Advertisement

Tersangka Pembunuh Remaja Penjual Gorengan Ditangkap, Ibu Korban Minta Pelaku Dihukum Mati

19 September 2024 23:12 WIB

thumbnail-article

Tangkapan layar - proses penangkapan tersangka pembunuh remaja penjual gorengan di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar. ANTARA/Aadiaat M. S. .

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

"Di hari terakhirnya, meski sedang sakit, Nia tetap berjualan gorengan untuk menolong kami. Padahal, waktu itu dia bilang perutnya sakit, kepalanya juga sakit. Tapi dia tetap memaksa berjualan."


Eli Marnina, ibu almarhumah Nia Kurnia Sari (18), remaja penjual gorengan yang ditemukan tewas terkubur beberapa waktu lalu di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat meminta tersangka pelaku Indra Septiarman (26 tahun) dihukum mati.

Indra ditangkap jajaran Kepolisian Resort Padang Pariaman di sebuah rumah warga di Nagari Kayu Tanam, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, sekitar pukul 15.00 WIB, Kamis (13/9/2024).

"Kami sekeluarga tidak terima dengan apa yang terjadi pada Nia. Saya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya, kalau bisa dihukum mati," ujar Eli dalam wawancara yang dikutip dari Nusantara TV, Kamis (19/9/2024).

Dalam kondisi tanpa baju dan hanya mengenakan celana pendek, Indra ditemukan bersembunyi di loteng rumah saat polisi datang menangkapnya. Masyarakat yang geram bahkan sempat menarik celana tersangka hingga hampir terlepas ketika ia dibawa turun oleh petugas.

Bagi Eli, penangkapan ini memberikan sedikit kelegaan. Namun rasa kehilangan yang mendalam tidak bisa begitu saja hilang. Nia, anak bungsu yang dikenal patuh dan rajin, adalah tulang punggung keluarga. Sehari-harinya, ia berjualan gorengan sambil tetap melanjutkan sekolah.

"Dia anak yang baik, sopan, patuh kepada orang tua, rajin beribadah, dan selalu membantu keluarga," kenang Eli dengan mata berkaca-kaca.

"Di hari terakhirnya, meski sedang sakit, Nia tetap berjualan gorengan untuk menolong kami. Padahal, waktu itu dia bilang perutnya sakit, kepalanya juga sakit. Tapi dia tetap memaksa berjualan."

Jumat itu adalah hari terakhir Eli melihat putri kesayangannya. Nia keluar rumah untuk berjualan seperti biasa, namun kali ini dalam kondisi kurang sehat.

"Saya sudah minta dia istirahat saja, tapi dia tetap berkeras ingin membantu," ucap Eli.

Tragisnya, hari itu menjadi hari terakhir Eli berinteraksi dengan Nia.

"Kami tidak pernah melihat tanda-tanda apa pun sebelumnya, tidak ada keluhan atau cerita dari Nia soal gangguan apa pun saat berjualan," ungkapnya. Hingga akhirnya, Nia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, terkubur tidak jauh dari lokasi jualannya.

Mengenai tersangka, Eli mengaku tidak mengenalnya sama sekali. Meski jarak rumah pelaku hanya sekitar dua kilometer dari rumahnya.

"Kami tidak pernah melihat atau mengenal dia. Kami tidak tahu dia siapa sampai peristiwa ini terjadi," jelasnya. Saat pertama kali mendengar bahwa Nia hilang, Eli merasa ada firasat buruk. "Rasanya sakit sekali, Bu. Kami cari terus, sampai akhirnya kami melapor ke polisi. Semua masyarakat juga ikut mencari Nia," ucapnya.

Kini, meski tersangka telah tertangkap, Eli masih merasakan ketidakadilan yang mendalam.

"Kami tidak akan tenang sampai pelaku dihukum mati. Hukum seberat-beratnya, kami ingin pelaku dihukum mati," tegas Eli.

Kronologi penangkapan pelaku

Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, mengonfirmasi penangkapan Indra. "Alhamdulillah, benar kami mengamankan dan menangkap tersangka yang selama ini kami cari," ujarnya dikutip Antara.

Indra Septiarman segera dibawa ke Polres Padang Pariaman untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna mengembangkan penyelidikan dan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. "Selanjutnya kami lakukan penyidikan. Kami kembangkan dulu," tambahnya.

Faisol juga membenarkan bahwa identitas tersangka yang ditangkap sesuai dengan data yang dimiliki oleh pihak kepolisian dan dikuatkan oleh keterangan saksi-saksi. Setelah penangkapan, video yang memperlihatkan momen penangkapan Indra beredar di media sosial dan menjadi perbincangan di kalangan warganet.

Dalam video tersebut, Indra terlihat ditangkap saat bersembunyi di loteng rumah warga, hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Masyarakat yang geram dengan perbuatannya sempat berusaha menarik celananya hingga hampir terlepas ketika polisi menurunkannya dari loteng.

Di sisi lain, kasus ini juga mendapat perhatian dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA, Ratna Susianawati, menggarisbawahi pentingnya edukasi seksual sejak dini sebagai upaya pencegahan kasus kekerasan seksual.

"Salah satu upaya untuk mengatasi kasus kekerasan seksual adalah dengan memperkuat edukasi seksual sejak dini, meningkatkan kesadaran hukum, dan menyediakan layanan dukungan psikologis dan perlindungan yang lebih baik bagi para korban," ujar Ratna Susianawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Ratna menegaskan bahwa langkah-langkah preventif ini harus diiringi dengan pengawasan yang ketat dan sanksi hukum yang tegas terhadap para pelaku kekerasan. Selain itu, dia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif di masyarakat. KPPPA juga mengajak masyarakat untuk berani melapor jika mengalami, melihat, atau mengetahui tindak kekerasan, baik terhadap perempuan maupun anak-anak, melalui hotline Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) di nomor 129 atau WhatsApp di 08-111-129-129.

"Jika masyarakat melihat tindak kekerasan yang menimpa perempuan dan anak, dapat melapor melalui hotline Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 atau WhatsApp 08-111-129-129. Terkait kasus ini, KPPPA akan mengawal hingga tuntas," kata Ratna Susianawati.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement