Harga iPhone Naik, Imbas Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

23 April 2024 23:04 WIB

Narasi TV

(REUTERS/Mike Segar)

Penulis: Nuha Khairunissa

Editor: Indra Dwi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Dampaknya, terjadi kenaikan harga barang-barang impor termasuk elektronik, tak terkecuali iPhone.

Mengutip Google Finance, rupiah berada di level Rp16.238,7 per dolar AS pada Selasa (23/4/024) pukul 13.30 WIB. Nilai tukar rupiah terpantau mulai menembus Rp16.000 sejak 10 April lalu.

Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak luas tak hanya bagi pelaku usaha, melainkan juga konsumen. Nilai tukar rupiah yang melemah membuat pelaku industri dalam negeri harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengimpor bahan baku. 

Begitu pula dengan barang-barang impor seperti laptop dan smartphone yang didatangkan secara utuh atau completely built up (CBU). Dengan harga yang sama, importir harus mengeluarkan lebih banyak uang lantaran nilai rupiah yang menjadi lebih rendah.

Saat terjadi depresiasi rupiah, bukan tidak mungkin penjual barang elektronik akan membebankan biaya kepada konsumen di tingkat akhir berupa kenaikan harga barang. 

Harga iPhone naik 5—10 persen

Melansir Tirto.id, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memproyeksikan jika pelemahan rupiah menyentuh level Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS, kenaikan harga barang elektronik akan menembus 5—10 persen. 

Kenaikan harga iPhone telah terpantau di sejumlah reseller resmi Apple seperti Digimap dan iBox. Misalnya, iPhone 15 yang sempat dijual seharga Rp13,99 juta di Digimap kini naik sebanyak Rp250 ribu menjadi Rp14,249 juta. 

Kendati demikian, harga iPhone saat ini masih terbilang murah jika dibandingkan dengan saat pertama kali dirilis. Saat pertama kali masuk ke Indonesia pada Oktober 2023, harga iPhone 15 dipatok mulai dari Rp16,5 juta. 

Penyebab rupiah melemah

Indeks dolar AS yang masih berada di level tinggi menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Selain itu, konflik yang berlangsung di Timur Tengah antara Iran dan Israel turut mendorong terjadinya depresiasi rupiah. 

Jika konflik terus memanas, bukan tidak mungkin pelemahan rupiah berlanjut hingga menyentuh level Rp17.000 sebagaimana yang terjadi saat krisis moneter tahun 1998.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR