Demam Berdarah Dengue atau DBD adalah salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue.
Berbeda dengan penularan penyakit infeksi lainnya seperti COVID-19 yang bisa menyebar langsung dari satu orang ke orang lain, DBD memerlukan perantara yaitu nyamuk Aedes aegypti untuk mengantarkan virus ini ke tubuh manusia.
Virus dengue masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Setelah masuk, virus ini akan menjalani masa inkubasi selama 4 hingga 10 hari sebelum menunjukkan gejala infeksi.
Infeksi virus dengue sendiri menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang tengah dihadapi umat manusia.
Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan tajam kasus infeksi virus dengue di dunia dalam dua dekade terakhir. WHO mencatat pengingkatan tersebut, yang berkembang dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 5,2 juta kasus pada 2019 lalu.
Bahkan, WHO mencatatkan tahun 2023 sebagai tahun dengan kasus infeksi virus dengue paling banyak, setidaknya sebanyak 80 negara anggota WHO memiliki masalah berupa merebaknya infeksi virus dengue.
Salah satu penyakit yang diidap karena infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk tersebut adalah demam berdarah dengue (dengue hemorrgagic fever).
Pada awal 2024, Kemenkes mencatat tingginya kasus DBD di Indonesia mengalami peningkatan. Per 1 Maret 2024, terdapat hampir 16.000 kasus DBD yang tersebar di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia.
Oleh karenanya, mengenali gejala awal dan kritis dari DBD merupakan langkah penting untuk mendapatkan penanganan yang tepat waktu.
Pada awalnya, gejala DBD mungkin menyerupai infeksi virus biasa, namun jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa berkembang menjadi lebih serius dan dapat melumpuhkan aktivitas penderitanya.
Tanda dan gejala DBD
Tanda dan gejala DBD yang dirasakan oleh orang yang terinfeksi umumnya terjadi dalam tiga fase umum, yakni fase demam, kritis, dan pemulihan.
Pada fase demam, seseorang yang terinfeksi virus dengue biasanya mengalami demam tinggi secara tiba-tiba dengan suhu tubuh mencapai lebih dari 38 derajat Celsius.
Biasanya fase tersebut akan berlangsung selama 1-2 hari pertama sebelum suhu tubuh menurun pada hari ke-3.
Namun, penurunan demam ini merupakan tanda masuknya periode kritis. Hal tersebut terjadi sebab penurunan suhu tubuh pada fase ini terjadi karena kebocoran cairan dari pembuluh darah serta penurunan nilai trombosit yang signifikan.
Oleh karena itu, penderita perlu mendapatkan terapi cairan dan observasi ketat pada periode ini.
Melansir laman resmi Kemenkes, demam berdarah dapat ditengarai jika terdapat gejala berikut:
1. Mendadak demam tinggi
Gejala pertama yang dapat ditengarai dari penderita DBD adalah demam tinggi.
Demam yang dirasakan penderita DBD dapat terjadi dengan tiba-tiba tanpa disertai bersin dan batuk. Selain itu, suhu badan ketika demam dapat mencapai 40 derajar celcius.
2. Nyeri otot
Gejala demam yang dialami penderita DBD umumnya disertai dengan nyeri otot yang terasa disejumlah titik tubuh.
Biasanya nyeri tersebut dapat dirasakan di persendian, tulang, hingga daerah belakang mata.
3. Pusing yang luar biasa
Gejala lain yang umumnya diderita oleh pasien DBD adalah rasa pusing yang luar biasa.
Pasien DBD umumnya mengeluhkan sakit kepala parah yang terjadi di area sekitar dahi.
4. Mual dan muntah
Orang yang terjangkit DBD juga umumnya merasakan mual dan muntah. Hal ini membuat penderita DBD sulit memakan makanan sebagai sumber energi.
Selain itu, mual dan muntah yang dirasakan orang terjangkit DBD tersebut akan menimbulkan rasa tak nyaman pada area perut hingga punggung.
5. Rasa lelah
Menurunnya nafsu makan dan semua rasa tak nyaman yang dirasakan ketika terjangkit DBD menimbulkan rasa lelah.
Tanpa penanganan yang tepat, tubuh akan kekurangan energi dan cairan akibat turunnya nafsu makan secara drastis.
Selain gejala-gejala di atas, pasien DBD juga umumnya mengalami kondisi medis lain seperti pendarahan pada kulit, pendarahan internal, gelisah, penurunan kesaradan, kesulitan bernapas, feses hitam, dan hipotensi.
*Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Menukil Kemenkes, DBD yang tak segera ditangani dapat berakibat pada komplikasi Dengue Shock Syndrome (DSS) yang bisa berujung kematian.
