Lailatul Qadar merupakan malam istimewa yang paling dinanti seluruh umat Muslim. Pada malam tersebut Allah menjanjikan ampunan dan keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba yang menemuiNya.
Lantas apa tanda-tanda seseorang mendapat malam Lailatul Qadar? Pendiri Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) Profesor Muhammad Quraish Shihab menyebutkan tanda-tanda seseorang telah berjumpa dengan malam lailatul qadar.
Namun sebelum membahas hal tersebut Dalam Al Quran disebutkan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari 1.000 bulan atau, jika dihitung malam ini lebih baik dari 82-83 tahun.
Salah satu riwayat dari Ubadah bin Ash Shamit dalam tafsir Ibnu Katsir berbunyi seperti berikut. Rasulullah Saw bersabda:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِيْ الْعَشْرِ الْبَوَاقِيْ, مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ, وَهِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ, تِسْعٌ أَوْ سَبْعٌ أَوْ خَامِسَةٌ أَوْ ثَالِثَةٌ أَوْ آخِرُ لَيْلَةٍ, وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ َ: إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيْهَا قَمَراً سَاطِعاً سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ, لاَ بَرْدَ فِيْهَا وَلاَ حَرَّ, وَلاَ يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيْهَا حَتَّى تُصْبِحَ, وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيْحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً, لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ, وَلاَ يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ.
Artinya: Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: "Lailatul Qadar (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barang siapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan."
Tanda Seseorang Mendapatkan Malam Lailatul Qadar
Prof Quraish Shihab menjelaskan ua tanda bagi orang yang menerima kesempatan berjumpa dengan malam lailatul qadar yaitu memantapkan dan meningkat kebaikan, dan hatinya damai, damai dengan diri sendiri ataupun orang lain.
“Pertama, bertambahnya kebaikan. Kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan yang menyeluruh, dari perkataan, sikap, hingga perbuatannya,” terang penulis Tafsir Almisbah tersebut dalam program acara Shihab & Shihab yang dinggung di Youtube Najwa Shihab, 28 April 2022.
Sementara tanda kedua adalah ketenangan. Dalam hal ini, terang dia, mayoritas ulama mengartikan ketenangan/kedamaian yang dimaksud sifatnya berkelanjutan sebagimana termaktub pada ayat terakhir surat Al-Qadar.
“Salamun hiya hattaa mathla’il fajr, pada malam itu, kedamaian dirasakan oleh orang yang beruntung menjumpai malam lailatul qadar hingga terbitnya fajar. Atau keesokan harinya,” terang Prof Quraish Shihab.
“Orang yang bertemu dengan lailatul qadar pasti hatinya damai dengan dirinya, dan dengan orang lain. Kedamaian itu berlanjut,” tambahnya.
