Viral Ibu yang Hendak Melempar Bayi ke Rel Kereta, Kenali Perbedaan Baby Blues dan Postpartum Depression

5 September 2023 19:09 WIB

Narasi TV

Stasiun Pasar Minggu, lokasi terjadinya insiden seorang ibu hendak membuang bayinya ke rel pada 2 September 2023 lalu. Sumber:

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Belakangan ini beredar video mengenai seorang ibu yang nyaris melempar anaknya di Stasiun Pasar Minggu pada Sabtu (2/9/2023). Banyak warganet yang mengira sang ibu mengalami baby blues meski polisi menyatakan bahwa ibu tersebut ingin bunuh diri.

Dalam video tersebut terlihat petugas keamanan berusaha mencegah dan mengamankan sang ibu. Salah seorang petugas menggendong bayi yang menangis, sedang petugas lain mengamankan ibu. Sang ibu pun memberontak dan meminta petugas membiarkan aksinya.

Menurut PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), ibu tersebut berniat melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat ke rel kereta saat Commuter Line melintas. Awalnya, ia datang bersama suaminya. Saat kejadian, suaminya sedang pergi membeli minum.

Lantas, mengapa baby blues bisa menyebabkan ibu berniat ingin membunuh anaknya atau bunuh diri?

Perbedaan baby blues dan postpartum depression

Baby blues syndrome sebenarnya berbeda dengan postpartum depression, meski keduanya sama-sama dialami ibu pasca melahirkan. Jika dibiarkan, kedua masalah psikologis ini bisa berakibat fatal baik bagi ibu maupun bayinya.

Baby blues syndrome adalah masalah psikologis yang dialami ibu pasca melahirkan selama tidak lebih dari dua minggu. Sedangkan postpartum depression atau depresi pasca melahirkan ini berlangsung dalam waktu yang lebih lama daripada baby blues.

Di Indonesia, 22,4% perempuan mengalami postpartum depression. Dengan angka yang cukup tinggi tersebut, layanan kesehatan mental pasca melahirkan justru belum maksimal dan tenaga kesehatannya pun belum memadai.

Psikolog Klinis Dewasa di Brawijaya Clinic Kemang dan RS UMMI Bogor, Nuran Abdat menyebut bahwa perubahan emosi ibu pasca melahirkan memang cenderung naik turun. Rasa sedih luar biasa dapat muncul bersamaan dengan mood swing dan kesulitan berkonsentrasi.

Lain halnya dengan postpartum depression. Ibu yang mengalami depresi ini cenderung memiliki perasaan sedih yang tidak tertangani. Malahan perasaan tersebut memunculkan keputusasaan luar biasa sehingga ibu menjadi kerap menangis. 

Postpartum depression lebih banyak dipengaruhinya dari faktor-faktor psikososial seperti stress atau stressor lingkungan yang berpengaruh pada penguat stress yang dialami sang ibu,” jelas Nuran dilansir dari Liputan6.

Cara mengatasi postpartum depression

Jika baby blues dibiarkan dapat memicu postpartum depression. Situasi ini akan lebih berbahaya dan mampu mengancam keselamatan bayi dan sang ibu. Hal tersebut karena pengidap postpartum depression berpotensi mengalami halusinasi dan delusi yang membahayakan.

Apabila muncul perasaan ingin menyakiti bayi, berikut cara yang bisa dilakukan:

  • Jaga jarak dengan bayi.
  • Tenangkan diri sendiri alias relaksasi.
  • Komunikasikan dengan orang di sekitar, terlebih kepada pasangan.
  • Luruskan pikiran negatif yang muncul.
  • Lakukan meditasi sejenak.

Cara membantu postpartum depression

Psikolog Klinis Disya Arinda memberikan tips cara membantu ibu yang mengalami postpartum depression di akun Twitternya, menyusul insiden di stasiun tersebut. Berikut rangkuman caranya:

  • Dengarkan ibu tanpa menghakimi.
  • Berikan afirmasi positif dengan mengingatkan betapa kuatnya ibu telah melalui kesulitannya.
  • Beri perhatian kepada ibu.
  • Bantu ibu merawat bayi agar ibu bisa beristirahat dengan optimal. Ini dilakukan atas seizin ibu dan ayah.
  • Ajak ibu bersenang-senang dengan membuat atau membelikan makanan kesukaannya.
  • Hindari komentar di depan ibu. Sampaikan saran dengan sopan dan jangan memaksa.
  • Berikan ruang dan kepercayaan bagi ibu untuk belajar beradaptasi.
  • Temani ibu ke psikolog klinis atau psikiater.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR