Kecelakaan Bus di Subang: 11 Siswa SMK Lingga Kencana Meninggal, Perlukah Study Tour Ditinjau Ulang?

13 Mei 2024 10:05 WIB

Narasi TV

Pemakaman korban kecelakaan bus karyawisata SMK Lingga Kencana, di TPUI Parung Bingung Kota Depok, Ahad (12/5/2024). (ANTARA/Shabrina Zakaria)

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

Perjalanan study tour rombongan pelajar SMK Lingga Kencana Depok berubah menjadi mimpi buruk di Jalan Raya Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (11/5) sekitar pukul 18:45 WIB. Bus yang membawa mereka dari Bandung menuju Subang tiba-tiba oleng ke kanan dan berpindah ke jalur berlawanan saat melintasi jalan menurun. Akibatnya, bus itu menabrak kendaraan minibus jenis Feroza nopol D 1455 VCD dengan brutal.

Setelah menabrak kendaraan yang ada di jalur berlawanan itu, lalu bus terguling dengan kondisi miring, posisi ban kiri berada di atas, sampai tergelincir hingga menghantam tiga sepeda motor yang terparkir di bahu jalan. Di saat tergelincir di jalan yang kondisinya menurun, bus itu terhenti setelah menghantam tiang listrik yang ada di bahu jalan.

💔 Akibat kecelakaan mengerikan ini, 11 nyawa melayang dan puluhan lainnya menderita luka serius. Kisah tragis ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat.

Usai kecelakaan, percakapan publik mengarah ke soal perlu tidaknya kegiatan study tour sekolah ditinjau ulang.

Study Tour Jangan Jadi Ajang Komersial Sekolah

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan tujuan utama dari study tour haruslah untuk pendidikan, bukan sekadar untuk kepentingan komersial!

"Kegiatan study tour ada yang digunakan untuk kepentingan oknum pejabat sekolah, jadi melakukan study tour tujuannya untuk komersial, ini yang saya tidak setuju dengan itu. Jangan untuk urusan pendidikan itu pola pikirnya komersial, tetapi mindset--nya harus pendidikan," ucapnya dikutip Antara, Sabtu (11/5/2024).

Indra juga menyoroti pentingnya pemerintah mendukung kegiatan ini secara resmi dan membiayainya. Menurut Indra, tragedi kecelakaan bus di Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024), yang menewaskan 11 orang siswa SMK asal Depok, menjadi pelajaran sekaligus momentum bagi pemerintah untuk segera membuat cetak biru pendidikan yang memadai.

"Yang terjadi sekarang kan bisa jadi karena uangnya terbatas, jadi mencari yang murah, jadi berisiko ternyata remnya blong, di cetak biru itu nanti diatur bagaimana mendesain program itu agar aman untuk semua," ucap Indra dikutip Antara saat dihubungi di Jakarta, Minggu (13/4/2024).

Butuh Cetak Biru Pendidikan

Cetak biru diperlukan sebagai acuan atau desain utama kurikulum di Indonesia, agar kurikulum tidak terus berganti mengikuti pergantian kepemimpinan, yang di dalamnya juga tentu mengatur tentang widyawisata atau study tour siswa.

"Kita harus punya cetak biru pendidikan Indonesia, sebenarnya anak-anak Indonesia itu mau dididik seperti apa, prosesnya seperti apa, ini kan selama ini belum jelas, termasuk konsep study tour atau bakti sosial, bisa (dikemas) jadi semacam kuliah kerja nyata (KKN), jadi anak-anak tinggal di desa, hidup dengan warga di sana, itu kan bagian dari pengalaman hidup mereka," ujar Indra.

"Jadi study tour itu mesti bisa memberi pengalaman yang kontekstual, perspektif, cakrawala, dan cara pandang yang berbeda bagi siswa, didesain dalam blue print, apa manfaat dan risikonya, dalam blue print tersebut, termasuk bagaimana transportasinya, apakah pemerintah mempersiapkan transportasi yang aman, jangan sampai tujuannya baik tetapi nyawanya harus hilang," paparnya.

Ia juga menyinggung rekomendasi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada hasil penilaian pelajar internasional atau PISA tahun 2018 yang tidak menyebutkan bahwa Indonesia harus mengganti kurikulum.

"Di tahun 2018 itu, tertulis kok di rekomendasi PISA, karena Indonesia kan baru saja mengganti kurikulumnya (2013). Rekomendasinya itu memastikan semua guru mendapatkan pelatihan yang baik sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan kurikulum, jadi bukan mengganti kurikulum, tetapi meningkatkan kompetensi guru-gurunya," katanya.

Untuk itu, dia berpesan agar pendidikan tak hanya jadi sarana untuk mencari keuntungan atau komersialisasi, tetapi benar-benar ditujukan untuk pembangunan manusia.

"Kalau kita bicara sekolah negeri, harusnya semua kegiatan seperti study tour itu dibiayai oleh pemerintah, agar tidak berpotensi menjadi proyek-proyek, entah memang untuk menutupi anggaran yang bolong atau bahkan untuk kepentingan oknum sekolah. Kalau itu dibiayai pemerintah, jadi resmi program pemerintah yang sudah didesain," ucap dia.

Pemprov Jabar Minta Bupati dan Walikota Perketat Study Tour

Merespons kecelakaan ini, Penjabat Gubernur Jawa Barat (Jabar) Bey Machmudin mengeluarkan surat edaran tanggal 12 Mei 2024 yang isinya meminta bupati dan wali kota di Jabar memperketat izin kegiatan study tour yang dilaksanakan satuan pendidikan di wilayah masing-masing, salah satunya tidak dilakukan ke luar kota.
 
Bey menyatakan permintaan itu sebagai antisipasi bahwa dalam memasuki masa kenaikan kelas dan akhir tahun pelajaran serta liburan sekolah, terdapat satuan pendidikan di Provinsi Jawa Barat yang melaksanakan study tour, mulai dari jenjang prasekolah, pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.
 
Tiga hal penting yang dimuat dalam surat edaran tersebut adalah:
 
1️⃣ Pertama, study tour harus dilakukan di dalam kota, kunjungi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan destinasi wisata edukatif lokal untuk mendukung ekonomi lokal. Kecuali sudah ada kontrak kerja sama untuk kegiatan di luar provinsi yang tidak bisa dibatalkan.

2️⃣ Kedua, pastikan kegiatan ini aman dan bermanfaat bagi semua peserta. Perhatikan kesiapan kendaraan, keamanan jalur perjalanan, dan koordinasi dengan dinas perhubungan setempat.

3️⃣ Ketiga, koordinasi dengan memberikan pemberitahuan resmi kepada dinas pendidikan setempat. Transparansi dan koordinasi adalah kunci!

Pemkot Depok Janji Evaluasi Study Tour

📢 Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat, memutuskan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan di luar sekolah setelah tragedi maut di Subang! Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono, menjelaskan bahwa pemkot akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk meninjau syarat dan ketentuan kunjungan luar kota.

💼 Evaluasi ini akan melibatkan berbagai pihak mulai dari Dewan Sekolah, Dewan Pendidikan Kota Depok, hingga pihak kepolisian. Tujuannya untuk menciptakan mekanisme yang jelas untuk memastikan keselamatan siswa-siswi sekolah.

👮‍♂️ Tak hanya itu, kerja sama dengan pihak kepolisian juga diperlukan untuk mengusut tuntas masalah ini. Menurutnya, keamanan kendaraan yang digunakan siswa-siswi sekolah merupakan sebuah kewajiban dan mekanisme yang harus ditempuh. Terlebih kecelakaan ini terjadi diduga akibat rem bus blong.

"Kami juga akan kerja sama dengan pihak kepolisian dalam mengusut permasalahan ini dengan pihak penyelenggara travel bus tersebut," ucap Imam.

KNKT: Buat Rencana Perjalanan yang Baik

🔍 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengingatkan masyarakat dan sekolah untuk membuat rencana perjalanan wisata yang baik guna meminimalisir potensi kecelakaan di perjalanan.

1️⃣ Rencanakan perjalanan dengan bijak! Jangan paksakan pengemudi untuk berkendara terlalu lama. Setelah 12 jam berkendara, pastikan pengemudi mendapat istirahat yang cukup untuk keselamatan kita semua.

2️⃣ Siapkan tempat istirahat yang nyaman bagi pengemudi! Jangan biarkan mereka tidur di dalam bus. Pengemudi yang segar adalah kunci utama keselamatan perjalanan.

3️⃣ Jangan kejar-kejaran dengan waktu! Jadwal perjalanan harus masuk akal dan memberi cukup waktu untuk istirahat. Ingat, keamanan lebih penting dari segalanya!

❌ Jangan lupakan pentingnya fungsi rem yang baik pada kendaraan. Kecelakaan bisa terjadi karena rem yang blong atau karena pengemudi panik. Pastikan kendaraan selalu dalam kondisi prima!

🚨 Kepala Korps Lalu Lintas Polri juga menyatakan bahwa kecelakaan tragis di Subang diduga akibat kegagalan fungsi rem. Ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk selalu memeriksa kendaraan secara berkala!

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR