Usia remaja sering digadang-gadang sebagai usia rentan. Masa peralihan dari usia kanak-kanak ke dewasa ini memberi ruang pada para remaja untuk mencari jati diri mereka. Biasanya, pada masa ini mereka akan mencoba banyak hal baru agar menemukan hal paling cocok untuk mereka.
Namun, proses pencarian jati diri ini tak bisa mereka lakukan tanpa dukungan dari orang di sekitar mereka. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi menekankan gukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan pada para remaja yang sedang mencari jati diri. Dalam masa peralihan ini, bimbingan orang yang lebih berpengalaman dalam kehidupan dan mengenal mereka sangat diperlukan.
“Saat seperti ini sedang meraba-raba, maka mereka mengalami masalah dalam hal untuk beradaptasinya juga, ada banyak masalah yang harus diselesaikan oleh remaja juga untuk merasa jiwanya atau dirinya menjadi lebih oke,” ungkap dosen yang akrab disapa Romi pada Selasa (3/11/2024), dikutip dari Antaranews.
Pada usia peralihan ini, remaja dipaksa untuk beradaptasi dengan keadaan baru mereka. Tak sedikit remaja yang menghadapi masa sulit karena ketimpangan yang terjadi pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisiknya. ketimpangan ini menyebabkan para remaja mengalami kecemasan dalam beradaptasi.
Maka, di sinilah orang dewasa diperlukan. Para remaja membutuhkan bantuan orang-orang yang telah melewati apa yang mereka alami. Mereka berharap bisa mendapatkan bimbingan agar bisa menentukan ke mana arah mereka harus melangkah dan melewati masalah adaptasi.
Jika tak ada orang dewasa yang membantu mereka, di sinilah mereka akan mulai mencari komunitas yang sesuai dengan apa yang mereka sukai saat itu. Sayangnya, kemampuan mereka untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah belum terbangun sempurna, sehingga seringkali mereka terbawa arus yang diikuti oleh orang-orang dalam komunitas tersebut.
“Pada waktu ini perlu tanggung jawab menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya untuk mencari teman berkumpul, mencari kemungkinan-kemungkinan untuk bisa mengidentitaskan dirinya apa, makanya dia kadang-kadang menggunakan identitas dari kelompok musik dan sebagainya,” terang Romi.
Sekarang ini sedang ramai dibicarakan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja berusia 14 tahun. Dia dengan kejamnya membunuh ayah dan neneknya sendiri serta melukai ibunya. Pandangan Romi terkait kasus ini adalah remaja mungkin saja mengalami halusinasi karena kesalahan persepsi yang diterima dari lingkungan. Kesalahan persepsi itu membawa mereka ke arah yang negatif seperti tindakan yang tidak rasional.
Satu hal lagi yang disoroti dari kasus tersebut adalah dampak stres. Remaja yang sedang di masa peralihan bisa saja mengalami stres dan kecemasan saat proses adaptasi. Parahnya, hal tersebut tak bisa dibagikan ke orang lain atau orang dewasa di keluarganya karena tanggapan orang dewasa yang tidak seperti ekspetsi mereka. Sehingga stres dan kecemasan menumpuk dan akhirnya menciptakan ledakan besar.
“Halusinasi juga terjadi kalau misalnya anak demam tinggi, atau kalau halusinasi itu misalnya karena ada stres yang berdampak kepada depresi, ada sesuatu yang dia rasakan atau cemaskan misalnya, kan kita enggak pernah tahu,” ujar Romi.
Sehingga, penting bagi remaja untuk berkumpul bersama orang-orang yang bisa membantu mereka dalam menghadapi masa peralihan ini dan memberi arahan untuk beradaptasi. Mereka perku dibantu karena perkembangan fisiknya saja telah membuat mereka bingung, apalagi ditambah perkembangan kognitif yang harus membuat mereka berada di masa peralihan dua dunia yaitu dunia anak-anak dan dunia dewasa. Hal ini sama rasanya seperti tersesat di tempat yang belum pernah mereka jelajahi.
