Puasa Ayyamul Bidh adalah ibadah sunnah yang dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 dalam kalender Hijriyah pada bulan Mei 2026 jatuh pada tanggal 1, 2 dan 3 Mei, Ibadah ini telah menjadi amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan termasuk puasa rutin yang banyak dilakukan oleh para sahabat.
Hukum puasa Ayyamul Bidl adalah sunnah muakkad berdasarkan hadits Nabi saw, yang di antaranya adalah sebagai berikut:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ في حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ. (رواه النسائي بإسنادٍ حسن)
Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian’.” (HR an-Nasa’i dengan sanad hasan).
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Mei 2026
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI, berikut jadwal puasa Ayyamul Bidh bulan Mei 2026:
-
Hari pertama: Jumat, 1 Mei 2026 (13 Zulkaidah)
-
Hari kedua: Sabtu, 2 Mei 2026 (14 Zulkaidah)
-
Hari ketiga: Minggu, 3 Mei 2026 (15 Zulkaidah)
Bacaan Niat Puasa Ayyamul Bidh
Mengikuti ketentuan pelaksanaan puasa sunnah sesuai sunnah Rasulullah SAW, bacaan niat puasa Ayyamul Bidh sangat dianjurkan agar ibadah menjadi sah dan bernilai ibadah. Bacaan niat yang benar meliputi:
نَوَيْتُ صَوْمَ يوم الْبِيْضُ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Nawaitu shauma yaumul biidh sunnatal lillaahi-ta'aalaa.
Arti: “Saya niat berpuasa sunnah yaumul bidh (hari putih) karena Allah Ta'ala.”
Dengan melafalkan niat tersebut dalam hati sebelum waktu imsak dimulai, pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh menjadi sah dan sesuai prosedur syariat. Niat ini mengukuhkan pengabdian dan tujuan spiritual puasa sebagai bentuk ibadah yang ikhlas.
Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh
Terdapat beberapa keutamaan utama dalam menjalankan puasa Ayyamul Bidh yang membuat amalan ini sangat dianjurkan dan memiliki nilai yang tinggi. Mengutip dari laman NU Online menurut pendapat Imam as-Subki dan ulama lainnya. Berkaitan hal ini diriwayatkan:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَة أَيَّام، فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَصْدِيقَ ذَلِكَ فِي كِتَابهِ الْكَرِيم: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَة فَلهُ عشر أَمْثَالهَا [الأنعام: 160]. اَلْيَوْمُ بِعشْرَةِ أَيَّامٍ (رَوَاهُ ابْن ماجة وَالتِّرْمِذِيّ. وَقَالَ: حسن .وَصَححهُ ابْن حبَان من حَدِيث أبي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْه)
Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, sungguh Nabi saw bersabda: ‘Siapa saja yang berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka puasa tersebut seperti puasa sepanjang tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam kitabnya yang mulia karena membenarkan hal tersebut: ‘Siapa saja yang datang dengan kebaikan maka baginya pahala 10 kali lipatnya’ [QS al-An’am: 160]. Satu hari sama dengan 10 hari’.” (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi. Ia berkata: “Hadits ini hasan.” Ibnu Majah juga menilanya sebagai hadits shahih dari jalur riwayat Abu Hurairah ra). (Abu Bakar Ibnus Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’ânatut Thâlibîn, [Beirut, Dârul Fikr], juz II, halaman 269; dan Ibnul Mulaqqin, Tuhfatul Muhtâj ilâ Adillatil Manhâj, [Makkah, Dâru Harrâ’: 1406 H], juz II, h. 109-110).
Puasa Ayyamul Bidh termasuk puasa sunnah yang secara rutin dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan melaksanakan puasa ini, umat Islam tidak hanya menambah amal kebaikan tetapi juga mengikuti jejak Rasulullah yang mencontohkan ibadah sebagai keteladanan. Ibadah yang meneladani sunnah Rasulullah memiliki kedudukan khusus.
