Advertisement

Gejala Preeklamsia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

20 May 2025 11:27 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi preeklamsia pada ibu hamil. Sumber: Freepik/user15285612.

Penulis: Nuha Khairunnisa

Editor: Nuha Khairunnisa

Preeklamsia adalah kondisi serius yang dapat terjadi selama kehamilan, ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan adanya protein dalam urin setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.

Jika tidak ditangani dengan baik, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu dan janin. Komplikasi ini bisa berujung pada kondisi yang lebih serius, seperti eklamsia yang dapat mengakibatkan kejang-kejang pada ibu hamil.

Gejala preeklamsia yang perlu dikenali

Tekanan darah tinggi yang signifikan

Salah satu tanda utama preeklamsia adalah peningkatan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg. Biasanya, kondisi ini terdeteksi melalui pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh dokter selama masa kehamilan. Peningkatan tekanan darah ini dapat terdeteksi pada dua kesempatan berbeda, setidaknya dengan jeda empat jam di antara pengukuran.

Pembengkakan di berbagai bagian tubuh

Ibu hamil yang mengalami preeklamsia sering kali mengalami pembengkakan, terutama di tungkai, wajah, dan tangan. Pembengkakan ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan merupakan tanda bahwa tubuh tidak memproses cairan dengan baik. Kenaikan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat juga bisa menjadi indikasi gejala ini.

Nyeri dan gangguan fisik lainnya

Gejala fisik lain yang mungkin muncul adalah sakit kepala yang parah, gangguan penglihatan (seperti penglihatan kabur atau sensitivitas terhadap cahaya), nyeri di ulu hati, pusing, sesak napas, dan frekuensi buang air kecil yang menurun. Semua gejala ini perlu diperhatikan sebagai tanda bahwa ibu hamil mungkin mengalami preeklamsia.

Penyebab preeklamsia pada ibu hamil

Meskipun penyebab preeklamsia belum sepenuhnya dipahami, kondisi ini sering kali dikaitkan dengan kelainan dalam perkembangan dan fungsi plasenta. Jika plasenta tidak berfungsi dengan baik, aliran darah dan oksigen ke janin dapat terhambat, sehingga meningkatkan tekanan darah ibu sebagai respons tubuh.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia, seperti kehamilan pertama, usia ibu yang di bawah 20 tahun atau lebih dari 40 tahun, riwayat preeklamsia dalam keluarga, serta kondisi kesehatan seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Wanita yang hamil dengan jarak waktu kurang dari dua tahun atau lebih dari sepuluh tahun dari kehamilan sebelumnya juga berisiko lebih tinggi mengalami preeklamsia.

Ibu hamil dengan riwayat penyakit ginjal, gangguan darah, atau penyakit autoimun juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami preeklamsia. Merupakan hal yang penting bagi ibu hamil untuk melaporkan riwayat kesehatan mereka saat melakukan pemeriksaan ke dokter.

Komplikasi yang dapat muncul

Preeklamsia yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius pada ibu, seperti eklamsia, solusio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum kelahiran), dan gangguan pada organ dalam seperti gagal ginjal atau gagal hati. Kondisi tersebut dapat mengancam tidak hanya kesehatan ibu tetapi juga keselamatan janin.

Bagi janin, preeklamsia dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, risiko lahir prematur, dan bahkan lahir mati. Nutrisi yang tidak memadai akibat gangguan aliran darah ke plasenta dapat berdampak langsung pada kesehatan janin.

Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk memahami tanda-tanda preeklamsia dan melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan kesehatan selama masa kehamilan. Tindakan pencegahan dan deteksi dini sangat kritikal dalam mengurangi risiko ini.

Diagnosis dan pengobatan

Diagnosis preeklamsia biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan beberapa tes, seperti tes darah untuk memeriksa fungsi hati dan ginjal serta tes urine untuk menentukan kadar protein. Pemeriksaan ultrasonografi juga sering digunakan untuk memantau perkembangan janin dan kesehatan plasenta.

Pengobatan preeklamsia biasanya melibatkan pengendalian tekanan darah, penggunaan obat antihipertensi, dan pada beberapa kasus, melahirkan bayi lebih awal untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Penting bagi pasien untuk mendapatkan perawatan dari dokter, terutama jika gejala preeklamsia cukup parah.

Setelah melahirkan, ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka stabil. Banyak ibu yang mengalami preeklamsia perlu tetap menggunakan obat antihipertensi dan menjalani kontrol ke dokter secara rutin selama beberapa minggu setelah persalinan untuk mencegah timbulnya komplikasi pasca kehamilan.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement