Perempuan Takut Merasa Tersaingi, Kenali Queen Bee Syndrome

10 Maret 2023 15:03 WIB

Narasi TV

Ilustrasi dua perempuan yang berbeda ekspresi. Sumber: Freepik.

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Sebagai perempuan yang berkarir, tentu kerja keras menjadi kunci untuk mendapatkan posisi atau jabatan yang gemilang. Tantangan yang dilalui pasti tidak mudah. Terkadang ia bisa menganggap kehadiran perempuan lain justru menghambat karirnya. Sifat ini disebut queen bee syndrome.

Definisi queen bee syndrome

Queen bee syndrome pertama kali dibahas oleh G.L. Staines, T.E Jayaratne, seorang psikolog asal University of Michigan. Sindrom ini biasanya terjadi di dunia kerja.

Pengertian queen bee syndrome adalah keadaan di mana perempuan dengan jabatan tinggi di antara para lelaki menganggap rendah perempuan lain yang menjadi bawahannya.

Seseorang yang memiliki sifat queen bee syndrome atau ratu lebah akan menganggap dirinya lebih superior dibanding perempuan lain. Menurut Naomi Ellemers, Profesor Universitas Utrecht di Belanda, queen bee syndrome adalah label yang justru menunjukkan sisi bermasalah perempuan.

Ellemers juga menilai queen bee syndrome adalah konsekuensi dari diskriminasi gender yang sering dialami perempuan. 

Ketika perempuan berhasil membuktikan eksistensinya di antara para lelaki, ia tidak ingin eksistensinya tidak lagi menonjol karena kehadiran perempuan lain.  Perempuan dengan sindrom ini akan menjauhkan diri dari perempuan lain dengan cara bersikap lebih maskulin, seolah-olah menganggap bahwa maskulinitas adalah kunci kesuksesan karier.

Ciri-ciri queen bee syndrome

Berikut ciri-ciri yang dimiliki oleh perempuan dengan queen bee syndrome:

  • Memiliki cara memimpin yang maskulin yaitu menindas, agresif, bossy, sombong, dan kasar.
  • Menjaga jarak dengan rekan kerja sesama perempuan.
  • Tidak memberikan rekomendasi kenaikan jabatan bagi sesama perempuan.
  • Sulit memberi apresiasi kepada pekerja perempuan.
  • Menentang kebijakan yang meningkatkan kesetaraan gender.
  • Tidak profesional untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.

Cara mengatasi queen bee syndrome

Jika kamu memiliki ciri-ciri atau berpotensi mengalami queen bee syndrome, berikut beberapa hal yang harus kamu lakukan agar sindrom tersebut tidak berlarut:

  • Mengenali identitas diri

Menjadi pemimpin bukan berarti bisa bertindak seenaknya kepada bawahan atau sesama rekan kerja. Kamu harus bisa mengenali identitas dirimu dan peran apa saja yang harus kamu lakukan sebagai seorang pemimpin. Pastikan peranmu dapat memberi manfaat dan kebaikan untuk rekan kerjamu.

  • Terbuka dengan masukan dan saran

Kritik dan saran dari orang lain tentu dapat membangun karaktermu agar lebih baik dari sebelumnya. Jangan tolak mentah-mentah kritikan tersebut. Justru sebaliknya, kamu harus belajar terbuka menerima kritik dan saran sehingga kamu bisa memilah mana saran yang membangun untuk evaluasi diri.

  • Mengembangkan diri

Dengan mengikuti pelatihan leadership atau kepemimpinan, itu akan menambah pengetahuan dan pengalamanmu dalam memimpin pekerjaan atau organisasi.

  • Mengedepankan empati dan kepekaan

Kamu boleh sesekali mengajak rekan kerja atau bawahanmu untuk sekadar nongkrong bersama, liburan, gathering, atau outbond. Hal ini dapat meningkatkan empati dan kepekaanmu terhadap apa yang dirasakan oleh sesama rekan kerjamu.

Queen bee syndrome dapat berdampak buruk bagi karirmu. Pasalnya, sindrom ini berpotensi mendiskriminasi perempuan lain sehingga dapat merusak hubungan sosialmu. Jadi, jika kamu memiliki queen bee syndrome, coba untuk mulai menghilangkan sindrom tersebut ya!


Yuk, follow Instagram WMNLyfe untuk tahu berita-berita penting tentang perempuan lainya!

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR