Pernahkah kamu mendengar istilah playing victim? Playing victim adalah sikap seseorang yang merasa menjadi korban atas kesalahan yang diperbuatnya sendiri dan menimpakan kepada orang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari tanggung jawab sebagai pelaku.
Tindakan ini termasuk toksik dalam sebuah hubungan. Pasalnya, ia tidak akan mengakui kesalahan yang diperbuat.
Ia justru akan berbalik menyalahkan orang lain dan merasa seolah dialah yang menjadi korban atas kesalahan tersebut.
Playing victim sudah pasti termasuk perilaku manipulatif. Ia tidak akan peduli dengan orang lain dan cenderung melebih-lebihkan peristiwa yang terjadi. Juga termasuk perilaku yang childish atau kekanak-kanakan karena menghindari bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.
Penyebab playing victim
Suatu perbuatan bisa terjadi karena ada alasan di baliknya, termasuk playing victim. Berikut penyebab seseorang melakukan playing victim:
1. Trauma
Rasa trauma di masa lalu dapat memicu seseorang untuk bertindak playing victim.
Hal tersebut dianggap sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak mudah ditindas oleh orang lain.
2. Memiliki pengalaman dikecewakan
Pengalaman dikecewakan juga dapat memicu seseorang menjadi playing victim. Ia akan sulit memercayai orang lain karena terlalu sering dikhianati.
3. Memiliki dendam terhadap orang yang sukses
Seseorang yang playing victim juga bisa karena tidak suka dengan kesuksesan orang lain.
Baginya, kesuksesan tersebut akan membuat orang-orang tidak lagi memandangnya. Ia pun akan balas dendam dengan cara mencemarkan nama baik orang yang dibencinya.
4. Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian yang dimaksud adalah narsistik dan suka memanipulasi. Orang yang narsistik cenderung ingin diperhatikan dan dianggap penting oleh orang lain.
Salah satu caranya adalah dengan berpura-pura menjadi korban. Dengan begitu, ia akan mendapat simpati dari orang lain.
Tanda-tanda playing victim
Berikut ini tanda-tanda playing victim yang patut diwaspadai:
1. Tidak mau tanggung jawab
Orang yang melakukan playing victim enggan untuk bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.
Alih-alih meminta maaf, ia justru menyalahkan orang lain. Ia menganggap bahwa permintaan maaf adalah beban.
Biasanya, orang yang playing victim memiliki banyak alasan untuk menyudutkan korban sebenarnya. Ia akan berpikir negatif bahwa hidup tidak pernah berpihak kepadanya atau dunia tidak menginginkannya.
2. Fokus pada masalah, bukan solusi
Pelaku playing victim biasanya memiliki banyak alasan untuk memperpanjang masalah.
Alih-alih memikirkan solusi, ia justru akan terus mencari pembenaran. Tak jarang, ia lebih senang mengasihani diri sendiri dibanding menerima bantuan orang lain.
3. Selalu berpikir negatif tentang dirinya
Pelaku playing victim akan selalu berpikir negatif tentang dirinya. Ia sering bergulat dengan pikirannya sendiri hingga membuatnya tidak berdaya.
Hal ini akan menghambat langkahnya untuk bisa berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.
4. Merasa lemah dan tersakiti
Oleh karena pemikirannya yang selalu negatif, pelaku playing victim akan merasa lemah dan menjadi orang paling tersakiti.
Hal ini mampu membangkitkan victim mentality (mental korban) dalam dirinya yang justru berdampak buruk bagi kehidupan.
5. Tidak percaya diri
Pelaku playing victim biasanya akan berpikir pesimis tentang hidupnya. Ia tak berani mengambil langkah karena takut gagal.
Pikiran-pikiran negatif seperti “aku tidak sebaik dia”, “aku tidak sanggup”, “aku tidak pintar” selalu menghantui dirinya. Tak heran jika pelaku playing victim akan terjebak dalam keterpurukan.
Cara menghadapi orang playing victim
Jika kamu dihadapkan dengan orang yang playing victim, maka kamu bisa melakukan cara-cara berikut ini:
- Ajak bicara baik-baik dan dengarkan ucapannya.
- Jangan terlalu memikirkan ucapan dan tindakan tersebut.
- Alihkan pembicaraan untuk mencari solusi dibanding terus membahas kesalahannya.
- Usahakan menjaga jarak dari orang yang playing victim.
- Berkomunikasilah di saat-saat penting.
- Hindari melabeli pelaku playing victim.
