Pada tanggal 18 Agustus 2025, Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengalami letusan signifikan yang dimulai pada pukul 00.38 WITA. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) melaporkan bahwa semburan abu vulkanik mencapai ketinggian yang mengejutkan, yaitu 8.000 meter di atas puncak gunung. Fenomena ini menyebabkan kolom abu yang tebal dan terlihat jelas dari berbagai lokasi di sekitar gunung, menambah kekhawatiran masyarakat mengenai potensi dampak lebih lanjut.
Deskripsi kolom abu yang keluar dari kawah menunjukkan warna putih hingga kelabu dengan intensitas yang bervariasi, dari tipis hingga sedang. Kolom ini terlihat condong ke arah utara dan timur laut, mengikuti arah angin yang bertiup. Efek dari letusan ini tidak hanya terlihat pada bentuk fisik gunung, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan kegiatan sehari-hari penduduk setempat.
Dampak erupsi
Sebagai konsekuensi dari erupsi Gunung Lewotobi yang berskala besar, kehadiran abu vulkanik di udara berdampak langsung pada kegiatan penerbangan di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo. Menyusul pengumuman mengenai letusan tersebut, empat penerbangan dibatalkan, termasuk dua penerbangan kedatangan dan dua keberangkatan. Maskapai yang terpengaruh termasuk Wings Air dengan rute dari Ende dan Maumere.
Prosedur keamanan telah diaktifkan oleh pihak bandara untuk memastikan keselamatan penumpang dan kru pesawat. Dalam hal ini, dilakukan pengetesan "paper test" untuk mengevaluasi penyebaran abu vulkanik di area bandara. Bandara tetap beroperasi selama dilakukan tes ini, tetapi akan ditutup jika hasil menunjukkan adanya bahaya akibat sebaran abu.
Respons cepat oleh pihak bandara dan otoritas terkait menjadi penting dalam mengelola situasi ini, mengingat potensi gangguan yang lebih besar jika tidak ditangani dengan baik. Keputusan untuk membatalkan penerbangan tidak diambil dengan ringan, namun menjadi langkah strategis demi keselamatan semua pihak.
Aktivitas vulkanik dan pola letusan
Dalam sehari itu, Gunung Lewotobi tercatat mengalami 11 kali erupsi, menjadikannya fenomena yang menarik perhatian para ilmuwan dan pengamat vulkanologi. Letusan yang terjadi menciptakan dentuman keras, yang dapat terdengar hingga ke pos pengamatan di Desa Pululera. Kekuatan letusan ini tercatat dengan jelas di seismogram, menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 47,3 milimeter.
Setiap kali erupsi terjadi, suara gemuruh kuat terdengar, memberikan indikasi bahwa aktivitas vulkanik berada pada tingkat yang serius. Data seismogram menunjukkan bahwa waktu dan intensitas setiap letusan bervariasi, menunjukkan kompleksitas dinamika magma yang ada di dalam perut bumi.
Selain itu, laporan dari PPGA mencatat bahwa letusan pertama terjadi pada dini hari, diikuti oleh sejumlah letusan lebih kecil sepanjang hari, dengan beberapa semburan mencapai ketinggian variatif dari 500 meter hingga 3.500 meter. Informasi ini sangat berguna dalam menganalisis pola aktivitas vulkanik dan meramalkan potensi dampak lebih lanjut di masa depan.
