Advertisement

Esai Foto: Antara Jasa dan Asa, Veteran Pejuang Kemerdekaan Berjuang Melawan Keterbatasan

20 May 2024 10:45 WIB

thumbnail-article

Soekasti sang veteran menunjukkan foto masa mudanya saat masih berjuang melawan kemerdekaan/ Salsabila Rahmadhany. .

Penulis: Salsabila Rahmadhany*

Editor: Akbar Wijaya

Soekasti (96) ialah seorang pejuang kemerdekaan RI yang dulu bergabung dengan Laskar Poetri, organisasi prajurit wanita yang dibentuk untuk melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Laskar ini dipimpin oleh mendiang Siti Hartinah atau yang kita kenal sebagai Ibu Tien. Soekasti dulu punya tugas khusus sebagai kurir istimewa yang membawa surat-surat Gatot Soebroto.

"Kurir istimewa tugasnya membawa surat-surat Pak Gatot Soebroto. Saya bertiga bersama kawan saya tugasnya harus jadi peta. Peta ini hafal jalan dan harus di luar kepala dari sini ke sana, atau ngelewatin apa? ngelewatin jembatan, ngelewatin got," katanya.

Soekasti melanjutkan, "Sebabnya apa? Kalau misalnya digeruduk Belanda diserang musuh harus ada yang tahu jalan gitu. Itu tugas saya waktu itu,” jelas Soekasti.

Soekasti (96), veteran perempuan pejuang kemerdekaan asal Solo, Jawa Tengah, saat ditemui di kediamannya di Jalan Elang, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, Rabu (15/11/2023).
Waktu Muda: Soekasti berpose dengan foto waktu ia muda.

Soekasti memperlihatkan foto dirinya saat masih muda, diambil ketika dia berusia 24 tahun. Dalam foto itu, Soekasti tampak anggun dengan kebaya dan rambut disanggul, gaya khas wanita Jawa. Sambil tersenyum, dia bercerita bahwa inilah penampilannya sehari-hari dulu.

Atap sang veteran: Kondisi atap rumah Soekasti.

Atap rumah Soekasti (96), veteran perempuan pejuang kemerdekaan RI asal Solo, Jawa Tengah, yang kini memprihatinkan. Saat ditemui di kediamannya di Jalan Elang, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, Rabu (15/11/2023), terlihat jelas bagaimana kondisi tempat tinggalnya yang jauh dari layak.

Soekasti adalah seorang veteran golongan E. Pertama kali ia menerima tunjangan veteran pada tahun 1982 sebesar Rp 48.000,-. Sekarang, besaran tunjangan yang ia terima adalah Rp 1.750.000,- per bulan. Tunjangan inilah yang menjadi andalan Soekasti dan suaminya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Sebetulnya ya tidak cukup, tapi dicukup-cukupkan," ujarnya sambil tersenyum.

Kondisi rumah Soekasti sangat memprihatinkan, atapnya sudah jebol di sana-sini. "Ini rumahnya dulu banjir. Dibagusin dari bantuan donor Yayasan Sahabat Veteran, bukan pemerintah," ungkapnya. Meski begitu, semangat dan senyum Soekasti tetap tak pernah pudar.

Duduk di atas kursi roda.

Saat ditanya tentang fasilitas kesehatan yang diberikan oleh LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) atau pemerintah, Soekasti bercerita dengan nada lirih bahwa ia tidak mendapatkan fasilitas kesehatan gratis. Akibatnya, Soekasti dan suaminya harus membayar iuran BPJS secara pribadi. Di usia senjanya, akses dan fasilitas kesehatan sangat ia butuhkan, terutama karena kini Soekasti menghabiskan sebagian besar waktunya di atas kursi roda dan menggunakan alat bantu pendengaran.

Soekasti berpesan agar pemimpin pemerintahan saat ini dapat memberikan perhatian lebih terhadap para veteran. Ia menyoroti bahwa tidak sedikit veteran yang masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. "Ironi ini seperti muda berjuang, sudah merdeka pun tua tetap berjuang," tuturnya. Soekasti berharap besaran dana tunjangan veteran dapat disesuaikan dengan kenaikan harga bahan-bahan pokok setiap tahunnya, sehingga kehidupan para veteran bisa lebih layak dan sejahtera.

Kasim (94), veteran pejuang kemerdekaan RI asal Desa Kawunggirang, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat, saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (4/3/2023).

Kasim (94) ialah seorang veteran PKRI (Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia) yang pernah berjuang mengusir Belanda dari Majalengka. Pada usia muda ia menembak mati enam tentara Belanda yang masuk ke desanya di Majalengka, Jawa Barat.

Sebagai anggota PKRI, Kasim tidak mendapatkan gaji dari pemerintah saat berjuang melawan penjajah. Semangatnya untuk merdeka lebih besar daripada kebutuhan material. Namun, perjuangannya tidak berhenti di situ. Hingga hari tuanya, Kasim dan istrinya harus melanjutkan perjuangan mereka dalam bertahan hidup. Meskipun usianya sudah lanjut, Kasim tetap bekerja keras. Setiap hari, ia pergi ke sawah untuk bertani, memastikan bahwa keluarganya tidak kekurangan.

Dengan tubuh yang mulai renta namun jiwa yang tetap kuat, Kasim berjalan menuju sawahnya setiap pagi. Tangannya yang kasar dan penuh pengalaman menggambarkan kerja keras dan dedikasi seorang pejuang sejati.

Kasim (94) dengan bangga menunjukkan senjata pisau pinggang yang masih ia simpan di kediamannya di Desa Kawunggirang, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat, pada Sabtu (4/3/2023). Pisau pinggang ini memiliki sejarah yang mendalam; diberikan oleh Danramil (Komandan Rayon Militer), pisau tersebut menjadi senjata andalan Kasim dalam perlawanan terhadap penjajahan pasukan Belanda. Meskipun sudah usang, pisau itu tetap tajam, mengingatkan kita pada keberanian dan keteguhan seorang pejuang sejati.
Pisau andalan Kasim saat berjuang

Kasim (94) mengenang masa perjuangannya dengan bangga, mengungkapkan bahwa senjata yang digunakannya dalam melawan penjajah terdiri dari senjata semi-otomatis Gerand, bambu runcing, dan pisau pinggang. Semua persenjataan ini didapatkan dari Danramil dan sebagian hasil curian dari tentara Belanda. Pisau pinggang yang selalu setia menemaninya dalam setiap pertempuran masih disimpan rapi hingga saat ini, sebagai saksi bisu dari keberanian dan keteguhan hatinya.

Kini, di usianya yang lanjut, Kasim menerima tunjangan veteran golongan E. Tunjangan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi dirinya dan istrinya. Meski jumlahnya tidak seberapa dan seringkali tidak cukup karena harga-harga pokok yang terus melambung, Kasim dan istrinya tetap melanjutkan hidup dengan penuh rasa syukur. Mereka sadar bahwa perjuangan belum berakhir, hanya saja medan tempurnya kini berbeda.

Kasim (94), veteran pejuang kemerdekaan RI asal Desa Kawunggirang, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat. Sabtu (4/3/2023).

Kasim (94) dengan penuh harapan menyampaikan pesannya kepada Pemerintah Republik Indonesia. Ia mengingatkan agar pemerintah lebih mengapresiasi para veteran pejuang kemerdekaan dengan meningkatkan tunjangan veteran dan menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai.

Bagi Kasim dan banyak veteran lainnya, tunjangan yang diterima seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah harga-harga yang terus naik. Selain itu, akses terhadap fasilitas kesehatan menjadi sangat penting mengingat usia mereka yang sudah lanjut dan kondisi fisik yang semakin lemah.

Pesan Kasim adalah sebuah panggilan untuk perhatian lebih kepada para pahlawan yang telah memberikan segalanya demi tanah air, agar mereka dapat menikmati sisa hidup dengan lebih layak dan bermartabat.

Ojob Toyadi (102) seorang veteran pejuang Siliwangi Indonesia yang berasal dari Majalengka, Jawa Barat.

Ojob Toyadi (102) adalah veteran Pejuang Siliwangi Indonesia, sebuah organisasi kejuangan dan kemasyarakatan yang bersifat independen, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pejuang Siliwangi (PS) sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, didirikan pada tahun 1922 oleh seorang tokoh ulama bernama Ama Raden Poeradiredja dari Kabupaten Subang, Jawa Barat. Veteran Pejuang Siliwangi Indonesia merupakan bagian dari Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) dan telah menerima tanda kehormatan sebagai pengakuan atas perjuangan mereka.

Ojob, sebagai anggota Pejuang Siliwangi yang setia, mendapatkan tunjangan veteran dari LVRI setara golongan E. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, semangat juangnya tidak pernah luntur. Tunjangan tersebut menjadi andalannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun ia tetap mengharapkan perhatian lebih dari pemerintah terhadap para veteran yang sudah lanjut usia. Bagi Ojob dan veteran lainnya, penghargaan sejati bukan hanya dalam bentuk tanda kehormatan, tetapi juga dalam kesejahteraan yang mereka rasakan di masa tua.

Ojob Toyadi (102) sedang menunjukkan kartu anggota Pejuang Siliwangi miliknya yang masih ia simpan, saat ditemui di kediamannya Majalengka, Jawa Barat.

Di masa kini, Ojob telah melewati usia seratus tahun, tetapi semangat juangnya masih terus membara. Meskipun begitu, Ojob dan istrinya merasa bahwa tunjangan golongan E yang diterimanya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

"Di Lemah Sugih, ketua LVRI yang dulu waktu pertama mendaftarkan untuk tunjangan veteran langsung maunya dikolektifkan, disama ratakan semua jadi golongan E," cerita Ojob. "Padahal harusnya sesuai, ada yang berjuang tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun. Tapi kalau sudah keluar SK-nya ya sudah, karena kalau harus diurus lagi, belum tentu cepat selesainya," terangnya dengan nada penuh keprihatinan.

Ojob mengungkapkan bahwa sistem yang ada seringkali tidak adil bagi para veteran, yang seharusnya mendapatkan tunjangan sesuai dengan lamanya perjuangan mereka. Meski demikian, Ojob tetap bersyukur dan terus berjuang menjalani hidupnya dengan penuh semangat. Harapannya adalah agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan para veteran, terutama yang telah lanjut usia, agar mereka dapat menikmati sisa hidup dengan lebih layak dan terhormat.

Ojob Toyadi (102) bersama kambing yang dirawatnya setiap hari, tidak jauh dari kediamannya Majalengka, Jawa Barat.

Dengan sigap, Ojob menunjukkan jalan menuju tempat ia mengisi kesehariannya, ngangon kambing. Kegiatan ini dilakukan Ojob dari pagi hingga siang hari. Rumah yang ditinggalinya bersama istri terlihat sederhana, terletak jauh di atas bukit dengan akses yang sulit. Meski tinggal jauh dari kota, Ojob tetap semangat untuk datang setiap sebulan sekali dalam agenda rapat LVRI yang rutin diadakan di Majalengka.

Saat ini, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Ojob mengandalkan dana tunjangan veteran yang diakuinya jauh dari kata cukup, bahkan meskipun tinggal di desa. Usaha ternak kambing menjadi tambahan penghasilan bagi Ojob dan keluarganya, membantu mereka bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Di hari tuanya, Ojob masih ingin terus dilibatkan dalam kegiatan kenegaraan. "Saya ingin kami terus dilibatkan, di kegiatan rapat atau agenda 17 Agustus, acara-acara LVRI. Saya ingin kami tetap aktif dan diingat, tolong kami-kami ini jangan dilupakan," ucapnya dengan penuh harap.

Semangat Ojob untuk tetap berkontribusi dan diakui sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa mencerminkan dedikasi seorang pejuang sejati. Ia berharap perhatian dan penghargaan lebih dari pemerintah dan masyarakat, agar para veteran seperti dirinya tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi juga dihargai dalam kehidupan sehari-hari.

*Mahasiswi Jurnalistik angkatan 2020 dari Universitas Multimedia Nusantara.

Topik:

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement