Hizbullah telah melakukan serangan menggunakan pesawat tak berawak atau drone yang menargetkan markas militer Israel, khususnya Kementerian Pertahanan, di Tel Aviv pada Rabu, 13 November 2024. Dalam publikasi yang dirilis oleh kelompok tersebut, mereka mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil mengenai sasaran di pusat pertahanan Israel. Namun, pihak militer Israel tidak memberikan komentar resmi mengenai klaim tersebut.
Serangan ini menjadi yang pertama kalinya Hizbullah melancarkan aksinya langsung ke markas Kementerian Pertahanan Israel. Dalam serangan yang dilaporkan, Hizbullah menggunakan skuadron drone dan rudal balistik Qader-2.
Target dari serangan ini adalah pangkalan HaKirya yang berada di Tel Aviv, yang merupakan pusat komando utama untuk angkatan bersenjata Israel serta Kementerian Pertahanan dan Staf Umum. Meskipun Hizbullah menyatakan bahwa mereka berhasil mencapai sasaran dengan akurat, tidak ada rincian lebih lanjut terkait dampak dari serangan tersebut.
Konteks intensitas serangan Hizbullah sejak 2023
Serangan terbaru ini tidak lepas dari konteks konflik yang semakin intensif antara Hizbullah dan Israel, yang telah berlangsung sejak tahun 2023. Hubungan Hizbullah dengan Hamas semakin erat setelah serangan yang dilakukan kelompok militan Palestina tersebut pada 7 Oktober 2023, yang memicu serangkaian aksi balasan dan solidaritas dari Hizbullah.
Data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa lebih dari 3.300 orang tewas di Lebanon sejak kekerasan meningkat, dengan sebagian besar korban jatuh dalam beberapa minggu terakhir konflik berlangsung.
Tanggapan Israel terhadap serangan drone Hizbullah
Menyusul serangan drone ini, pihak Israel, melalui Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa tidak akan ada gencatan senjata yang diizinkan sampai tujuan perang tercapai. Israel mengklaim telah menanggapi serangan dengan mengintensifkan serangan mereka terhadap sasaran-sasaran Hizbullah di Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyebutkan bahwa tindakan ofensif harus terus dilakukan untuk melemahkan kemampuan militer Hizbullah, memastikan bahwa populasi di utara Israel bisa kembali dengan aman ke rumah mereka.
Perkembangan situasi ini telah memberikan dampak signifikan terhadap warga sipil di kedua pihak, dengan banyak warga Lebanon terpaksa mengungsi dari daerah-daerah yang menjadi fokus serangan. Kondisi ini menciptakan tekanan yang lebih besar di wilayah yang sudah mengalami ketegangan berkepanjangan akibat berbagai konflik.
