Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami bencana alam serius akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Luapan Sungai Cikaso menyebabkan rumah-rumah di permukiman terendam air, dengan sejumlah kendaraan terseret arus deras. Camat Sagaranten, Ridwan Agus Mulyana, menyatakan bahwa kondisi kendaraan berada dalam posisi parkir saat terjangan air. Dia juga menginformasikan bahwa identifikasi jumlah rumah yang terdampak masih dalam proses, karena tersebar di beberapa titik dan desa yang berbeda.
"Banjir karena luapan Sungai Cikaso, kondisi kendaraan sedang parkir," kata Camat Sagaranten Ridwan Agus Mulyana
"Jumlah rumah warga yang terdampak atau terendam banjir, (kami) masih mengidentifikasi karena tersebar di beberapa titik dan di beberapa desa," tambah Ridwan.
Rekaman video yang beredar menunjukkan beberapa mobil, termasuk jenis Taft, terhanyut terbawa arus. Hal ini terjadi di Kampung Cieurih, Desa Datarnangka, yang berbatasan dengan Kecamatan Pabuaran. Arus banjir yang sangat kuat membawa mobil-mobil tersebut ke area dengan genangan air yang lebih dalam.
Penanggulangan dan Evakuasi Warga
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Search and Rescue (SAR) telah dikerahkan untuk melakukan pengecekan di lokasi terdampak. Kepala Pelaksana BPBD Sukabumi, Deden Sumpena, menerangkan bahwa mereka sedang dalam proses evakuasi warga yang terdampak. Di sisi lain, beberapa warga memilih untuk tetap bertahan di kediaman mereka, meskipun mereka berada dalam ancaman bencana. Koordinator Pos SAR Sukabumi, Suryo Adianto, menambahkan bahwa ada sejumlah lansia dan warga yang sakit dalam situasi ini.
Permintaan evakuasi juga datang dari warga yang merasa terancam oleh kondisi banjir. Cuaca yang tidak menentu dan derasnya hujan yang berlangsung membuat situasi semakin menyulitkan.
Cuaca Ekstrem Sebagai Pemicu
Banjir bandang ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Sukabumi. Hujan deras terjadi sejak tanggal 3 Desember 2024 dan mencapai puncaknya pada Rabu, 4 Desember. Air hujan yang tidak berhenti turun mengakibatkan luapan dari beberapa aliran sungai, sehingga sejumlah kampung dan desa terendam. Cuaca buruk ini juga berakibat pada meningkatnya potensi bencana tanah longsor dan pergerakan tanah di daerah tersebut.
Di sisi lain, kondisi hujan yang ekstrem ini diperparah dengan keadaan infrastruktur yang rentan, dengan beberapa sungai yang tidak mampu menampung volume air yang besar dalam waktu singkat.
Infrastruktur Terdampak Banjir
Banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan yang signifikan terhadap infrastruktur di wilayah Sukabumi. Salah satu jembatan di Desa Sirnajaya, Kecamatan Warung Kiara, dilaporkan ambruk dan terbawa arus. Kerusakan ini menunjukkan betapa parahnya dampak bencana ini terhadap akses transportasi dan konektivitas di daerah tersebut.
Kerusakan juga terlihat pada permukiman warga dan kendaraan yang tererang terjangan air. Meskipun belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, kondisi ini masih dalam peninjauan. Penanggulangan dilakukan secara intensif oleh pihak berwenang untuk meminimalisir dampak lebih lanjut dan membantu warga yang membutuhkan.
Dengan segala kerusakan dan ancaman yang ada, upaya kolaboratif antara pemerintah daerah dan lembaga penyelamat menjadi penting untuk memastikan keselamatan masyarakat dan mempercepat pemulihan setelah bencana ini.
Baca Juga:Presiden Prabowo Tegur Gus Miftah Terkait Ucapan Kontroversial Kepada Pedagang Es di Magelang
