Kekejaman tentara zionis Israel kepada rakyat Gaza di Palestina kian menggila. Sedikitnya 200 orang tewas dalam serangan hari kesembilan militer Israel ke wilaya Gaza Utara sejak 7 Oktober 2024.
Invasi darat oleh para tentara yang tidak lagi mengenal rasa kemanusiaan itu menyebabkan puluhan ribu warga Palestina terperangkap tanpa akses makanan dan minuman yang memadai: mereka sedang menghadapi genosida yang nyata.
Tentara Israel mengepung wilaya Gaza Utara, terutama daerah Beit Hanoun, Jabalia, dan Beit Lahiya, dan memutus akses ke Kota Gaza.
Sejak Israel melancarkan serangan udara dan darat ke Gaza laporan menunjukkan lebih dari 42.175 warga Palestina tewas, dan 98.336 lainnya terluka. Serangan brutal mereka targetkan ke daerah padat penduduk, menghancurkan infrastruktur vital, dan memaksa hampir seluruh populasi di wilayah tersebut untuk mengungsi.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah blokade yang telah menyebabkan kekurangan parah makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Warga Palestina di Gaza Utara melaporkan bahwa mereka sepenuhnya terputus dari dunia luar, dengan pasukan Israel melarang siapa pun untuk meninggalkan wilayah tersebut meskipun ada perintah evakuasi. Sekitar 400.000 warga Palestina terperangkap di rumah mereka tanpa akses ke kebutuhan dasar, seperti makanan, air, atau layanan kesehatan.
Fasilitas kesehatan telah lumpuh akibat serangan yang menargetkan rumah sakit dan klinik. Pasokan medis semakin menipis, memaksa rumah sakit yang masih beroperasi untuk menolak pasien atau merawat mereka dalam kondisi yang sangat terbatas.
Seorang warga Gaza Utara, Nasser, berbagi kisah memilukan di mana mereka hidup dalam ketakutan akan serangan udara dan bom yang bisa kapan saja menghancurkan rumah mereka.
"Israel sedang memusnahkan Jabalia," ujarnya dikutip Aljazeera, 12 Oktober 2024.
Nasser menggambarkan situasi genting di wilayahnya. Jalan-jalan utama telah diledakkan oleh pasukan Israel, menghancurkan distrik pemukiman, sementara warga tidak menemukan apa pun untuk dimakan.
Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese, menuduh Israel melakukan tindakan genosida di kamp pengungsi Jabalia, Gaza Utara.
"Warga sipil Palestina dibunuh—baik dalam kelompok maupun satu per satu—dengan kekejaman dan sadisme yang tak terkatakan oleh pasukan Israel," ujarnya, menekankan bahwa Israel telah mengubah tentaranya menjadi "eksekutor sukarela" dari rencana genosida.
Albanese juga mencatat bahwa serangan ini dilakukan dengan dukungan dan senjata dari negara-negara Barat. Albanese menyuarakan kekecewaannya bahwa meskipun dunia tahu apa yang sedang terjadi, tidak ada yang dapat menghentikan kekerasan tersebut.
"Melihat di mana kita 100 tahun yang lalu, tidak banyak kemajuan yang telah dicapai," tambahnya dalam sebuah unggahan di X (Twitter), memperingatkan bahwa genosida terhadap warga Palestina di Gaza adalah kelanjutan dari kebijakan sistematis yang sudah dimulai setahun sebelumnya.
Para petugas pertahanan sipil di Gaza Utara melaporkan bahwa lebih dari 70 jasad masih tergeletak di jalan-jalan Jabalia, Beit Lahiya, dan Beit Hanoon. Tim penyelamat tidak dapat mengevakuasi jenazah karena serangan udara Israel yang terus berlanjut.
Penangkapan Massal di Tepi Barat
Serangan militer Israel di kawasan Tepi Barat juga terus berlanjut. Dalam dua hari terakhir, hingga 12 Oktober 2024, setidaknya 30 warga Palestina ditangkap, termasuk mantan tahanan. Penangkapan terjadi selama penggerebekan di berbagai wilayah, termasuk Jenin, Betlehem, Nablus, Qalqilya, dan Ramallah.
Menurut data yang dilaporkan oleh Masyarakat Tahanan Palestina, lebih dari 11.200 warga Palestina telah ditahan di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur sejak 7 Oktober 2023.
Israel Hadapi Tuntutan di Mahkamah Internasional
Israel kini menghadapi tuntutan di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida terkait tindakannya di Gaza. Serangan yang ditargetkan pada warga sipil dan infrastruktur dasar telah memicu reaksi keras dari berbagai negara dan lembaga hak asasi manusia. Seruan untuk gencatan senjata oleh Dewan Keamanan PBB sejauh ini belum diindahkan oleh Israel, yang terus melanjutkan serangan dengan dukungan sekutu-sekutunya.
Penderitaan yang Tak Berujung
Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya konflik militer, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang mencerminkan penderitaan mendalam bagi warga Palestina. Kekejaman yang dilakukan oleh Israel, dengan dukungan dari negara-negara Barat, telah menciptakan bencana yang lebih dari sekadar kehancuran fisik. Ini adalah penghancuran sistematis terhadap kehidupan manusia dan martabat warga Palestina yang kini terperangkap dalam pengepungan tanpa jalan keluar.
Dengan lebih dari 42.200 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka, penderitaan rakyat Gaza terus berlangsung, sementara dunia internasional tetap bungkam di tengah tragedi yang semakin memburuk.
