Bagi sejumlah orang, memulai awal pekan di hari Senin dapat menjadi hal yang menyebalkan. Sebab, datangnya hari Senin menandai kembalinya rutinitas pekerjaan yang harus dijalani usai menikmati libur akhir pekan.
Perasaan tidak senang menyambut hari Senin memunculkan frasa “I hate Monday” atau juga disebut “Monday blues”. Fenomena ini biasanya dirasakan oleh pekerja menjelang berakhirnya akhir pekan, sehingga terkadang juga disebut dengan istilah “Sunday night syndrome” atau “Sunday night blues”.
Selain perasaan sebal dan tidak semangat, kedatangan hari Senin juga dapat memicu perasaan murung, sedih, cemas, hingga panik bagi sebagian orang. Jika terus dibiarkan dalam waktu yang lama, perasaan ini dapat berkembang menjadi depresi.
Meski bukan merupakan gangguan mental, perasaan cemas yang berlebihan dalam menyambut hari Senin dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Kondisi ini juga tentunya akan menurunkan produktivitas kerja.
Berujung pada kasus penembakan
Pada kasus yang ekstrem, kebencian terhadap hari Senin dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, contohnya yakni kasus penembakan di Grover Cleveland Elementary School pada 1979.
Pada 29 Januari 1979, Brenda Spencer yang berusia 16 tahun melepaskan tembakan ke arah murid sekolah dasar yang berada di seberang rumahnya itu. Dalam 15 menit, Brenda menembakkan 30 butir peluru dari senjata api yang merupakan hadiah Natal dari ayahnya.
Ketika ditanya oleh petugas kepolisian terkait motifnya melakukan penembakan, Brenda Spencer mengaku bahwa dirinya sangat membenci hari Senin. Oleh sebab itu, ia melakukan penembakan sebagai bentuk bersenang-senang di hari yang dibencinya.
“Saya hanya ingin melakukannya. Saya benci hari Senin, dan (penembakan) ini membuat hari ini jadi terasa lebih baik,” kata Brenda sebagaimana dikutip dari San Diego Union Tribune.
Enam bulan usai tragedi tersebut, band asal Irlandia Boomtown Rats merilis lagu berjudul “I Don’t Like Mondays” yang terinspirasi dari penembakan yang dilakukan Brenda Spencer. Lagu itu sempat menduduki peringkat 1 di Inggris Raya.
