Hayo ngaku, siapa di sini yang sering menulis atau mengucap Masya Allah Tabarakallah? Tak sedikit yang mengatakan bahwa ucapan itu sebagai upaya untuk terhindar dari penyakit ain. Apa benar begitu tujuannya? Sudah tepatkah tempat penggunaannya? Kita bahas satu per satu, dimulai dari Masya Allah.
Menurut Quraish Shihab, kata Masya Allah terdiri dari kata ‘ma’, ‘sya’, dan ‘Allah’. Jika diartikan, ‘ma’ berarti apa, ‘sya’ berarti yang dikehendaki, sehingga kata Masya Allah berarti apa yang dikehendaki Allah SWT.
Tentu kita menyadari hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti terjadinya siang dan malam, hujan dan panas, datangnya rezeki maupun musibah, dan sebagainya, itu semua merupakan kehendak Allah. Bahkan rencana, tujuan, bahkan pencapaian yang kamu kejar, itu semua adalah kehendak Allah. “Hidup seorang muslim itu selalu dikaitkan dengan Allah, apa pun selalu dikaitkan dengan Allah,” ucap Quraish Shihab.
Maka dari itu, penting bagi kita sebagai umat muslim untuk memanjatkan kalimat-kalimat indah atas segala hal baik yang terjadi di diri maupun di sekeliling kita, salah satunya lewat kata Masya Allah. Kata Masya Allah tepatnya diucapkan saat seseorang mendapat pujian dari orang lain, memperoleh kabar baik, melihat hal yang indah-indah, dan masih banyak lagi kondisi-kondisi baik lainnya.
Dengan mengucap Masya Allah, kita sebenarnya telah mengakui dan bersaksi bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah anugerah dari Allah SWT sekaligus sebagai bukti bahwa kita selalu mengingat Tuhan. Hal ini tentu bertujuan agar diri kita terhindar dari rasa iri, dengki, sombong yang dapat menyebabkan penyakit ain pada dalam diri.
Setuju tidak bahwa seringkali kita melihat orang-orang di sekeliling kita (biasanya di media sosial) kerap mengunggah barang mewah, koleksi pribadi maupun anak-anaknya yang lucu dan sebagainya, lalu ditambahkan stiker bertuliskan ‘Masya Allah Tabarakallah’? Ternyata, hal itu memang diperbolehkan oleh Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan yang diperoleh. Malah, yang tidak boleh justru apabila seseorang tidak mengingat Tuhan saat memperoleh kenikmatan.
“Tuhan senang, Anda memperlihatkan anugerah Tuhan kepada Anda.” ujar Quraish Shihab. Intinya, selagi niat kamu sebagai rasa syukur, maka Allah memperbolehkan. Sebaliknya, jika untuk kesombongan maka Allah melarang. Nah selain kesombongan, penggunaan kata MasyaAllah juga kurang tepat digunakan apabila dalam kondisi yang tidak menyenangkan seperti kedukaan, musibah dan kondisi buruk lainnya. Sehingga, hati-hati jangan sampai salah ucap ya, guys!
Nah, kita juga kerap bingung nih dalam pemilihan kata Masya Allah dengan Subhanallah di kehidupan sehari-hari. Jadi yang perlu digarisbawahi ialah kata Subhanallah dapat diucapkan saat melihat kekaguman yang luar biasa serta untuk menangkal sesuatu yang tidak benar. Sedangkan kata Masya Allah digunakan untuk kesyukuran atas nikmat Allah, pengakuan atas anugerah dari Allah serta sebagai penangkal iri hati.
Mulai hari ini, jangan keliru lagi ya dalam penempatan kata Masya Allah di kehidupan sehari-hari. Simak terus ulasan mengenai kosakata dalam keagamaan bersama Shihab & Shihab di waktu jelang berbuka puasa yang tayang setiap hari di Indosiar dan Video.
Selamat berpuasa dan semangat terus dalam belajar agama…
View this post on Instagram
