mencari pilihan selain AHY.

Friksi kedua partai, lanjut Anies, terus menajam dan membuat kedua perwakilan partai di dalam Tim 8 mengalami kebuntuan komunikasi. Menyikapi situasi tersebut, perwakilan Anies di Tim 8 yakni Sudirman Sahid memberikan laporan pada Jum'at 25 Agustus 2023.

Pada pokoknya mereka mengatakan bahwa perwakilan Partai Demokrat di Tim 8 mungkin akan ditarik karena tugas yang diembankan oleh partainya untuk segera mengumumkan AHY sebagai bacawapres tak kunjung disetujui oleh Partai Nasdem.

Namun, perwakilan Tim 8 dari Partai Demokrat mungkin tidak jadi ditarik apabila mereka mendapat jaminan tertulis untuk dibawa ke pengurus partai bahwa AHY akan diputuskan sebagai bacawapres.

"Jadi mereka minta ada sesuatu lah yang tertulis yang bisa ditunjukkan. Jadi dalam situasi begitu Saya minta ajudan ambilkan kertas. Saya minta ambilkan buku yang ada kertas bergaris. Saya tulis sekarang [sesuai dengan yang sudah beredar," kata Anies kepada Najwa.

Surat itu, lanjut Anies, diserahkan kepada Sudirman Sahid untuk dititipkan kepada perwakilan Tim 8 dari Partai Demokrat. Anies menolak apabila surat itu dianggap sudah menjadi keputusan resmi koalisi. Surat itu, menurutnya lebih dimaksudkan untuk memberikan penjelasan kepada pengurus DPP Partai Demokrat bahwa anggota Tim 8 yang mereka utus sudah menjalankan tugasnya.

"Kalau itu dipersiapkan pasti diketik yang rapih sebagai surat resmi," ujar Anies.

Anies menyesalkan bocornya surat itu ke publik. Sebab menurutnya surat itu dibuat sekadar untuk dibaca oleh jajaran Pengurus Partai Demokrat dan kemudian dikembalikan lagi kepadanya melalui Sudirman Said.

"Tulisan [yang] saya tulis jadi ditunjukkan kepada AHY, dibaca sesudah itu dibawa lagi dan disimpan oleh Pak Sudirman. Dan bila ada tulisan jawaban dari Pak AHY maka itu pun hanya saya baca dan dititipkan lagi ke Pak Sudirman," ujar Anies.

"Jadi ini bukan sebuah surat yang untuk dipertontonkan. Kenapa karena ini untuk menyampaikan bahwa yang dikerjakan oleh utusan dari Demokrat sudah dilaksanakan dan ini memang benar."

Anies mengaku heran mengapa surat yang ia tulis kemudian difoto dan disebarkan jajaran pengurus Partai Demokrat ke publik.

"Karena itu kami juga heran kok bisa ada fotonya karena setahu kami tidak pernah ada pemotretan ataupun yang lain," kata Anies.

Sebelumya, Partai Demokrat - baik melalui surat tertulis yang dibuat Sekretaris Jendral DPP Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya maupun Ketua Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono - menilai Anies dan Partai Nasdem telah mengkhianati meraka dalam koalisi perubahan.

Hal ini lantaran Anies dan Partai Nasdem menyepakati koalisi dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan menjadikan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai bacawapres.

Atas keputusan Anies dan Partai Nasdem tersebut, Partai Demokrat akhirnya memilih keluar dari Koalisi Perubahan dan menjajaki sejumlah opsi untuk bergabung dengan koalisi Prabowo Subianto atau Ganjar Pranowo.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR