Wakil Presiden Filipina Sara Duterte tengah terjebak dalam kontroversi besar setelah DPR Filipina menyetujui mosi pemakzulan terhadap dirinya.
Tuduhan yang dilayangkan terhadap Sara mencakup tindakan pidana korupsi serta perencanaan untuk membunuh Presiden Marcos dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Situasi ini menimbulkan ketegangan yang signifikan dalam dunia politik Filipina.
Berikut profil Wapres Sara Duterte yang merupakan putri dari mantan presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Profil Sara Duterte
Latar belakang keluarga
Sara Zimmerman Duterte, yang lebih dikenal dengan nama Inday Sara, lahir pada 31 Mei 1978 di Davao City, Filipina.
Sara merupakan putri kedua dari Rodrigo Roa Duterte, mantan Presiden Filipina, dan Elizabeth Zimmerman, seorang mantan pramugari dan guru.
Latar belakang keluarganya yang kuat dalam dunia politik sangat mempengaruhi langkahnya dalam memulai karier di bidang pemerintahan dan kepemimpinan.
Pendidikan dan gelar
Sara Duterte menempuh pendidikan di San Pedro College, Davao City, dan meraih gelar Sarjana Sains di bidang Terapi Pernafasan.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan dan mendapatkan gelar Juris Doctor dari San Sebastian College-Recoletos di Manila, yang membekalinya dengan pengetahuan hukum yang relevan dengan karier politiknya.
Keterlibatannya dalam pendidikan militer sebagai anggota angkatan bersenjata juga menambah dimensinya sebagai pemimpin.
Kehidupan pribadi dan keluarga
Sara Duterte menikah dengan Manases Reyes Carpio, seorang pengacara, dan mereka dikaruniai tiga anak: Sharkie, Stingray, dan Stonefish.
Keluarga Duterte telah lama dikenal sebagai keluarga politik yang kuat di Filipina. Dinamika keluarga ini menjadi bagian penting dari identitas Sara sebagai pemimpin, dengan pengaruh yang diberikan oleh orang tuanya dan hubungan yang terjalin dengan saudara-saudaranya yang juga terlibat dalam politik.
Latar belakang Sara yang berasal dari keluarga politisi menanamkan nilai-nilai publik yang kuat dalam dirinya. Dialah yang membawa warisan dukungan terhadap kepemimpinan yang telah dibangun oleh ayahnya, serta memperluas dan menyesuaikan visi itu dengan tantangan masa kini.
Dengan latar belakang yang kaya, Sara Duterte terus menjadi sorotan dalam kancah politik Filipina, terutama dengan situasi terbaru yang menantang kariernya.
Baca Juga:DPR Filipina Makzulkan Wapres Sara Duterte Usai Tuduhan Korupsi dan Plot Pembunuhan Presiden
Karier politik dan kepemimpinan
Karier politik Sara Duterte dimulai ketika ia terpilih sebagai Wakil Wali Kota Davao pada tahun 2007. Selama menjabat, ia menerapkan program "Inday Para sa Barangay" yang bertujuan untuk memberikan layanan langsung kepada masyarakat di setiap kecamatan.
Inisiatif ini berhasil menunjukkan kemampuannya dalam mengelola pemerintahan dan memberikan pelayanan publik.
Pada tahun 2010, Sara terpilih sebagai Wali Kota Davao, menggantikan ayahnya yang telah menjabat sebelumnya. Di bawah kepemimpinannya, Davao City mengalami banyak perubahan positif, termasuk peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pelaksanaan berbagai proyek inovatif.
Salah satu proyek terkenalnya adalah slogan "Davao Life is Here," yang berfungsi untuk mempromosikan pariwisata dan investasi di wilayah Davao.
Berkat pengelolaan sumber daya yang baik di bawah kepemimpinannya, Sara mendapatkan 36 penghargaan dalam berbagai bidang dari 2011 hingga 2013, termasuk pengakuan atas tata kelola pemerintahan yang baik dan sehat. Prestasi ini membantu meningkatkan citra Davao sebagai salah satu kota terbaik di Filipina.
Setelah jeda dari politik, Sara kembali mencalonkan diri sebagai Wali Kota Davao pada tahun 2016 dan terpilih kembali.
Pada tahun 2022, Sara Duterte menjadi calon Wakil Presiden di bawah pasangan Ferdinand Marcos Jr., dan berhasil memenangkan pemilihan.
Kontroversi dan isu pemakzulan
Pernyataan kontroversial yang dibuat oleh Sara mengenai ancaman bunuh terhadap Presiden Marcos dan kalangan pejabat lainnya menjadi sorotan media dan menarik perhatian pihak berwenang.
Dalam konferensi pers, Sara mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan seseorang perihal potensi pembunuhan terhadap Marcos jika ia sendiri terbunuh, yang memperlihatkan ketegangan yang semakin meningkat di antara keduanya.
Pihak berwenang Filipina segera bergerak untuk menyelidiki tuduhan dan pernyataan tersebut, menyusul seruan publik dan perhatian media.
