Advertisement

Mengenal Fragile Masculinity, Apakah Berdampak Pada Perempuan?

19 November 2024 23:52 WIB

thumbnail-article

Sumber foto: Freepik .

Penulis: Rusti Dian

Editor: Rusti Dian

Pernahkah kamu mendengar kalimat "jadi perempuan jangan terlalu mandiri" yang dilontarkan oleh laki-laki? Kondisi seperti ini menunjukkan fragile masculinity alias maskulinitas rapuh. Lantas, apa itu fragile masculinity?

Fragile masculinity adalah kondisi di mana seorang laki-laki merasa tidak aman dalam identitas maskulinitasnya. Kondisi ini seringkali dipicu oleh tekanan sosial untuk memenuhi standar maskulin yang kaku.

Berbeda dengan toxic masculinity yang menekankan pada perilaku agresif dan dominasi, fragile masculinity justru berfokus pada ketidakmampuan laki-laki menunjukkan kepercayaan diri akan identitasnya.

Laki-laki yang mengalami fragile masculinity cenderung merasa terancam oleh situasi yang menyuratkan kerentanan atau kehilangan kontrol.

Penyebab munculnya fragile masculinity antara lain adalah budaya patriarki yang mengharuskan pria untuk tampil kuat. Ditambah ekspektasi gender yang mengharuskan mereka untuk selalu menjadi pengambil keputusan.

Banyak laki-laki yang dibesarkan dengan ajaran bahwa menunjukkan emosi merupakan tanda kelemahan sehingga mereka terjebak dalam konstruksi sosial yang tidak sehat.

Ciri-Ciri Fragile Masculinity

Berikut ciri-ciri fragile masculinity:

  • Tidak mau menunjukkan emosi

Laki-laki fragile masculinity seringkali menghindari menunjukkan emosi mereka. Mereka merasa bahwa mengekspresikan perasaan seperti sedih atau cemas akan merusak citra maskulin yang diterima masyarakat. Penjalinan emosi ini menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

  • Tindakan kontrol dalam hubungan

Perilaku kontrol merupakan ciri yang mencolok pada pria dengan fragile masculinity. Mereka cenderung merasa perlu mengontrol situasi di sekitarnya, terutama dalam hubungan pribadi.

Hal ini dapat membuat pasangan merasa tertekan dan diabaikan. Pada akhirnya yang terjadi yaitu ketidakharmonisan dalam hubungan.

  • Tidak mampu menerima keberagaman

Pria dengan fragile masculinity sering merasa terancam oleh keberagaman, baik dalam konteks gender maupun sosial.

Mereka tidak mampu menerima perbedaan sehingga yang muncul adalah sikap diskriminatif dan intoleran terhadap individu atau kelompok yang tidak memenuhi stereotip maskulin tradisional.

  • Kecenderungan menolak pekerjaan domestik

Masyarakat yang menganut budaya patriarki menganggap bahwa pekerjaan domestik hanya dilakukan oleh perempuan. Laki-laki dengan fragile masculinity cenderung enggan melakukan tugas-tugas rumah tangga karena mereka menganggap hal tersebut tidak sesuai dengan citra laki-laki yang maskulin.

  • Cemburu berlebihan

Ciri lain dari fragile masculinity adalah merasa cemburu berlebihan. Ketika pasangan menunjukkan kemandirian atau prestasi, laki-laki dengan fragile masculinity akan merasa terancam. Rasa cemburu ini mencerminkan rendahnya rasa percaya diri dan berdampak negatif pada hubungan.

Pengaruh fragile masculinity pada perempuan

Mengacu pada ciri-ciri di atas, tentu fragile masculinity dapat berdampak negatif terhadap perempuan. Berikut pengaruhnya:

  • Dampak terhadap hubungan interpersonal

Fragile masculinity dapat menciptakan dinamika yang tidak sehat dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sikap kontrol dan ketidakmampuan berkomunikasi secara terbuka dapat menyebabkan ketegangan dan konflik yang pada akhirnya merusak hubungan.

  • Pembatasan peran gender bagi perempuan

Maskulinitas yang rapuh sering mengakibatkan pembatasan peran gender untuk perempuan.

Laki-laki yang merasa terancam cenderung mengharapkan perempuan untuk berada dalam peran yang lebih tradisional. Hal ini tentu mendorong stereotip bahwa perempuan tidak seharusnya mengejar karier atau ambisi pribadinya.

  • Berpotensi memicu kekerasan terhadap perempuan

Kekerasan berbasis gender seringkali berakar pada fragile masculinity. Ketika laki-laki merasa identitas maskulinnya terancam, mereka mungkin bereaksi dengan melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal terhadap perempuan. Ini merupakan cara untuk mempertahankan kontrol dan dominasi.

  • Merugikan kesehatan mental perempuan

Perilaku yang muncul dari fragile masculinity tidak hanya berdampak pada laki-laki, tetapi juga dapat merugikan kesehatan mental perempuan.

Laki-laki yang tidak mampu berempati dan memahami perasaan perempuan tentu akan menciptakan kesenjangan emosional. Hal ini dapat menyebabkan dampak psikologis negatif bagi perempuan.

Upaya mengurangi dampak fragile masculinity

Salah satu cara untuk mengurangi dampak fragile masculinity adalah melalui pendidikan kesadaran gender. Pengenalan pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan identitas gender dapat membantu mengatasi stereotip sosial.

Laki-laki dengan fragile masculinity dapat melakukan konseling psikologis untuk membantu memahami dan mengatasi permasalahannya. Dengan membangun kesadaran tentang emosi, laki-laki dapat belajar untuk menghadapi dan mengekspresikan perasaan tanpa merasa terancam.

Selain itu, masyarakat juga harus memberikan fokus pada tokoh-tokoh pria yang mempromosikan maskulinitas positif.

Mempromosikan keberagaman identitas laki-laki yang kuat dan berkontribusi positif dapat membantu merubah pandangan tentang maskulinitas dan mengurangi stigma tentang menunjukkan kelemahan.

Dengan upaya-upaya yang tepat, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih seimbang dan adil, di mana individu dapat berkembang tanpa melihat jenis kelaminnya.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement