Advertisement

Ramai Miftah Maulana Ejek Penjual Teh, Apa Sebenarnya Makna Panggilan Gus?

04 December 2024 16:51 WIB

thumbnail-article

Tangkapan layar video Miftah Maulana mengolok penjual es teh keliling dalam pengajian di Magelang pada Rabu (20/11/2024). (Foto: YouTube/gusyusufchanneltegalrejo) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Utusan Khusus Presiden Miftah Maulana alias Gus Miftah ramai di internet usai video dirinya mengolok penjual es keliling dalam ceramahnya viral di media sosial.

Peristiwa tersebut terjadi ketika dirinya mengisi pengajian dalam acara "Magelang Bersholawat" di Lapangan Drh. Soerpardi, Mungkid, Kabupaten Magelang, pada Rabu (20/11/2024) lalu.

Awalnya, penonton meminta Miftah untuk memborong dagangan seorang penjual es teh yang berlalu lalang di antara penonton. Namun, bukannya memborong, Miftah justru mengeluarkan kata tak pantas.

"Es tehmu jik okeh ora?" ujar Miftah bertanya apakah dagangannya masih banyak atau tidak.

"Masih? Yo kono didol, gob**k," lanjut Miftah, menyuruh penjual tersebut terus berjualan sembari mengatainya.

Video tersebut kemudian menuai kecaman keras dari warganet di berbagai media sosial.

Banyak dari warganet merasa bahwa penyataan tersebut tak pantas keluar dari seseorang yang disebut "Gus".

Memangnya, apa maksud dari sebutan "Gus" dan kenapa mereka seakan punya keistimewaan lebih di komunitas Islam Indonesia?

Makna panggilan "Gus" dalam konteks Islam

Kata "Gus" memiliki makna penting dalam konteks Islam, khususnya dalam lingkungan pesantren di Indonesia, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Gelar ini biasanya disematkan kepada anak kiai atau tokoh agama yang memiliki wawasan keagamaan yang mendalam.

Selain menjadi gelar, istilah Gus juga mencerminkan penghormatan dan harapan masyarakat terhadap individu yang menyandangnya.

Sejarah penggunaan istilah "Gus" bermula dari budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai sosial dan spiritual.

Istilah ini berasal dari kata "bagus," yang berarti tampan atau terhormat. Awalnya, gelar ini digunakan dalam konteks keraton untuk menyebut anak-anak bangsawan sebelum akhirnya merembet ke lingkungan pesantren, di mana istilah ini menjadi simbol penghormatan bagi anak-anak kiai.

Dalam konteks pesantren, gelar "Gus" menjadi umum dan penting. Anak kiai yang menyandang gelar ini diharapkan dapat mengambil alih kepemimpinan dan menjaga tradisi pesantren.

Panggilan ini juga berkaitan dengan ekspektasi masyarakat atas kemampuan dan moralitas para anak kiai, di mana mereka sering dianggap sebagai penerus ajaran Islam di masa depan.

Seiring waktu, sebutan "Gus" tidak hanya diberikan kepada keturunan kiai, tetapi juga kepada tokoh agama dengan pengetahuan Islam yang luas, mencerminkan fleksibilitas makna yang melampaui asal-usulnya.

Gelar "Gus" tidak sekadar simbol status, tetapi juga terkait dengan tanggung jawab sosial dan spiritual yang besar.

Mereka yang menyandang gelar ini sering kali diharapkan untuk menjalankan peran aktif dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan dalam komunitas pesantren.

Gelar ini menjadi penanda bahwa seseorang diharapkan bisa meneladani akhlak baik dan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap masyarakat.

Salah satu tokoh besar yang menyandang sapaan ini secara luas adalah Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid.

Ia merupakan tokoh NU yang dikenal dengan nama Gus Dur. Gelar tersebut diberikan kepadanya karena Gus Dur merupakan anak dari Menteri Agama era orde lama Abdul Wahid Hasyim dan cucu dari pendiri NU Hasyim Asyari.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement