Advertisement

Fenomena Love Scamming: Modus Penipuan Atas Nama Cinta dan Bagaimana Mencegahnya

15 May 2023 16:20 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi love scam, aksi penipuan yang berkedok hubungan asmara. Penipuan ini biasanya dilakukan menggunakan aplikasi kencan. (Sumber: Freepik) .

Penulis: Rusti Dian

Editor: Rizal Amril

Apakah kamu tahu tentang fenomena love scamming? Love scamming adalah tindakan penipuan berkedok asmara atau cinta. 

Pelaku akan melibatkan perasaan korban dan memanfaatkan kebaikannya untuk melakukan penipuan.

Love scamming termasuk tindak kekerasan secara online yang berpotensi menjadi kekerasan berbasis gender online (KBGO). 

Biasanya, kasus love scamming berangkat dari aplikasi kencan online atau media sosial. 

Kasus penipuan dengan modus love scamming ini semakin banyak seiring perkembangan teknologi. Walaupun ini bukan fenomena yang baru, tetapi hanya sedikit yang mau melaporkan kasusnya.

Modus love scamming

Dalam kasus love scamming, pelaku akan menggunakan data pribadi orang lain atau mengada-ada tentang identitasnya. 

Biasanya, pelaku akan berpura-pura menjadi pekerja asing yang bekerja di Indonesia, atau sedang berencana ingin ke Indonesia. Tetapi bukan berarti modusnya hanya seperti itu saja.

Pada dasarnya, pelaku akan memainkan emosi target sasarannya. Setelah emosi dan pikirannya dapat dimanipulasi, maka pelaku bisa mendapatkan apa yang ia mau. 

Ia akan memanfaatkan psikologis korban yang sudah memberi kepercayaan pada pelaku.

Sekilas profil pelaku memang menarik dan dapat dipercaya. Ia akan intens menjalin komunikasi denganmu. 

Bahkan, ia akan menciptakan suasana senyaman mungkin sehingga komunikasi dapat berpindah ke aplikasi privat seperti WhatsApp, Line, dan lain sebagainya.

Ia akan berusaha seromantis mungkin dalam memberikan afeksi. Hingga akhirnya, ia rela datang ke Indonesia untuk bertemu denganmu atau beralasan ada anggota keluarganya yang sakit dan butuh uang dengan jumlah besar. 

Ia pun meminjam uang darimu, atau bahkan meminjam kartu kreditmu.

Modus lain adalah dengan mengirimkan barang mahal untukmu. Namun, barang tersebut tertahan oleh petugas. 

Untuk menebusnya, pelaku memintamu mengirimkan sejumlah uang ke suatu rekening yang kamu anggap itu adalah rekening petugas, padahal itu adalah rekening pelaku.

Dua modus di atas hanyalah sebagian dari sekian banyak modus para love scammer

Tema love scamming pernah diangkat menjadi sebuah film dokumenter berjudul The Tinder Swindler (2022).

Tanda-tanda love scamming

Berikut tanda-tanda seseorang yang berpotensi melakukan love scamming menurut Scamwatch Australia:

  • Profil media sosial tidak konsisten.
  • Langsung menyatakan cinta dalam waktu perkenalan yang singkat.
  • Selalu mengatakan janji manis.
  • Setelah mendapat kepercayaan, pelaku berani meminjam uang.
  • Pelaku meminta lebih dari apa yang sudah diberi, tak sedikit yang berujung pada kekerasan seksual.

Bentuk scamming

Selain love scamming melalui dating apps, berikut beberapa bentuk penipuan lain menurut Australian Competition & Consumer Watch:

  • Mencuri data dan informasi pribadi untuk membobol rekening bank (phising).
  • Penipuan melalui marketplace.
  • Penipuan dengan dalih transfer uang lebih dari jumlah yang ditentukan, kemudian meminta korban mengembalikan kelebihan uang.
  • Lowongan kerja dengan meminta sejumlah uang yang dibayar di muka.
  • Penipuan dengan skema piramida.

Cara mencegah love scamming

Tidak hanya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) saja yang mencatat perihal kasus love scamming, Direktorat Jenderal Bea Cukai pun mencatat hal yang sama. 

Melansir Kompas TV, laporan kasus love scam di Ditjen Bea Cukai pada 2022 mencapai 1.783 kasus dengan total kerugian mencapai Rp2,5 miliar.

Oleh karena itu, berikut cara mencegah love scamming menurut Scamwatch Australia:

  • Jangan mengirimkan uang kepada seseorang yang belum pernah ditemui secara langsung.
  • Ambil keputusan dengan logika, hindari mengambil keputusan dengan mengedepankan perasaan.
  • Cek profil orang yang bersangkutan untuk mengetahui kebenarannya.
  • Waspada salah eja dan tata bahasa yang digunakan.
  • Curigai ketika cerita yang disampaikan tidak konsisten.
  • Hati-hati saat akan membagikan foto atau video pribadi.
  • Ajak orang lain ketika akan bertemu dengan seseorang yang kamu kenal melalui media sosial.
  • Jangan memberikan detail rekening, kartu kredit, akun online, dan salinan dokumen pribadi kepada siapapun, terlebih yang tidak kamu kenal atau percayai.
  • Hati-hati dengan informasi pribadi yang dibagikan di media sosial.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement