Tren Baju Shimmer Warnai Perayaan Lebaran Idulfitri 2024 dengan Kilauan Cahaya

11 April 2024 19:04 WIB

Narasi TV

Ilustrasi kain shimmer silk yang jadi tren fesyen Idulfitri 2024. (Sumber: Freepik/pvpproductions)

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Lebaran Idulfitri menjadi salah satu momen yang menarik dibahas bagi para fashion enthusiast di Indonesia. Pada Lebaran 2024 kali ini, baju bertema shimmer jadi tren yang mencuri perhatian.

Baju gamis shimmer yang memberikan kesan elegan dan mewah jadi pilihan banyak orang untuk berlebaran pada tahun ini.

Kesan elegan dan mewah tersebut umumnya didapatkan dari kain yang terbuat dari paduan benang rayon dan poliester.

Tak hanya itu, bahan glossy yang digunakan gamis shimmer juga memberikan efek bersih mengkilap, senada dengan hari Idulfitri yang menyimbolkan kesucian dan penghapusan dosa antar-manusia.

Lantas bagaimana sebenarnya asal-usul tren shimmer yang tengah menjadi primadona selama Lebaran tahun ini?

Tren baju shimmer

Nama shimmer yang disandingkan pada baju berciri khas berkilau ini diambil dari bahasa Inggris, shimmering, yang memiliki arti berkilau atau kemilau.

Nama tersebut digunakan karena kain yang digunakan pada model baju ini memberikan kesan kemilau ketika merefleksikan cahaya yang menyinarinya.

Kemilau baju gamis shimmer tersebut kemudian memberikan kesan mewah dan glamor pada setiap orang yang memakainya.

Umumnya, kesan kemilau yang didapat dari gamis shimmer dengan warna cerah seperti dusty pink, krem, biru muda, nudes, atau mauve demi memaksimalkan kesan mewah dan glamor.

Tak hanya bermodel gamis, pada momen Idulfitri 2024 kali ini, baju shimmer banyak ditemui dalam berbagai model atasan yang dipadupadankan dengan celana bahan atau celana kulot berwarna netral.

Akan tetapi, kain yang digunakan pada baju shimmer cenderung gerah ketika digunakan karena bukan jenis kain yang dapat menyerap keringat dengan baik.

Mengenal sejarah baju shimmer

Gamis shimmer yang jadi tren Idulfitri kali ini berakar pada gaya busana dengan kain sutra yang sudah lama dikenal elegan dan mewah.

Kain sutra yang memberikan kesan shimmering ketika terkena cahaya merupakan salah satu daya tarik dari kain yang diperdagangkan sejak berabad-abad sebelum masehi tersebut.

Sejarah awal mula penggunaan sutra dalam dunia fesyen berkelindan antara fakta dan legenda. Namun, sejarah umum yang disepakati, penggunaan kain sutra pertama dilakukan oleh kebudayaan Yangshao di China yang berkembang pada 5000 SM hingga 3000 SM.

Sejak awal penggunaannya, kain sutra telah menjadi barang yang mahal, mengingat proses pembuatannya yang tak sederhana. Kondisi tersebut juga ditopang dengan kebijakan China untuk merahasiakan proses produksi sutra selama berabad-abad.

Dengan kondisi semacam itu, kain sutra menjadi begitu langka dan eksklusif untuk dimiliki setiap orang. Bahkan ketika Jalur Sutra dibuka pada 114 SM, kain sutra tetap menjadi monopoli kekaisaran China.

Dengan kecantikan kain sutra dan kebijakan yang membuatnya eksklusif, sutra kemudian menjadi barang mewah penanda status sosial dan kekuasaan. Pada masa-masa kekaisaran Persia dan Romawi Kuno, kain ini menjadi bahan pakaian para raja dan kaisar.

Penggunaan kain sutra untuk fesyen juga berkembang di kebudayaan Arab dan India, menjadi bahan dasar pakaian-pakaian bermodel longgar seperti gamis yang dapat ditemui hari ini.

Dalam sejarah fesyen modern, kesan berkilau pada pakaian mendapat tempat yang hangat di hati para trendsetter dunia.

Tak hanya karena kilau erat kaitannya dengan barang mewah seperti emas dan mutiara, para trendsetter menggunakan kilauan cahaya sebagai cara menampilkan pemikiran mereka.

Seperti yang dilakukan penyanyi David Bowie di era 1970-an, yang kerap mengenakan busana dengan kesan shimmer. Oleh Bowie, penggunaan baju berkilau dijadikan sarana menantang norma gender tradisional dan menciptakan daya tarik dunia baru.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR