PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan mental yang berkembang setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis, baik secara langsung maupun melalui pengamatan.
Kejadian traumatis yang dapat memicu PTSD meliputi serangan fisik, kecelakaan fatal, bencana alam, atau kekerasan seksual. PTSD dapat menyebabkan penderitaan yang hebat dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang.
PTSD umumnya merupakan respons psikologis manusia atas peristiwa traumatis. Namun, proses untuk melalui fase sulit ini kerapkali tak mudah, baik bagi penderita PTSD atau orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, penyebab dari PTSD beragam dan bisa kompleks. Meskipun tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengembangkan PTSD, individu dengan riwayat trauma yang berkepanjangan atau yang memiliki dukungan sosial yang kurang cenderung lebih berisiko.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan PTSD meliputi:
-
Jenis trauma yang dialami;
-
Durasi dan intensitas trauma;
-
Riwayat penyakit mental dalam keluarga;
-
Respons individu terhadap stres;
-
Dukungan sosial yang tersedia setelah trauma.
Gejala PTSD yang perlu dikenali
Ketika seseorang mengalami PTSD, terdapat beberapa gejala yang bisa dikenali, berikut beberapa di antaranya:
1. Tanda-tanda intrusi
Gejala intrusi adalah salah satu aspek paling mencolok dari PTSD. Ini termasuk:
-
Kilas balik, yakni mengalami atau merasakan kembali kejadian traumatis seolah-olah sedang berlangsung.
-
Mimpi buruk yang berhubungan dengan trauma.
-
Pikiran obsesif, yakni tidak dapat menghindari pikiran tentang peristiwa traumatis.
Mereka yang menderita PTSD sering kali merasa terjebak dalam pengalaman traumatis, yang menciptakan rasa cemas yang berkepanjangan.
2. Penghindaran
Penghindaran adalah reaksi yang umum terjadi di kalangan individu dengan PTSD.
Ini termasuk tindakan yang diambil untuk menghindari situasi, orang, atau tempat yang mengingatkan mereka akan trauma, contohnya:
-
Menghindari percakapan tentang pengalaman traumatis.
-
Menjauh dari lokasi yang terasosiasi dengan trauma.
-
Menghindari orang-orang yang mengingatkan mereka tentang kejadian tersebut.
Penghindaran dapat mempersulit individu untuk menghadapi kenyataan dan dapat mengganggu hubungan sosial mereka.
3. Perubahan emosi dan perilaku
Perubahan emosi dan perilaku juga merupakan bagian penting dari PTSD. Individu mungkin mengalami:
-
Emosi yang tidak stabil, seperti kemarahan, rasa bersalah, atau rasa putus asa.
-
Perasaan kesepian atau terasing dari orang lain.
-
Kesulitan dalam merasakan emosi positif atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai.
Semua gejala ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan interaksi individu dengan orang lain.
Tingkatan PTSD yang ada
Meskipun PTSD dipicu oleh peristiwa traumatis, namun respons setiap manusia bisa berbeda.
Oleh karenanya, ada beberapa jenis PTSD jika ditilik dari karakteristiknya sebagai berikut:
1. PTSD sederhana dan kompleks
PTSD sederhana biasanya dialami setelah satu peristiwa traumatis. Sebaliknya, PTSD kompleks terjadi setelah serangkaian peristiwa traumatis yang berkepanjangan, sering kali mengakibatkan dampak psikologis yang lebih dalam dan sulit untuk diatasi.
2. PTSD disosiatif dan komorbid
PTSD disosiatif adalah ketika individu mengalami gejala disosiatif, seperti depersonalisasi atau derealisasi, yang dapat mengganggu persepsi mereka terhadap diri sendiri dan pengalaman mereka.
Tipe PTSD lainnya, yaitu PTSD komorbid, terjadi ketika individu mengalami lebih dari satu gangguan mental yang bersamaan, seperti kecemasan atau depresi.
3. Gangguan stres akut
Gangguan stres akut mirip dengan PTSD tetapi biasanya berlangsung selama 3 hari hingga 4 minggu setelah trauma.
Jika gejala tidak mereda setelah periode ini, maka bisa berkembang menjadi PTSD. Jenis ini memerlukan perhatian medis yang tepat agar tidak berkepanjangan.
