Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah resmi diluncurkan di 190 titik yang tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Peluncuran ini merupakan bagian dari upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kepala Komunikasi Kepresidenan RI, Hasan Nasbi, menyatakan bahwa program ini berhasil dilaksanakan pada hari ke-78 masa tugas Presiden Prabowo.
“Kita bersyukur, tidak menunggu 100 hari atau tepat hari ke-78 Bapak Prabowo menjadi Presiden, program MBG dimulai," terang Hasan Nasbi dalam siaran pers yang diterima pada Minggu (5/12/2025).
Hasan Nasbi juga menekankan bahwa ini adalah tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia, terutama dalam pemenuhan gizi untuk balita, anak-anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan menyusui.
Provinsi yang terlibat dalam program ini mencakup Aceh, Bali, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan 22 provinsi lainnya. Pemerintah pusat berkomitmen untuk memastikan keberlangsungan dan kelancaran program ini, terutama selama masa operasional yang direncanakan tidak hanya pada hari kerja, tetapi juga di akhir pekan.
Setiap Dapur MBG dikelola oleh seorang kepala SPPG yang ditunjuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala SPPG bekerja bersama ahli gizi untuk mengelola layanan pengolahan makanan kepada penerima manfaat. Tanggung jawab mereka meliputi pengawasan standar kebersihan dan pengelolaan gizi selama proses penyajian.
Standar kebersihan yang ketat juga diberlakukan untuk menghindari potensi masalah kesehatan, sementara upaya meminimalkan limbah makanan menjadi perhatian utama. Nampan penyajian yang dirancang dari bahan stainless steel untuk meningkatkan higienitas dan memungkinkan penggunaan ulang merupakan salah satu contoh langkah inovatif dalam pengurangan limbah.
"BGN berkomitmen untuk meminimalkan limbah. Bahkan, untuk mendukung keberlanjutan, nampan penyajian dirancang menggunakan bahan stainless steel yang higienis dan dapat digunakan ulang,” terangnya.
Pemerintah menargetkan untuk menjangkau tiga juta penerima manfaat selama periode Januari hingga Maret 2025, dengan rencana jumlah penerima manfaat terus meningkat hingga mencapai 15 juta orang pada akhir tahun 2025. Sasaran jangka panjang program ini diharapkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2029, mencakup balita, santri, dan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
“Angka ini terus bertambah secara bertahap, hingga tahun 2029 target 82,9 juta penerima manfaat dapat terpenuhi,” tambahnya.
Untuk mendukung program ini, alokasi anggaran sebesar Rp71 triliun dari APBN 2025 telah disiapkan. Peningkatan jumlah Dapur MBG hingga targetnya sebanyak 937 dapur akan terealisasi hingga akhir Januari. Selain itu, 140 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga ikut terlihat. Saat ini sedang dalam tahap evaluasi dari ribuan pendaftar UMKM, Koperasi, dan BUMDes.
Program MBG tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat tetapi juga diharapkan dapat memberi dorongan bagi perekonomian lokal. Khususnya, peran UMMK (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) serta petani lokal menjadi sangat penting untuk kesuksesan program ini. Hasan Nasbi mencatat bahwa program ini mendorong keterlibatan ribuan UMKM dan petani dalam rantai pasok makanan bergizi.
Dampak positif diharapkan akan terasa di tingkat daerah dengan peningkatan kegiatan ekonomi melalui pelibatan koperasi dan BUMDes. Dengan kolaborasi multisektor yang diharapkan mengalir, unit-unit usaha akan mendapatkan peluang untuk berkembang, sehingga dapat lebih membantu dalam memastikan anak-anak tumbuh dengan gizi yang baik.
