Delapan Tahun di Penjara Arab Saudi

Lepas dari hukuman pancung di Arab Saudi, Satinah menceritakan pengalamannya 8 tahun dipenjara.

"Saya tertekan, saya dipaksa mengakui memiliki hubungan dengan sopir si majikan,"

Saya juga kerja di penjara supaya ada pemasukan untuk anak saya. Menyapu, mengantarkan makanan, saya bisa menjahit saya buat tas. Saya dibolehkan bekerja di penjara."

"Saya titipkan uang dan emas untuk anak saya kepada teman yang mau pulang ke Indonesia, tapi emasnya tidak pernah sampai. Mungkin itu bukan rejeki saya," ujar Satinah

Uang diyat dibayarkan oleh pemerintah dan sumbangan hingga terkumpul rp 21 miliar. "Saya bersyukur saya bisa selamat," kata Satinah.

"178 WNI terancam hukuman mati di luar negeri," ungkap Wahyu Susilo Direktur Eksekutif Migrant Care.

"Pemerintah harus cermat mendalami perjalanan kasusnya. Supaya pemerintah tidak keliru mengambil langkah," tegas Wahyu.

Menutup Mata Najwa "Gadai Nyawa di Negeri Orang" inilah Catatan Najwa

Yang terindah ialah kerja di tanah sendiri, dekat dengan tanah kelahiran dan handai taulan. Tak dihisap sunyi senyap tanah asing, apalagi ditindas sampai menjengking. Namun hidup sering tak memberi pilihan, tumpah darah kerap gagal penuhi harapan. Terpaksa jauh merantau demi masa depan, menyambung nasib untuk keluarga di kampung halaman. Dengan bekal yang seringkali pas-pasan, mengambil risiko pergi ke negeri seberang. Triliunan devisa datang dari keringat TKI, memberi makan dan penghidupan jutaan famili.   Mereka bukanlah warga kelas dua, bukan pula budak untuk disiksa. Jika negara belum mensejahterakan negeri sendiri, tolong lindungi pekerja migran dengan sepenuh hati.

Semoga tak ada lagi nyawa pekerja kita yang tersia-sia, jangan sampai keluarganya bertanya: di manakah negara?

KOMENTAR

SELANJUTNYA

TERPOPULER